Pertandingan Sengit, Indonesia Pernah Jadi ‘’Juara’’ Turnamen Kelereng Dunia

Pertandingan Sengit, Indonesia Pernah Jadi ‘’Juara’’ Turnamen Kelereng Dunia
info gambar utama

Kawan GNFI kapan terakhir kali memainkan permainan kelereng?

Membidik, menjentik ke arah lingkaran yang dipenuhi kelereng-kelereng milik lawan adalah cara bermain kelereng yang sering dilakukan. Masa kecil Kawan GNFI mungkin pernah melakukan permainan ini.

Namun, turnamen kelereng dunia yang diselenggarakan oleh Fubeca’s Marble Runs pada kanal YouTube-nya tidak menggunakan sistem permainan yang seperti itu. Melainkan dengan cara turnamen balapan yang dibuat oleh pemiliki kanal YouTube Fubeca’s Marble Runs.

Dalam video berdurasi 24 menit 34 detik itu, kita disuguhi tontonan pertandingan sengit layaknya sedang menonton arena balap. Dalam rangkaian turnamen bertajuk Marble Race pada kanal YouTube Fubeca’s Marble Runs tersebut Indonesia berhasil memenangkan ‘’juara’’ pada turnamen World Tournament of Marbles with Labyrinth and Funnels.

Dalam tayangan video tersebut juga diperlihatkan bahwa secara statistik Indonesia berada di posisi 15 atau posisi terbawah dalam rangkaian Marble Race dengan skor 1.

Sedangkan Rusia menjadi negara yang paling unggul dalam rangkaian Marble Race dengan skor 2, disusul oleh Brazil (2), Inggris (2), Meksiko (2), Jepang (2), Chili (1), Amerika Serikat (1), Kolombia (1), Spanyol (1), Portugal (1), Paraguay (1), Argentina (1), Costa Rica (1), Kemarun (1), terakhir baru Indonesia (1).

Ya, bagi Kawan GNFI yang sudah menonton video turnamen dengan latar suara komentator layaknya pertandingan sungguhan, ini bukanlah turnamen sungguhan. Riset GNFI mencari bahwa belum diketahui siapa di balik pembuat video turnamen ini. GNFI juga tidak menemukan bahwa turnamen tersebut memang secara resmi ada dan diselenggarakan oleh lembaga resmi tertentu.

Video turnamen tersebut pun sebenarnya sudah diunggah sejak setahun yang lalu. Namun video ini sempat viral setelah beberapa warganet Indonesia banyak yang membaginya di media sosial. Meskipun turnamen ini hanya buatan, tapi tetap seru dan menegangkan banget melihat kesengitan turnamen antara kelereng Indonesia melawan kelereng negara lainnya itu.

Turnamen Kelereng ‘’Buatan’’ yang Viral di Amerika Serikat

Ternyata di Amerika Serikat, video balapan bola marmer kecil ini sudah mendapat perhatian dan banyak penggemarnya di Amerika Serikat. Salah satu kanal yang jauh lebih dulu membuat turnamen kelereng ini adalah Dion Bakker (38) dan Jelle Bakker (36) yang memulai kanal YouTube-nya bernama Jelle’s Marble Runs pada tahun 2006 silam.

Dilansir The New York Times, dua saudara ini awalnya hanya membuat video sederhana tentang kelereng, namun belakangan mereka juga turut membuat semacam turnamen balapan kelereng dilatarbelakangi komentator layaknya balapan F1 sungguhan. Hal itu dilakukan untuk membuat penontonnya tetap terlibat.

Greg Woods (31) dari Iowa adalah salah satu komentator langganan yang suaranya akan terdengar jika Kawan GNFI menonton turnamen balapan kelereng pada kanal Jelle’s Marble Runs. Pembuatan turnamen kelereng ini ternyata menarik banyak peminat di Amerika Serikat.

Menariknya kanal YouTube milik The Bakkers ini sudah bermitra dengan Fédération Internationale de l’Automobile dan sudah ditampilkan di kalan ESPN dan NBC Sports. Hasilnya video-video tersebut telah ditonton oleh 10 juta orang per bulannya.

Mengapa harus turnamen kelereng?

‘’Itu menyedot kita ke dunia lain, dimensi lain tanpa perang, kesengsaraan, dan negativitas,’’ ungkap Dion Bakker kepada The New York Times (18/4/2020).

Pada wawancara lainnya pada SI.com, Greg Woods juga mengatakan hal yang senada bahwa balapan kelereng ia sebut mesmerizing dan memberi pengaruh terapeutik. Dan yang paling penting, ‘’Tidak memerlukan kontak manusia,’’ kata Woods (22/3/2020).

Diketahui bahwa di tengah pandemi seperti ini, kala berbagai turnamen olahraga terpaksa ditunda, video turnamen balap kelereng semakin menarik perhatian. Ketegangan yang dihasilkan layaknya turnamen sungguhan memberikan sensasi dan pengalaman menonton yang berbeda.

Sejarah Kelereng di Indonesia

Sejarah Kelereng di Indonesia
Kemunculan kelereng pertama di Indonesia diduga dibawa oleh Belanda © Vlad Alexandru Popa/Pexels

Masyarakat Indonesia menyebut mainan ini dengan istilah berbeda. Masyarakat Betawi menyebutnya dengan gundu. Anak-anak Sunda menyebutnya dengan kaleci. Masyarakat Jawa menyebutnya dengan neker. Di Palembang disebt ekar. Di Banjar disebut kleker.

Riset GNFI belum menemukan kapan sebenarnya permainan bola marmer berkilauan ini masuk ke Indonesia. Namun diperkirakan bahwa Belanda yang membawa permainan ini ke Nusantara. Belanda sendiri menyebut mainan ini dengan knikker.

Wajar saja jika Belanda kala itu bisa membawa permainan itu ke Nusantara karena mainan ini memang sudah mulai populer di Eropa dan Amerika pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Awalnya, bahan dasar kelereng tidak seperti sekarang yang kita ketahui. Baru pada tahun 1864, Jerman yang pertama kali membuatnya menggunakan marmer atau kaca yang bentuknya mirip seperti permen.

Jika mau melihat ke belakang lebih jauh, maka sebenarnya kelereng merupakan mainan warisan dari peradaban Mesir Kuno sejak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM). Kala itu, kelereng masih terbuat dari tanah liat atau batu. Namun cara memainkannya sama dengan cara dijentikan untuk membidik dan membentur kelereng lainnya.

Sementara kelereng tertua di dunia yang sampai saat ini masih ada yaitu berasal dari Pulau Kreta, Yunani yang sudah ada sejak tahun 1700-2000 SM. Kini kelereng itu dikoleksi di The British Museum di London, Inggris.

Jadi, siapa yang di sini jago dir-diran kalau sudah main kelereng?

--

Sumber: Kanal YouTube Fubeca's Marble Runs | Kanal YouTube | The New York Times | SI.com | TOP FILES Okezone.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini