Pengguna Ponsel di Indonesia Bakal Mencapai 89 Persen Populasi pada 2025

Pengguna Ponsel di Indonesia Bakal Mencapai 89 Persen Populasi pada 2025
info gambar utama

Kawan GNFI, tak bisa dimungkiri bahwa saat ini ponsel sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kebanyakan. Bahkan mereka lebih risau jika ketinggalan ponsel ketimbang ketinggalan dompet dalam aktivitas hariannya.

Secara umum, ponsel sudah mengalami pergeseran nilai dari sebuah benda mewah dan mahal, kini menjadi sesuatu yang lazim dimiliki masyarakat. Jika dulu hanya orang-orang berkantong tebal yang bisa memiliki ponsel, kini semua lapisan masyarakat pun nampaknya sudah memilikinya. Hal tersebut tak lepas dari fungsi ponsel sebagai penunjang pekerjaan, sumber informasi, sumber usaha, hingga alat interaksi sosial.

Soal kepemilikan ponsel di Indonesia, Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI) memproyeksikan bahwa produksi ponsel dalam negeri akan meningkat singnifikan dari tahun ke tahun seiring dengan jumlahnya permintaan pasar. Hal tersebut terlihat dari diluncurkannya produk-produk baru saban bulannya, meski dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.

Mengutip data terbitan Katadata, penggunaan ponsel di Indonesia diprediksi akan terus meningkat. Dalam catatan mereka, pengguna ponsel pada 2015 hanya terdapat 28,6 persen atau digunakan 73,9 juta orang dari 258,4 juta penduduk di Indonesia.

Kemudian pada 2018 ada sedikit peningkatan, yakni lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 267,7 juta, atau setara dengan 150,4 juta penduduk (56,2 persen) telah menggunakan perangkat komunikasi genggam ini.

Setahun setelahnya, ada sekitar 170,6 juta masyarakat--dari total keseluruhan 269,6 juta penduduk Indonesia--sudah menggunakan ponsel pintar. Ini artinya, sekitar 63,3 persen penduduk Indonesia menjadikan ponsel sebagai sebuah perangkat primer.

Prediksinya, hingga tahun 2025 setidaknya bakal ada 89,2 persen populasi penduduk di Indonesia yang akan memanfaatkan beragam fitur di ponsel pintar. Angka itu merujuk pada prediksi dalam kurun waktu enam tahun (2019-2025) terkait penetrasi pasar ponsel di tanah air yang bakal tumbuh 25,9 persen.

Memang, tak bisa dimungkiri juga jika saat ini tiap orang memiliki lebih dari satu ponsel. Tentunya hal itu untuk berbagai kegunaan, misalnya satu ponsel khusus untuk gaming, satu ponsel untuk kepentingan pribadi, dan satu ponsel hanya untuk urusan pekerjaan.

Infografik penggunaan smarthphone di Indonesia | Katadata.co.id
info gambar

Pertumbuhan tadi boleh jadi juga karena beberapa faktor, salah satunya karena harga ponsel pintar yang makin terjangkau dan dibekali fitur pendukung aktivitas keseharian. Hal lainnya bisa pula dampak dari kebutuhan pekerjaan, sarana belajar di kampus maupun sekolah, interaksi media sosial, serta inovasi teknologi ponsel yang terus berkembang tanpa batas.

Sementara bagi sebagian vendor, tiap tahun produk yang mereka luncurkan juga harus memiliki teknologi terbarukan. Sebut saja pengembangan kecerdasan buatan (AI), kinerja prosesor, kemampuan kamera ponsel, teknologi layar, serta tentunya desain yang semakin elegan.

Belum lagi soal berkembangnya jaringan yang terus diupayakan operator seluler, yang dimulai dari jaringan EDGE, HSPA, HSDPA, 3G, 4G, VoLTE, hingga 5G yang kini sedang dipersiapkan. Artinya, kesejatian kepemilikan ponsel bakal terus mengikuti perkembangan tenologi serta jaringan pendukung.

RAM besar lebih penting ketimbang kemampuan kamera

Melalui data yang dihimpun Telunjuk.com, yang merupakan portal layanan rekomendasi dan perbandingan harga belanja daring. Ada analisa yang dilakukan soal pembelian ponsel di tiga situs belanja online, seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak. Analisa itu menyebut bahwa rerata pembeli ponsel lebih mengutamakan ketersediaan RAM besar, ketimbang kemampuan kamera.

Dalam CNN Indonesia ditulis bahwa RAM besar pada ponsel akan berdampak meningkatkan performa ponsel. RAM atau Random Access Memory memang berfungsi sebagai penyimpan data aplikasi yang sedang dijalankan. Semakin banyak aplikasi yang dijalankan, akan lebih baik ponsel memiliki RAM yang besar.

Kebutuhan RAM besar memang krusial, karena saat ini aplikasi berbasis percakapan (chat), hiburan, maupun komunikasi virtual, banyak sekali terdapat pada layanan toko aplikasi (play store) yang tentunya menarik untuk diunduh. Belum lagi soal pembaruan (update) apliksi dan sistem operasi (OS) yang terus berjalan saban, pekan, bulan, maupun tahun. Hal itu tentunya membutuhkan volume RAM yang cukup lega.

Saat ini, berdasarkan data itu, penjualan ponsel dengan kapasitas RAM 2-4 GB menurun 53,19 persen pada Maret 2020, jika dibandingkan bulan sebelumnya. Sebaliknya, ketertarikan atas ponsel dengan ketersediaan RAM 6-8 GB meningkat signifikan pada April.

Arya Ospara, Head of User Engagement and User Acquisition Telunjuk.com, memperkirakan makin larisnya ponsel dengan RAM 6 GB lantaran kian terjangkaunya banderol ponsel dengan ketersediaan RAM tersebut.

"Kini juga dapat ditemukan di kelas mid-end dengan kisaran harga Rp2 juta sampai Rp5 juta untuk menjawab kebutuhan berbagai lapisan masyarakat di situasi seperti sekarang,'' ungkapnya.

Jadi tak heran dengan prediksi bahwa tahun 2025 akan menjadi salah satu periode dengan tingginya peminat ponsel pintar di Indonesia, ketimbang pada tahun-tahun sebelumnya.

Tak sebanding dengan kecepatan internet

Tapi ada hal yang patut disayangkan, yakni meski prediksi pengguna ponsel pada 2025 bakal meningkat, namun nyatanya kecepatan koneksi internet di Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Sehingga dengan adanya prediksi ini, pemerintah dan operator seluler di Indonesia perlu kiranya mempersiapkan dan meningkatkan kecepatan internet, guna menyeimbangkan peningkatan jumlah pemilik ponsel.

Infografik kecepatan internet di Indonesia | Katadata.co.id
info gambar

Koneksi internet di Indonesia melalui riset Speedtest Global Index seperti terangkum dalam Katadata, tercatat berada pada posisi ke-115 dari 140 negara dunia dengan rata-rata kecepatan mengunduh (download) pada jaringan seluler sebesar 17,03 mbps.

Lalu jika dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara, Indonesia hanya ada diperingkat ke-8, unggul setapak dari Filipina. Sementara merujuk negara yang memiliki kecepatan mengunduh pada jaringan seluler tertinggi di Asia Tenggara, Singapura adalah yang terbaik dengan catatan 58,44 mbps, Thailand (34,08 mbps), dan Vietnam (33,61 mbps).

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AJ
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini