Kalpataru Nusantara, Palasa Kita: A Tree Among Trees

Kalpataru Nusantara, Palasa Kita: A Tree Among Trees
info gambar utama

Samida, salam Indonesia di dada.

November adalah bulan untuk pohon. 21 November lalu diperingati sebagai Hari Pohon Sedunia. Sepekan kemudian, 28 November merupakan Hari Menanam Pohon Indonesia. Maka tulisan ini juga akan bercerita tentang pohon.

Dapatkah Kawan menunjukkan padapa (tumbuhan) Kalpataru? Kalpataru, nama sebuah pohon yang digunakan untuk penghargaan tingkat nasional bagi para kampiun pelestarian lingkungan hidup. Penghargaan Kalpataru sendiri sudah berjalan empat dasawarsa, usia yang sangat matang baik untuk ukuran institusi penghargaan maupun individu padapa itu sendiri.

Relief Padapa Kalpataru | Foto: Kebudayaan Kemdikbud
info gambar

Oh ya, lema padapa dalam Sanskrit berarti tumbuhan, tentunya pohon termasuk. Padapa berbanding satwa adalah padanan bagi tumbuhan berbanding hewan. Lema padapa, sebagaimana satwa, sudah diterima dalam kebudayaan Jawa dan Bali.

Jika pertanyaan tentang padapa kalpataru diajukan pada orang dari anak benua India, tempat mitologi dan nama kalpataru berasal, maka jawabannya beragam. Tergantung kepercayaan dan asal daerah si penjawabnya.

Ada yang menjawab kalpataru sesuai tradisi leluhurnya adalah padapa banyan, yang serupa tapi tak sama dengan padapa beringin. Ada yang menunjuk padapa kelapa karena sarat potensi manfaat bagi kehidupan manusia. Di wilayah Tamil Nadu lain lagi, beragam jenis palma adalah kalpataru.

Banyak jawaban lain yang mungkin lebih asing untuk orang Indonesia. Kalpataru, masih di India, bisa juga berkorespondensi dengan padapa ashwatha (fig), mahua, shami atau jaant. Juga ada jenis baobab sebagai kalpataru, khusus di Uttar Pradesh. Pendeknya tersedia belasan jawaban yang berbeda sebagai identifikasi tentang Kalpataru.

Jika identifikasi faktual adalah beragam, secara konseptual kalpataru (kalpavrikhsha atau kalpadruma) mengerucut satu. Kalpataru adalah pohon kehidupan, pohon pengharapan. Tentu saja ia menjadi pohon yang istimewa dalam beberapa tradisi dan kebudayaan klasik di nusantara.

Relief Kalpataru di Candi Borobudur | Foto: Kebudayaan Kemdikbud
info gambar

Empat Puluh Tahun Kalpataru

Kalpataru nyata di Indonesia sejak awal 1980-an sebagai penghargaan bertaraf nasional. Institusi yang berwenang sejak awal memosisikan (memposisikan) kalpataru sebagai pohon simbol tentang harapan baik. Sesuai dengan maknanya, kalpa berarti keinginan dan taru berarti padapa (tumbuhan, pohon).

Namun, hingga 40 tahun kemudian, kalpataru kita tetap tinggal sebagai konsep. Simbolik, dengan rupa yang dipinjam-pakai dari relief di Candi Pawon dan Candi Borobudur. Tetap tak mengacu padapa natural yang faktual, entah disengaja atau bukan. Namun, bisa juga karena belum yakin atau memang tidak tahu, padapa apa yang cocok ditabalkan sebagai kalpatarunya nusantara.

Sebagai bangsa yang semakin diperhitungkan oleh masyarakat dunia, saatnya Indonesia semakin terbiasa untuk jelas bersikap, mengacu pada fakta dan berpegang pada data. Hal ini juga berlaku dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup nasional, dan itu akan tercerminkan pula dalam kejelasan tentang lema kalpataru. Termasuk pilihan padapa asosiasinya.

Pada 2020 ini, tahun ke-75 perjalanan Indonesia yang merdeka, kalpataru seyogyanya sudah nyata acuannya. Terlebih lagi Indonesia adalah khazanah besar keanekaragamanhayati dunia. Menyimpan puluhan ribu spesies padapa dan jamur, Prof. Dedy Darnaedi menyebutkan terdapat sekitar 57.450 jumlah spesies padapa dan jamur berdasarkan data Puslit Biologi LIPI (2019). Sungguh lumbung yang penuh ragam pohon, untuk dipilih menjadi ikon kalpataru. Menjadi Kalpataru Nusantara, kalpataru kita.

Pohon kalpataru tentu harus menyiratkan harapan baik untuk kehidupan. Selain bagi manusia, juga harus memberi harapan bagi padapa lain dan beragam satwa. Padapa kalpataru kita juga harus berfungsi aktif menjaga kestabilan lingkungan fisik abiotik. Dengan demikian ia sungguh menjadi harapan dan acuan bagi upaya pembangunan yang berkelanjutan.

Adakah padapa yang layak menjadi Kalpataru Nusantara kita?

Palasa di Desa Palasah, Kecamatan Palasah, Majalengka | Foto: Warga Palasah
info gambar

Kalpataru Nusantara

Padapa yang memenuhi kriteria ekologis kalpataru, juga dikenal luas oleh masyarakat kita sejak masa lalu, adalah pohon palasa atau ploso atau palasah. Botanis Usep Soetisna mengungkap nama lainnya yakni samida (samidha) atau Butea monosperma (Butea frondosa). Padapa inilah yang pada dirinya tersemat semua harapan baik bagi manusia, tumbuhan lain, satwa dan lingkungan fisik abiotik.

Iman Budhi Santosa, dalam bukunya yang berjudul Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa pohon poso (palasa) sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak masa lalu, khususnya mereka yang tinggal di perdesaan atau dekat hutan. Ia memberikan manfaat berupa pewarna alami kain dan getah untuk menyamak kulit. Ploso juga mengandung bahan untuk obat diare, cacingan, sengatan kalajengking hingga gangguan lever.

Pemanfaatan praktis daun palasa secara komunal adalah untuk membungkus penganan ketan di wilayah Semarang dan Blora, serta sebagai alas makan pengganti piring dalam acara syukuran. Kebiasaan syukuran tentunya terkait harapan positif bagi kehidupan masyarakat.

Padapa Palasa (ploso) di Kebun Raya Purwodadi | Foto: Facebook
info gambar

Sebagaimana asal lema kalpataru yaitu dari anak benua India, apakah padapa palasa (samida) juga dikenali dengan atribut-atribut yang pro kehidupan? Jawabannya tentu saja ya. Sepenuhnya positif.

Prof. P.J. Sanjeeva Raj, ekolog terkemuka di India, menulis bahwa diantara banyak festival di India yang terakbar adalah festival warna-warni (Holi). Pada saat itulah orang menggunakan bunga-bunga Flame of the Forest (julukan khusus padapa palasa atau palash) untuk membuat bubuk warna jingga yang kemudian disebarkan ke udara, ke atas orang-orang yang bergembira. Kegembiraan adalah ungkapan syukur untuk kehidupan.

Raj tentunya tidak sedang menebar kegembiraan sesaat dan harapan semu. Sebagai ekolog terkemuka ia memuji palasa sebagai padapa yang sarat nilai pendidikan. 'Suksesi ekologi’ melibatkan beragam kumbang, lebah madu, kadal, burung dan mamalia mengiringi siklus kehidupan pohon ini.

Palasa dengan sempurna membangun sebuah simbiosis makanan. Berbagai primata seperti monyet Rhesus dan langur (lutung) akan datang menyantap kelopak bunga di pucuk pohon itu, sementara rusa tutul dan kambing siap menunggu di bawah untuk memakan curahan kelopak-kelopak yang berguguran dijatuhkan para kera.

Palasa aka Samida aka Butea monosperma di Kebun Raya Bogor | Foto: Dok. Pribadi
info gambar

Kalpataru Kita, Padapa Palasa

Pada 2020, umat manusia dipaksa situasi untuk memikirkan ulang kehidupannya dan keberadaannya sebagai satu komponen ekologi disamping beragam yang lainnya di Bumi. Bersamaan dengan itu, tiba momentum 40 tahun eksistensi Penghargaan Kalpataru di Indonesia.

Maka amat tepat jika dilakukan ‘suksesi maknawi’ terhadap lema kalpataru juga. Kalpataru yang selama ini hanya hadir secara simbolik mewakili harapan baik untuk kehidupan, tanpa ada manifestasi ragawinya, tiba saatnya untuk dihadirkan juga secara faktual dan nyata.

Padapa Samida aka Palasa aka Butea monosperma | Foto: Dok. Pribadi
info gambar

Palasa (Buteamonosperma) adalah yang dapat mengemban julukan sebagai kalpataru di Nusantara, kalpataru kita. Banyak wilayah memiliki kedekatan turun-temurun dengan pohon ini. Nama daerah-daerah di Jawa dan Madura dengan unsur kata palasah, ploso, palasa pasti mengacu pohon penuh manfaat ini.

Tentu tak termasuk kata plasa yang terjemahan plaza di Eropa. Beberapa daerah bernama Samida, seperti di Garut, juga merupakan toponimi yang mengabadikan kehadiran ‘kembang harapan’ dimaksud, palasa.

Akibat cukup lama terlupakan, keberadaan dan pengetahuan tentang padapa palasa kini kurang dikenal publik. Palasa baru mulai diungkap, ditampilkan dan dihadirkan kembali setahun kebelakang. Meski sebetulnya Kebun Raya Purwodadi tercatat memiliki spesimen pohon yang cukup aktif berbunga dan Kebun Raya Bogor memiliki spesimen dari penanaman di era 1960-an.

Sejak 2019 kemarin, Museum Tanah dan Pertanian mendukung ahli benih tanaman Usep Soetisna melakukan pembibitan dari biji. Publik terlibat mengadopsi bibit-bibit perdana tersebut. Konsil Kota Pusaka secara simultan, di depan forum publik, berhasil mempertahankan simpulan ilmiah bahwa palasa adalah padanan dari lema samida yang tertera pada Prasasti Batutulis di Kota Bogor.

Palasa atau samida kini mulai ditanam kembali sejak awal 2020. Oleh kelompok profesional milenial dari Lembaga Penjamin Simpanan Indonesia yang menanam di lahan Kebun Raya Bogor, pemerintah dan warga Desa Samida di ladang Kecamatan Selaawi, Garut, serta Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor di instalasi pembibitannya. Pun pada 11 November lalu, Universitas Pakuan di Bogor mengisi Dies Natalis ke 40 dengan penanaman lima bibit samida, satu bibit untuk tiap windu usia institusi tersebut.

Fakta kedekatan padapa palasa dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Indonesia tak diragukan lagi. Juga tak berkurang sekalipun kita banyak belajar dari ilmuwan India, yang mengenal palasa sebagai palash atau dhak atau chamata atau samidha.

Tentang palasa, konservasionis muda Aniruddha Dhamorikar pada April 2017 menyebutnya sebagai “a tree among trees” (pohon segala pepohonan). Ia terpekur karena keindahan pohon yang tampak fisiknya biasa, tetapi sejatinya merupakan sebuah kehidupan yang penuh warna. Sebuah padapa dengan kembang warna merah, yang sepanjang periode berbunganya menjadi tujuan bermacam satwa menjalani hidup mereka.

Sanjeeva Raj, sang ekolog terkemuka India memiliki ode pujian tentang palasa. Ia menulis: “Mengapa kembang-kembang ‘api hutan’ (flame of the forest) bisa memikat secara luar biasa, 65 hingga 70 spesies satwa? Sungguh padapa yang menyediakan beragam keperluan hidup satwa dan manusia sangat pantas untuk ditabalkan sebagai ‘Kalpavri­ksha’ dan harus disebarluaskan…” Sebagaimana Kawan sudah ketahui, kalpavriksha adalah sinonim dari kalpataru.

Demikianlah padapa palasa atau ploso atau samida (samidha) atau Butea monosperma terbukti teruji dan terpuji dari berbagai tinjauan keilmuan dan kebudayaan. Palasa layak sebagai pohon yang dinobatkan menjadi Kalpataru Nusantara, Pohon Harapan Kehidupan. Kalpataru kita kini tidak lagi simbolik belaka. Ia, padapa palasa, hadir dan nyata menjadi ikon penting yang membawa harapan sukses pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.

Samida, salam silaturahmi. Samida nuhun.*

Sumber: deccan | sahyadrica | welcome | alamendah | mustika | aremamedia | madras

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini