Haru Tari Pagar Pengantin Bermakna Perpisahan

Haru Tari Pagar Pengantin Bermakna Perpisahan
info gambar utama

Tari Pagar Pengantin merupakan salah satu tarian adat yang berasal dari Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Umumnya, tarian ini ditampilkan saat acara upacara atau resepsi pernikahan adat untuk menyambut para tamu undangan yang hadir.

Sukainah A. Rojak, seorang penari pada tahun 1960-an menciptakan tari pagar pengantin ini. Tari Pagar Pengantin dilakukan oleh pengantin perempuan bersama penari pengiring atau dayang. Tarian ini dibawakan oleh penari berjumlah ganjil. Keunikannya terletak pada penari utama, sang pengantin wanita dan penari dayang berjumlah genap, serta mengelilingi penari utama.

Mempelai Wanita Tari Pagar Pengantin © Foto: Pinterest
info gambar

Bukan sekadar tarian menghibur, ada makna haru perpisahaan di balik gerakannya. Tarian ini mengisyaratkan perpisahan pengantin mempelai wanita kepada keluarga, sanak saudara, dan teman-temannya karena telah dipersunting oleh pengantin pria pilihannya. Tarian ini pertanda siap melepas masa lajang gadis dan bujang sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur.

Mempelai pengantin wanita berdiri dan menari di atas nampan yang disebut dengan dulang agung keemasan. Dulang diibaratkan sebagai lingkaran rumah tangga yang membatasi ruang gerak dan tingkah laku istri sehingga tak seluas seperti saat masa lajang.

Selepas itu, penari dayang memasangkan hiasan kuku-kuku cantik dengan panjang sekitar 10 cm atau biasa disebut tanggai ke jari-jemari pengantin wanita. Tanggai melambangkan sikap lemah lembut dan keanggunan sang istri. Simbol bahwa kendati gerak-gerik telah dibatasi, tetapi harus tetap terlihat cantik dan mempesona terutama di hadapan suami.

Tari Pagar Pengantin © Foto: Bridestory
info gambar

Gerakan selanjutnya, pengantin wanita menari bersama penari dayang dan menaburkan beras kunyit yang menjelaskan kesiapan melepas masa lajang dan menapaki bahtera rumah tangga. Menurut adat, apabila seorang gadis telah dipersunting, seyogyanya tak diperkenankan tampil menari lagi di muka umum, kecuali atas izin suami.

Pengantin pria berada persis di belakang pengantin wanita sebagai manifestasi dari kesiapan suami untuk menjaga, mengawasi, serta melindungi istri. Ia telah siap memegang tanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Sedangkan dua orang pembawa tombak mengharapkan kelak rumah tangga senantiasa terhindar dari malapetaka dan selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

Di akhir, sang penari dayang akan mengantarkan pengantin kembali menuju pelaminan. Lalu, penari dayang kembali ke arena pentas dan kembali melakukan gerakan persembahan dengan berjalan menjinjit seraya membawa nampan serta melakukan gerakan elang terbang ke luar arena pentas. (RIF)

Sumber: Kumparan | Etnis.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini