Koreksi Kata Puspa menjadi Hari Cinta Padapa dan Satwa Nasional

Koreksi Kata Puspa menjadi Hari Cinta Padapa dan Satwa Nasional
info gambar utama

Samida, salam Indonesia di dada.

Baru saja berlalu Hari Cinta Puspa dan Satwa 5 November 2020 lalu. Konsil Kota Pusaka turut memperingatinya, sebagai bentuk peduli lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Lho... judul artikel ini kok pakai kata padapa, bukan puspa? Apakah salah ketik?

Padapa memang menjadi lema yang diusulkan untuk menggantikan kata puspa, yang biasa digunakan dalam kegiatan hari peringatan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Padapa, seperti juga puspa dan satwa, adalah kata yang diserap dari Bahasa Sanskerta. Padapa berasal dari 'padapa', puspa dari 'pushpa' dan satwa dari 'sattva'. Jadi, padapa sama saja dengan kata puspa.

Kembali ke Hari Cinta Puspa dan Satwa. Peringatan itu adalah kegiatan berdasarkan pada Keputusan Presiden nomor 4 tahun 1993, tentang Satwa dan Bunga Nasional. Hal ini menjelaskan bahwa pada awalnya yang dimaksud dengan puspa ialah bunga atau kembang.

Puspa dalam Bahasa Sanskerta adalah pushpa yang berarti bunga atau kembang. Bukan menunjuk pada semua jenis tumbuhan. Mereka yang mengenal baik penyanyi Titik Puspa dan karyanya, pasti paham bahwa kata puspa pada nama sang legenda bermakna bunga. Puspa bukan sembarang tumbuhan, juga bukan pohon buah maupun pohon kayu.

Kegiatan berbahasa memang bisa sangat cair, terjadi di masa lalu maupun kini. Makna kata hasil serapan bisa tergelincir berbeda dari maksud aslinya. Itulah yang terjadi pada kata puspa sebagaimana diacu dalam kegiatan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa.

Jika aslinya kata puspa adalah padanan dari bunga dan kembang, kini ia diasosiasikan kepada (hampir) semua tumbuhan. Hal ini bisa secara sengaja, bisa pula tidak disadari.

Membebaskan asosiasi lema puspa kepada semesta 'kerajaan tumbuhan' sesungguhnya merugikan. Mengganggu perkembangan pemahaman publik terkait kebahasaan, kebudayaan juga keilmuan khususnya Biologi.

Kerugian pertama adalah timbulnya kebingungan publik, karena pemahaman umum serta literatur yang benar dan dikenal luas sudah secara dominan telah jelas mengartikan puspa sebagai bunga dan kembang.

Kerugian kedua adalah makin mencoloknya fakta ketidaksesuaian tingkat pada sepasang kata yang digunakan. Puspa, dari 'pushpa', berarti tumbuhan bunga saja. Jelas tak satu tingkatan dengan satwa, dari 'sattva', yang merangkum semua jenis hewan tanpa kecuali (kingdom animalia).

Kerugian ketiga adalah hadirnya kerancuan dalam diskursus ilmu (Biologi). Tumbuhan dan hewan serta flora dan fauna adalah pasangan kata yang sepadan untuk 'plant and animal'. Namun puspa jelas bukan padanan kata untuk flora, sementara satwa sepadan dengan fauna.

Agar kerugian-kerugian tak berlanjut maka solusi penggantian istilah perlu dilakukan. Kita maklum bahwa Keputusan Presiden nomor 4 tahun 1993 sesungguhnya juga menggunakan dua istilah yang tidak sepadan, yakni satwa dan bunga.

Namun gagasan untuk mengupayakan pelestarian seluruh jenis tumbuhan, bukan hanya bunga (puspa), perlu diapresiasi dan dikuatkan gerakannya. Untuk itu kita perlu mencari lema baru, padanan untuk kata tumbuhan.

Lema baru itu harus dari khazanah kata serapan asal Sanskerta. Oleh karena itu, kita harus tetap mempertahankan kata satwa, yang telah tepat penggunaannya.

Cinta Padapa, Menanam Bibit Samida.
info gambar

Padapa adalah kata serapan dari Bahasa Sanskerta yang tepat untuk berpasangan dengan satwa. Padapa dan satwa sepadan dengan tumbuhan dan hewan, flora dan fauna serta 'plant and animal'.

Padapa berarti tumbuhan, juga berarti (sesuatu) yang memiliki akar dan 'minum' melalui akar. Hal ini sesuai dengan salah satu ciri 'kerajaan tumbuhan' (plantae), yang juga sekaligus menjadi pembeda terhadap tetangga dekatnya yaitu 'kerajaan jamur' (fungi).

Silakan memeriksa informasi kebahasaan tentang lema padapa secara lebih lanjut melalui tautan-tautan terlampir.

Jadi, dengan menggunakan pasangan kata padapa dan satwa, kita dapat menghapus kecanggungan tiap kali peringatan pelestarian tumbuhan dan hewan di Indonesia. Juga mencegah kebingunan pada para pencinta bunga-bungaan ketika mendapati maskot cinta puspa justru berupa tumbuhan jenis umbi, pohon buah (semisal duku dan salak) atau bahkan pohon kayu keras (eboni).

Fosil Kayu Padapa di Kebun Raya Bogor
info gambar

Sebaliknya, forum 'cinta padapa' dapat bebas menggunakan maskot tumbuhan apapun, termasuk anggrek, teratai atau Samida Pakuan (Butea monosperma), yang dijuluki 'kembang harapan'.

Padapa juga bukan lema yang asing. Beberapa lembaga di Indonesia telah menggunakan kata itu, tentunya dengan pemahaman yang tetap erat terkait dengan unsur tumbuhan.

Pertanyaan tambahan, lalu bagaimana menyemangati upaya pelestarian jenis-jenis fungi (jamur), protista (ganggang) dan monera (bakteria) sebagai bagian keanekaragamanhayati Indonesia?

Mereka bukan jenis satwa (animalia) atau padapa (plantae) - tentu pasti bukan puspa (bunga).

Jawabannya mudah. Kita perlu dan bisa memilih satu hari lain lagi untuk khusus didedikasikan bagi pelestarian ketiga jenis kekayaan hayati yang dimaksud di atas. Hal itu berarti lebih banyak kesempatan dan forum untuk memperkenalkan potensi alam bagi kehidupan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Lestari padapa dan satwa di Nusantara. Selamat Hari Cinta Pusa dan Satwa Nasional 2020 yang sudah berlalu.

Sampai jumpa di Hari Cinta Padapa dan Satwa Nasional 2021 yang akan datang.

Samida, salam silaturahmi di dada.*

Referensi: wiktionary | wisdomlib | budidaya | ragunan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini