Nostalgia Mi Sakura, Mi ''Jepang'' Asli Indonesia yang Sudah Jarang Ditemui

Nostalgia Mi Sakura, Mi ''Jepang'' Asli Indonesia yang Sudah Jarang Ditemui
info gambar utama

Saat mengenang mie yang satu ini, yang teringat adalah harganya paling berbeda serta ukuran yang juga berbeda diantara mie instan lainnya. Kawan GNFI, bukankah Mi Sakura menjadi begitu populer pada era 90an dahulu? Meski memiliki merek dagang yang agak ke-Jepang-Jepang-an. Ternyata Mi sakura merupakan produk asli Indonesia. Mi Sakura merupakan salah satu merek mi instan produksi PT Indofood.

Mie sendiri adalah makanan instan alternatif yang banyak dikonsumsi masyarakat Asia, termasuk Indonesia. Makanan ini menjadi populer dikalangan masyarakat karena harganya murah dan cara pengolahan sekaligus penyajiannya yang praktis.

Dilihat dari kandungan gizinya, mie mengandung karbohidrat, yang menyumbang energi pada tubuh sehingga mie dapat dijadikan makanan pilihan ketika memang sedang dalam keadaan darurat. Namun mengkonsumsi mie secara berlebihan pun tidak baik karena kandungan pengawetnya serta penyajiannya yang secara instan.

Berbicara tentang Mi Sakura, sejak dulu makanan ini memang selalu jadi favorit anak-anak hingga orang dewasa sekalipun. Saat masih sekolah dasar, generasi 90-an pasti pernah menikmati jajanan ini. Kawan GNFI yang tumbuh di era 90-an juga tentunya pernah mencicipinya bukan?

Mi Sakura dengan kemasan berwarna putih merah untuk varian mie goreng, sedangkan putih biru untuk varian mie rebus ini dulunya dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Cukup dengan Rp500 kita sudah bisa menikmati kenikmatan mie yang merupakan saudara Indomie ini.

Tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, Mi Sakura ini dulu kerap dijual dalam keadaan matang atau dimasak yang dijajakan oleh pedagang. Biasanya pedagang Mi Sakura ini banyak ditemui bersama pedagang jajanan SD jaman dulu.

Mi Sakura yang Sudah Jarang Ditemui Kini

Hal lain yang membuat Mi Sakura menarik adalah cara menyajikan Mi Sakura yang sering menggunakan pembungkus mienya secara langsung. Selain itu, generasi 90-an pasti pernah melakukan kebiasaan yang satu ini, yaitu dengan memakan mienya secara mentah.

Mi Sakura dihancurkan terlebih dahulu, lalu dicampur dengan bumbu ke dalam bungkusnya. Jangan-jangan masih ada yang melakukannya hingga sekarang? Jangan terlalu sering lho ya.

Keberadaan Mi Sakura di kantin kini sudah jarang ditemui. Hal tersebut terjadi karena produksinya yang sudah tidak banyak seperti dahulu. Meski sudah jarang ditemukan, namun biasanya Mi Sakura masih bisa ditemukan di warung-warung pinggir jalan atau warung kelontong biasa.

Kalau sudah begini, jadi kangen rasa Mi Sakura ya? Nostalgia makanan ''jadul'' memang masih menyenangkan. Kawan GNFI masih ada yang menemukan penjual Mi Sakura di warung dekat rumah?

Batasan Mengkonsumsi Mie Instan Bagi Kesehatan Tubuh

Mie instan sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai pengganti makanan, oleh karena itu tak ada saran rekomendasi jumlah konsumsi mie instan. Hal tersebut disampaikan oleh ahli diet Mount Elizabeth Hospital Seow Vi Vien, seperti dikutip dari The Strait Times via Kompas.com.

Menurut Vien, batas aman makan mie instan dalam sepekan adalah 1-2 kali. Sementara Dr. Frank B. Hu, profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard, merekomendasikan untuk konsumsi mie instan 1-2 kali dalam sebulan. Makan mie instan beberapa kali dalam seminggu, kata dia, dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Vien juga menyebutkan bahwa mie instan mengandung banyak lemak, seperti lemak jenuh, dan natrium. Sementara itu, kandungan protein, vitamin, dan mineralnya pun sedikit. Dalam sebungkus mi instan lengkap dengan satu paket bumbu mengandung sampai 1.700 miligram natrium.

Jumlah tersebut 85 persen lebih banyak dari rekomendasi jumlah asupan natrium harian. Menurut dia, konsumsi garam atau natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan stroke.

Meski nikmat, tetap selalu jaga kesehatan ya Kawan GNFI! Tidak dilarang kok untuk makan mie instan.

Referensi: food.detik.com | kabarsidia.com | Kompas.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini