Temuan Arkeologi di Pulau Alor, Makam Anak Berusia 8 Ribu Tahun

Temuan Arkeologi di Pulau Alor, Makam Anak Berusia 8 Ribu Tahun
info gambar utama

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi surga bagi para arkeolog lokal maupun internasional. Sudah banyak temuan dari zaman prasejarah yang ditemukan di provinsi berupa kepulauan itu.

Contohnya di Situs Liang Bua, Ruteng, bagian tengah Pulau Flores. Di tempat itu dikenal sebagai daerah ditemukannya berbagai macam artefak dan fosil hewan purba, di antaranya gajah Stegodon florensis.

Mari beralih ke barat Pulau Flores, tepatnya di Labuan Bajo. Di daerah pesisir Kabupaten Manggarai Barat juga ada sisa-sisa peninggalan zaman purba berupa Gua Batu Cermin dan Batu Payung. Keduanya merupakan batuan karang yang diperkirakan dulu letaknya ada di dalam laut. Dikatakan demikian karena para peneliti menemukan sejumlah fosil biota laut, seperti fosil penyu dan terumbu karang. Kedua tempat ini kini menjadi salah satu destinasi andalan wisata premium di kawasan NTT.

Batu Payung, Labuan Bajo.
info gambar

Pada November 2020, temuan baru kembali ditemukan peneliti di Pulau Alor. Di pulau yang terletak sebelah timur Pulau Flores itu sejumlah peneliti menemukan makam berusia ribuan tahun. Bila ada makam pasti ada sisa-sisa tulangnya, lalu tulang apa yang mereka temukan.

Makam Anak Berusia 8 Ribu Tahun

Dikutip GNFI dari Phys, tim peneliti arkeologi dari Australian National University menemukan sebuah makam di Gua Makpan, Pulau Alor, pada awal bulan November 2020. Makam tersebut merupakan tempat penguburan satu-satunya di wilayah tersebut dan berasal dari masa awal pertengahan Holosen.

Adapun di dalam makam yang diperkirakan berusia 8 ribu tahun ditemukan sisa-sisa tulang seorang anak kecil. Peneliti utama dalam studi ini, Dr. Sofia Samper Carro, menyebutkan anak yang dikuburkan di makam itu berusia sekitar empat hingga delapan tahun. Menurut penilaiannya, anak tersebut dimakamkan dengan semacam upacara. Temuan ini jelas memberikan wawasan penting mengenai praktik penguburan pada masa itu.

Gua Makpan.
info gambar

"Pigmen berwarna oker (coklat kekuningan) dioleskan di pipi dan dahi. Sementara itu, batu bulat berwarna ditempatkan di bawah kepala anak ketika dikuburkan," jelas Samper Carro. Lebih lanjut, Samper Carro menyebut bahwa makam anak sangat jarang ditemukan dan penguburan lengkap seperti di Pulau Alor ini merupakan satu-satunya makam yang berasal dari periode Holosen.

"Dari 3.000 tahun yang lalu hingga zaman modern, kami mulai lebih banyak penguburan anak-anak. Namun kami belum mengetahui bagaimana orang-orang pada periode awal Holosen memperlakukan anak-anak mereka yang meninggal. Temuan ini akan memberikan wawasan," ungkap Samper Carro.

Praktik Menghilangkan Tulang

Dalam studinya, peneliti juga menemukan tulang lengan dan kaki anak diambil terlebih dahulu sebelum dimakamkan. Praktik menghilangkan tulang tersebut sebelumnya pernah didokumentasikan di beberapa pemakaman lain dari periode waktu yang sama di sejumlah daerah di Indonesia, yaitu Jawa, Kalimantan, dan Flores. Namun, menurut Samper Carro, ini pertama kalinya ia dan tim melihat praktik tersebut dalam pemakaman anak.

"Kami tidak tahu mengapa praktik menghilangkan tulang ini dilakukan, tetapi sepertinya merupakan sebagian aspek dari sistem kepercayaan orang-orang yang hidup saat itu," jelasnya.

Belum diketahui jenis kelamin dari jenazah bocah tersebut. Kerangkanya sangat kecil, sehingga mungkin pertumbuhannya terhambat karena faktor genetis atau lingkungan. Kerangka orang dewasa pada zaman yang sama juga berukuran kecil.

Tengkorak anak kecil yang ditemukan di Gua Makpan.
info gambar

Dengan membandingkan penguburan orang dewasa pada periode waktu yang sama dengan penguburan anak ini, peneliti berharap dapat mengetahui kronologi dan pandangan umum tentang praktik penguburan di wilayah Pulau Alor antara 12.000 hingga 7.000 tahun yang saat ini masih jarang ditemukan.

Studi berjudul Burial practices in the early mid-Holocene of the Wallacean Islands: A sub-adult burial from Gua Makpan, Alor Island, Indonesia ini dipublikasikan di Quaternary International.

---

Referensi: Livescience.com | Phys.org

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini