Malahayati, Memimpin Ribuan Janda Saat Menumpas Belanda di Selat Malaka

Malahayati, Memimpin Ribuan Janda Saat Menumpas Belanda di Selat Malaka
info gambar utama

Provinsi di ujung barat Indonesia ini telah melahirkan banyak pejuang tangguh yang tercatat dalam riwayat panjang bangsa. Tak hanya dari kalangan pria, tetapi juga perempuan.

Dalam sejarahnya, sejumlah perempuan Aceh mempunyai peran besar ketika melawan bangsa asing seperti Portugis dan Belanda. Mereka ada yang bergelar Sultanah (perempuan kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), Uleebalang (kepala kenegerian), bahkan Laksamana (panglima angkatan laut). Dengan jabatan yang disandangnya, kaum hawa dari tanah rencong memperlihatkan eksistensinya dengan mempertahankan hak kedaulatan Aceh dari keserakahan kaum imperialis.

Mungkin Kawan GNFI sudah sering mendengar nama pemimpin pasukan gerilya Cut Nyak Dhien, atau mungkin Cut Nyak Meutia. Keduanya sama-sama dari Aceh dan berjuang melawan Belanda pada abad ke-19. Baik Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia merupakan jawaban yang biasa didengar ketika kita menjawab pertanyaan "siapa pahlawan perempuan dari Aceh?".

Namun, jauh sebelum keduanya lahir, pejuang perempuan sudah ada di Aceh. Malahayati, itulah namanya. Berbekal keberanian sang perempuan laut, ia memimpin para perempuan janda Aceh ketika memerangi Portugis. Keberaniannya tak sampai di situ saja. Nama laksamana perempuan ini kian masyur setelah berhasil menghunuskan senjatanya ke pelaut terkenal Belanda, Cornelis de Houtman.

Mengikuti Jejak Pendahulu

Malahayati dilahirkan dengan nama Keumalahayati. Keumala dalam bahasa Aceh itu sama dengan kemala yang berarti sebuah batu yang indah dan bercahaya, banyak kasiatnya, dan mengandung kesaktian. Tidak jelas tanggal dan bulan apa ia dilahirkan, tetapi beberapa sumber menyebutkan Malahayati lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-15 dan ke-16 (sejumlah sumber menyebutkan tepatnya pada tahun 1550).

Malahayati dipercaya dari garis keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Mahmud Syahdan dan kakeknya Muhammad Said Syah pernah menjadi laksamana angkatan laut. Dari pendahulunya itulah ia menjadi akrab dengan dunia bahari yang kemudian menjadi cita-citanya.

Seperti kata pepatah, "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Keinginan Malahayati menjadi pelaut semakin kuat menginjak usia remaja. Berangkat dari cita-citanya itu ia pun masuk akademi militer Kerajaan Aceh Darussalam, Mahad Baitul Makdis. Saat itu akademi militer tersebut mengimpor langsung instruktur dari Turki.

Setelah menempuh pendidikan agama di Meunasah, RanAkang dan Dayah, Malahayati menjadi calon taruna di Mahad Baitul Makdis. Berkat kecerdasan dan ketangkasannya, ia diterima sebagai siswi taruna akdemi militer tersebut. Prestasi dan pamor ia gapai, sehingga banyak pemuda jatuh hati padanya. Namun, di antara banyak taruna laki-laki yang jatuh hati padanya, ia lebih mementingkan pendidikannya terlebih dahulu.

Hanya saja gelombang cinta tidak bisa dipendam Malahayati lama-lama. Ia akhirnya jatuh hati pada seniornya di Mahad Baitul Makdis. Pria itu bernama Zainal Abidin yang kelak juga menjadi laksamana. Keduanya menikah dan menjadi perwira tinggi di angkatan laut Aceh. Kelak keduanya bertempur bersama-sama melawan armada Portugis.

Pasukan Janda Muda Inong Balee

Usai lulus akademi militer Baitul Makdis di Aceh dan memiliki prestasi pendidikan yang sangat memuaskan, Malahayati memperoleh kehormatan dan kepercayaan dari sultan Kesultanan Aceh ke-10, Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil (1589- 1604). Ia diangkat menjadi Komandan Protokol lstana Darud-Dunia dari Kerajaan Aceh Darussalam. Ia menggantikan suaminya yang gugur saat menghadapi Portugis di Teluk Haru, perairan Malaka.

Sultan Alauddin juga memberi Malahayati kepercayaan untuk menduduki pucuk pimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan dengan pangkat laksamana, jabatan yang pernah pula diemban oleh ayah juga kakeknya. Menurut Endang Moerdopo dalam Perempuan Keumala, Malahayati disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di Nusantara, bahkan mungkin di dunia.

Pihak Aceh kehilangan pasukan dalam perang Teluk Haru. Sebanyak 1.000 prajurit gugur, juga dua orang laksamana yang salah satunya ialah suami Malahayati yang saat itu menjabat sebagai komandan protokol istana

Untuk melaksanakan niatnya menuntut balas, ia mengajukan permohonan kepada Sultan Al Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang prajurit-prajuritnya janda dari para prajurit pria yang gugur dalam pertempuran Teluk Haru. Dengan senang hati Sultan mengabulkan permohonannya.

Infografik Malahayati.
info gambar

Malahayati pun diserahi tugas sebagai panglima armada dan diangkat menjadi laksamana. Armada yang baru dibentuk tersebut diberi nama Armada Inong Bale (armada perempuan janda) dengan mengambil Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya, atau nama lengkapnya Teluk Lamreh Krueng Raya.

Di sekitar Teluk Krueng Raya itulah Laksamana Keumalahayati membangun benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan yang tingginya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Tembok yang menghadap laut lebarnya 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu Teluk.

Benteng yang dalam istilah Aceh disebut Kuta Inong Balee (Benteng Perempuan Janda) tersebut hingga sekarang masih dapat kita saksikan di Teluk Krueng Raya, dekat Pelabuhan Malahayati.

Armada Inong Balee ketika dibentuk hanya berkekuatan 1.000 orang janda muda yang suaminya gugur di medan perang laut Haru. Oleh Laksamana Keumalahayati jumlahnya diperbesar lagi menjadi 2.000 orang. Tambahan personil ini bukan lagi janda-janda, tetapi para gadis remaja yang ingin bergabung dengan pasukan Inong Balee yang dipimpin langsung olehnya.

John Davis, seorang berkebangsaan Inggris yang menjadi nahkoda pada sebuah kapal Belanda yang mengunjungi Kesultanan Aceh sekitar abad ke-16 menjelaskan apa yang ia lihat pada saat itu. Ia menyebutkan bahwa Kesultanan Aceh pada masa itu memiliki perlengkapan armada laut yang terdiri dari 100 buah kapal dayung raksasa (galley), di antaranya ada yang berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang. Selain itu ia juga menerangkan bahwa yang menjadi pemimpin pasukan tersebut adalah seorang perempuan berpangkat laksamana yang kemungkinan besar ialah Malahayati.

Menumpas Cornelis de Houtman, Sang Perintis Jalur ke Nusantara

Cornelis de Houtman tidaklah asing bagi sebagian orang Indonesia. Ia adalah pelaut Belanda yang merintis penjelajahan dari Negeri Kincir Angin ke wilayah Nusantara. Pada 27 Juni 1596, untuk pertama kalinya empat kapal yang dibawanya berlabuh di Kesultanan Banten.

Di mata Cornelis, Nusantara menjadi peti harta karun yang berharga. Namun, malang baginya, ia tidak menyangka bahwa di wilayah Nusantara inilah ia menemui ajalnya di tangan Laksamana Malahayati.

Pada 1599, komandan ekspedisi Belanda, Cornelis de Houtman, tiba di pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka awalnya disambut baik oleh Sultan dengan upacara kebesaran dan perjamuan. Diharapkan akan dapat dibangun kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan. Namun, setelah itu timbul ketegangan dan konflik, timbul peperangan melawan Belanda pada September 1599.

Cornelis de Houtman.
info gambar

Malahayati yang memimpin pasukan Inong Balee menyambut tantangan Belanda. Puncaknya terjadi pada 11 September 1599, dengan rencongnya ia menikam Cornelis yang bersenjatakan pedang hingga tewas dalam pertarungan satu lawan satu di atas dek kapal. Marie van C. Zeggelen dalam bukunya yang berjudul Oude Glorie menuliskan sebagai berikut:

''Aan board van de 'Leeuw' waren Cornelis Houtman en de zijnen omgebracht. Frederik Houtman, door Hajati zelf en den geheimschrijver aangevallen, werd als gevangene aan land gebracht. Davis en Tomkins, beiden gewond, bleven op het gehavende schip met de vele dooden en gewonden en des middags hakten zij den kabel en voeren af."

Yang berarti:
"Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis Houtman dan anak buahnya Frederik Houtman, oleh Hayati sendiri dan penulis rahasia diserang, kemudian sebagai tawanan dibawa ke darat. Davis dan Tomkins, keduanya terluka, tinggal di kapal bersama mereka yang mati dan terluka. Dan pada tengah hari kabel pengikat kapal diputuskan dan mereka pun pergi berlayar."

Dalam pertempuran tersebut, adik Cornelis, Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Frederick mendekam dalam tahanan Kesultanan Aceh selama 2 tahun.

Si Jago Runding

Malahayati bukan hanya sebagai seorang laksamana dan Panglima Armada Angkatan Laut Kesultanan Aceh dan Komandan Pasukan Perempuan Pengawal Istana. Lebih dari itu ia juga seorang diplomat dan juru runding yang andal.

Hal ini telah dibuktikan ketika Malahayati melakukan perundingan damai mewakili Sultan Aceh dengan pihak Belanda. Perundingan itu adalah upaya Belanda untuk melepaskan Frederick de Houtman yang ditangkap olehnya. Perdamaian itu terwujud. Frederick de Houtman dilepaskan, tetapi Belanda harus membayar ganti rugi kepada Kesultanan Aceh.

Selain Belanda, lnggris juga berhadapan dengan Malahayati di meja runding. Inggris kala itu bermaksud menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh. Untuk itu Ratu Elizabeth I (1558-1603) mengirim utusan ke Kesultanan Aceh, seorang perwira dari Angkatan Laut, James Lancaster, pada 6 Juni 1602.

Sebelum bertemu dengan Sultan, Lancaster terlebih dahulu mengadakan perundingan dengan Laksamana Malahayati. Pembicaraan itu dilakukan dengan bahasa Arab. Lancaster dapat mengerti bahasa itu karena ia membawa serta seorang Yahudi dari Inggris sebagai penerjemah dari bahasa Arab ke bahasa lnggris.

Tokoh Ratusan Tahun Lalu yang Terus Dikenang

Malahayati mengisi daftar pahlawan nasional Indonesia sejak 2017. Hingga 2019, nama Malahayati ada di posisi puncak bila kita mengurutkan pada tanggal kelahiran para tokoh pahlawan nasional.

Meskipun menjadi tokoh pahlawan paling tua dan sayangnya terhitung baru didaulat sebagai pahlawan nasional, nama Malahayati tetap dikenang banyak orang terutama bagi rakyat Aceh. Hal itu bisa dilihat dari makamnya yang dipugar pemerintah Provinsi Aceh.

Mengenai kapan kematian Laksamana Malahayati tidak dapat diketahui dengan pasti lantaran minimnya petunjuk terkait hal tersebut. Sejumlah sumber menyebut ia gugur dalam pertempuran melawan Portugis pimpinan Alfonso De Castro saat mempertahankan Teluk Krueng Raya.

Makam Laksamana Malahayati.
info gambar

Makam Malahayati terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dari Kota Banda Aceh, kita mesti menempuh perjalanan sekitar 32 kilometer atau 1 sampai 2 jam perjalanan, baik menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Sesampainya di kompleks makam, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki mendaki bukit sepanjang 1 kilometer. Makam Laksamana Malahyati berada di puncak bukit dan dari sini kita bisa melihat pemandangan indah pegunungan Bukit Barisan dan Teluk Krueng Raya.

Tidak hanya makam yang menjadi memento untuk mengingat perjuangan Malahayati. Terdapat kapal perang TNI Angkatan Laut yang dibuat di Belanda pada 1980 yang memakai namanya. Selain kapal, juga terdapat Universitas Malahayati di Kota Bandar Lampung.

Mengingat perjuangan Malahayati yang epik, pada 2017, pihak TNI berkeinginan menggarap film tentangnya. Pihak Pemprov Aceh menyambut baik, walau sayangnya sampai pada 2020 rencana itu belum terlaksana.

---

Referensi: Acehprov.go.id | NRC Handelsblad | Solichin Salam, "Malahayati Srikandi dari Aceh" | Endang Moerdopo, "Perempuan Keumala" | Reni Nuryanti, "Di Kala Pagi"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini