Sejarah Hari Ini (22 Desember 1965) - "Wanita Tiang Negara", Seruan Sukarno pada Hari Ibu

Sejarah Hari Ini (22 Desember 1965) - "Wanita Tiang Negara", Seruan Sukarno pada Hari Ibu
info gambar utama

Sebagaimana Kawan GNFI tahu, Hari Ibu diperingati Indonesia setiap tanggal 22 Desember.

Latar belakang Hari Ibu bermula pada Kongres Perempuan Indonesia ke-1 di Yogyakarta pada masa pergerakan nasional, yakni 22 hingga 25 Desember 1928.

Saat itu para organisasi kewanitaan dari Jawa dan Sumatra duduk bareng demi membahas perjuangan hak-hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pernikahan yang memiliki batasan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Jauh setelah masa tersebut atau setelah Indonesia meraih kemerdekaan, pada Kongres Pemuda Indonesia ke-25, tanggal 22 Desember ditetapkan oleh Presiden RI pertama Sukarno sebagai Hari Ibu Nasional melalui Dekrit Presiden RI No. 316 tahun 1953.

Semenjak itu, Sukarno pada masa-masa menjabat sebagai presiden rajin naik podium untuk memberikan kata sambutan pada Hari Ibu.

Berbagai pesan pembangkit semangat dikemukakan sang kepala negara yang dikenal ahli dalam berorasi di depan banyak orang.

Pada 1965 misalnya, Sukarno lewat amanatnya mengingatkan kembali peran wanita di Indonesia teramat penting bagi negara.

"Nabi Muhammad SAW pernah berkata, wanita adalah tiang negara. Jikalau wanitanya baik, negaranya ya baik. Jikalau wanitanya tidak baik, negaranya ya tidak baik. Saya ulangi, wanita adalah tiang negara...," ujar Sukarno di depan hadirin di Istana Negara, Jakarta, pada 22 Desember 1965.

Tahun 1965 adalah tahun di mana peristiwa pembantaian orang-orang yang dituduh komunis terjadi.

Dalam kesempatan itu pun Sukarno juga mengingatkan pada wanita Indonesia yang datang dari beragam suku maupun agama untuk tidak terpecah belah.

"Engkau wanita Indonesia, tadi aku telah memberi nasihat kepadamu, jangan engkau terpecah belah. Jangan engkau seperti di zaman sekarang ini, banyak gontok-gontokan...Wanita adalah wanita, dan semua wanita daripada golongan apapun, daripada agama apapun, sebenarnya diep op de boden van haar ziel leeft de wens naar liefde en moederschap (jauh di lubuk jiwanya terdapat hasrat kasih sayang seorang ibu). Sama saja, tidak ada perbedaan antara golongan satu dengan golongan lain, antara jenis satu dengan jenis lain, antara ras satu dengan ras lain, antara agama satu dengan agama lain, antara political conviction yang satu dengan political conviction yang lain," serunya.

---

Referensi: Kompas.id | Sekretariat Negara RI, "Amanat PJM Presiden Sukarno pada Hari Ibu di Istana Negara, Djakarta, 22 Desember 1965"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini