Melestarikan Sang Burung Ajaib di Jantung Wallacea

Melestarikan Sang Burung Ajaib di Jantung Wallacea
info gambar utama

“Maleo ini, baru lihat saja kita sudah jatuh cinta. Satwa kharismatik.”

Pernyataan itu diungkapkan Hanom Bashari yang bekerja di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone [TNBNW] melalui program Peningkatan Sistem Kawasan Konservasi di Sulawesi atau Enhancing the Protected Area System in Sulawesi [E-PASS].

Hanom menjelaskan, siklus kehidupan burung maleo [Macrocephalon maleo] yang unik, cantik, endemik, namun rentan. Di kawasan TNBNW, terdapat 6 lokasi peneluran aktif sementara di luar kawasan ada 4 tempat. Dari total 47 lokasi peneluran yang dulunya tercatat, kini hanya tersisa 10 lokasi. Sementara di jalur pantai Gorontalo dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, hampir semua lokasi peneluran maleo di pantai sudah tidak aktif.

Maleo, burung khas Sulawesi. Foto: Dok. E-PASS/TNBNW
info gambar

“Penyebabnya bisa karena perubahan habitat menjadi perkebunan, permukiman, lokasi wisata, dan pemandian air panas. Bahkan, ada salah satu kantor bupati yang dulunya sarang maleo bertelur,” ungkapnya.

Idealnya, kata Hanom, melindungi maleo harus dilakukan dengan skala lanskap. Maleo merupakan satwa payung, melindungi maleo berarti melindungi satwa lain. Lanskap maleo itu dari tengah hutan sampai pantai dan cakupannya lebih luas dari hewan apapun di Sulawesi.

Untuk itu, yang harus dilakukan adalah menghentikan perburuan maleo dewasa dan pengambilan telur. Bukan itu saja, lokasi peneluran harus dijaga dan hutan tersisa harus dipertahankan, sekaligus memulihkan area koridor.

Kenapa maleo bisa dikatakan sebagai jantung Wallacea? Hanom mengatakan, maleo merupakan family dari Megapodiidae, satwa khas Wallacea dan Australasia. Maleo adalah 1 dari 14 jenis megapoda yang ada di Indonesia, sementara di dunia ada 21 jenis. Di kawasan Wallacea, maleo merupakan jenis megapoda terbesar baik untuk ukuran tubuh dan telurnya. Keberhasilan konservasi maleo di Sulawesi dapat menjadi contoh konservasi megapoda di lokasi lain.

“Dengan melestarikan maleo, hutan akan terjaga.”

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone [TNBNW] yang terletak di Gorontalo dan Sulawesi Utara, disebut sebagai habitat terbaik maleo di dunia. Secara global maleo berstatus Genting [Endangered] akibat berkurangnya habitat dan perburuan. Diperlukan dukungan semua pihak dalam upaya pelestarian satwa kharismatik Sulawesi ini.

Supriyanto, Kepala Balai TNBNW, menjelaskan strategi konservasi maleo di TNBNW. Di lokasi ini, pengelolaannya dengan membangun tiga lokasi sanctuary, yaitu sanctuary Tambun dan Muara Pusian di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, serta sanctuary Hungayono di Gorontalo.

“Tiga lokasi ini sudah dibangun sarana dan prasarana seperti kandang habituasi, hatchery, pusat informasi, jalur pengamatan, hingga menara dan gubuk pengintaian,” ujarnya.

Sejak 2001 hingga April 2020, tercatat ada 21.344 chick atau anakan maleo yang dilepasliarkan ke alam, hasil penetasan semi alami di empat lokasi utama peneluran di TNBNW. Dalam kurun waktu yang sama dan lokasi yang sama juga, terdapat 38.944 telur diselamatkan untuk kemudian dipindahkan ke bak penetasan semi alaminya.

Maleo merupakan logo dan maskot TNBNW. Selain menjadi satwa prioritas nasional untuk dilestarikan, maleo berpotensi besar dalam pengembangan wisata di kawasan TNBNW. Selain itu, masyarakat dan kehidupannya adalah bagian dari harmoni pengembangan dan pengelolaan taman nasional agar memberikan manfaat luas bagi area sekitarnya.

Herman Teguh, dari WCS (Wildlife Conservation Society) Indonesia Program-Sulawesi, menambahkan bahwa maleo terancam karena hutan sebagai habitatnya mulai menyusut dan terfragmentasi sementara nesting ground-nya atau lokasi peneluran rusak akibat permukiman, perkebunan, dan juga pembangunan jalan. Di lanskap TNBNW katanya, nesting ground masih terjaga, sementara di luar kawasan sangat berisiko.

Nesting ground pantai itu yang paling terancam. Sebelumnya, antara Gorontalo dan Tutuyan [Bolaang Mongondow Timur] terdapat 9 nesting ground. Sekarang tinggal dua lokasi,” ucapnya.

Telur maleo yang ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa. Foto: Hanom Bashari
info gambar

Sebelumnya, Abdul Haris Mustari, staf pengajar pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, menjelaskan ekologi Sulawesi masa lampau. Sulawesi menurutnya adalah pulau yang proses pembentukan dan sejarah geologinya paling rumit di dunia. Bentuknya unik, ada yang mengatakan seperti huruf K, dan ada juga yang menggambarkan seperti sarang laba-laba.

“Sejak lebih 1-2 juta tahun lalu, Sulawesi sudah tidak terhubung dengan pulau lain, seperti Kalimantan di barat dan Kepulauan Maluku di timur,” katanya.

Keunikan dan kerumitan pembentukan geologinya, ikut berdampak terhadap keunikan dan kerumitan proses evolusi dan biodiversitas Sulawesi. Apabila kita berbicara daratan Sulawesi, ungkap Haris, yang paling tua umur geologinya adalah di bagian tengah.

Ia menjelaskan juga evolusi atau spesiasi dan biodiversitas Sulawesi, megafauna teresterial endemik, seperti anoa, babirusa, babi hutan sulawesi, yang akar evolusinya bermula di bagian Tengah [Tengah-Barat, Tengah-Tengah, Tengah-Timur] Sulawesi.

Telur maleo ini diselamatkan dari perburuan, untuk selanjutnya dibawa ke penangkaran untuk ditetaskan. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia
info gambar

Demikian pula jenis-jenis primata Sulawesi; monyet hitam sulawesi [Macaca spp] yang berjumlah 8 spesies, dan tarsius [Tarsius spp] sebanyak 11 spesies, yang akar evolusinya dari bagian tengah Sulawesi. Spesies tersebut mengalami evolusi dan spesiasi allopatrik/adaptive radiation, yaitu jenis yang berasal dari leluhur yang sama, kemudian terjadi penyebaran populasi.

“Populasi yang baru mengalami isolasi geografi dan isolasi genetik; yang pada akhirnya menjadi beberapa spesies berbeda dengan spesies leluhurnya,” jelas Haris.

Pembicara lain adalah Jihad dari Burung Indonesia yang bercerita tentang Pulau Sulawesi sebagai pusat keanekaragaman jenis burung di Wallacea. Ada juga Muhammad Andre Rofiansyah Harahap dari Lawalata IPB, ketua tim Ekspedisi Sayap Bonawa yang melakukan penelitian maleo di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada 2018.

Maleo disebut macrocephalon atau si kepala besar. Bentuk kepala maleo berbentuk agak aneh, seperti memakai konde, jika dibandingkan dengan burung lainnya. Foto: Ridzki R. Sigit/Mongabay Indonesia
info gambar

Salah satu lokasi peneluran maleo yang dikunjungi tim adalah Pilomanua. Tempat ini terakhir didatangi, kata Andre, tahun 2002. Jaraknya sekitar 8 jam jalan kaki dari Desa Pinogu, yang merupakan desa enclave di taman nasional. Saat disambangi, lokasi tersebut masih aktif, banyak ditemukan lubang bertelur maleo. Hal itu bisa dilihat dari sumber air panasnya yang masih ada.

“Lokasinya sekitar 300 meter dari Pilomanua, dipisahkan sungai. Setelah audiensi hasil dengan Balai TNBNW dan instansi terkait, disepakati lokasi baru ini dinamakan Lokasi Peneluran Lawalata,” paparnya.

Burung Ajaib

Menyebut nama maleo senkawor (Macrocephalon maleo) sama halnya membicarakan “keajaiban”. Burung endemis/khas Sulawesi ini memiliki telur seukuran telapak tangan orang dewasa. Uniknya, telur tersebut ketika menetas, bukan karena eraman induknya, melainkan dengan bantuan panas alam. Telur menetas dalam timbunan pasir yang selanjutnya, sang piyik (nama anakan maleo), dua hari menggali pasir tersebut untuk naik ke permukaan. Selanjutnya, melompat dan menghadapi kerasnya kehidupan, sendirian.

Begitu berada di permukaan pasir, anakan maleo ini segera bergerak menuju hutan, menjalani kehidupan sendirian. Foto: Hanom Bashari
info gambar
Lokasi peneluran maleo yang harus dijaga, agar tidak diganggu predator terlebih manusia yang ingin mengambilnya. Foto: Hanom Bashari
info gambar

Lokasi peneluran maleo memang komunal, biasanya daerah berpasir di pantai atau di tanah yang mendapatkan panas vulkanik, baik hutan primer dataran rendah, maupun perbukitan. Maleo umumnya terlihat berpasangan, namun akan jarang tampak selain di lokasi penelurannya itu.

Berdasarkan kajian Renne Dekker (1986), Marc Argeloo (1990), Stuart Buchart dan Gillian Baker (1998), serta Antonia Gorog dkk. (2003), terdapat 142 lokasi peneluran maleo yang pernah tercatat di seluruh Sulawesi dan Buton. Dari jumlah tersebut hingga 2017, yang masih aktif atau diperkirakan aktif hanya 20 persen. Lokasi tersisa ini, sebagian besar berada di kawasan konservasi.

Lembaga konservasi burung dunia BirdLife International (2017) memperkirakan populasi maleo sekitar 8.000-14.000 individu dengan kecenderungan menurun. Sedangkan status keterancamannya, berdasarkan IUCN, sejak 2002 adalah Genting (Endangered/EN). Penyebabnya, menurunnya kualitas habitat yang berkombinasi dengan fakta bahwa maleo memang memiliki populasi yang sedikit.

====

Republish dan modifikasi dari dua (2) artikel di Mongabay Indonesia berjudul asli Melindungi Maleo Harus Ada Aksi Bersama dan Maleo, Burung Berkonde Jantungnya Wallacea, atas dasar MOU antara GNFi dengan Mongabay Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini