Sejarah Hari Ini (3 Januari 1956) - Peletakan Batu Pertama RS Sin Ming Hui di Jakarta

Sejarah Hari Ini (3 Januari 1956) - Peletakan Batu Pertama RS Sin Ming Hui di Jakarta
info gambar utama

Perkumpulan sosial peranakan Tionghoa di Jakarta, Sin Ming Hui, telah aktif dalam kegiatan kemanusiaan - salah satunya di bidang kesehatan - sejak Indonesia meraih kemerdekaan.

Dalam bidang kesehatan, anggota Sin Ming Hui terbukti sukses dalam mendirikan salah satu rumah sakit di Jakarta, yakni Rumah Sakit Sin Ming Hui.

Sempat ada nada skeptis dari masyarakat Tionghoa mengenai ambisi membangun RS, tetapi akhirnya cita-cita itu bisa terwujud di wilayah Jakarta Barat.

Diberi nama sesuai dengan nama perkumpulannya, Rumah Sakit Sin Ming Hui berdiri di Jalan Tangerang (sekarang Jalan Kyai Tapa) di atas sebidang tanah bekas rawa-rawa yang luasnya sekitar 8 hektare.

Upacara peletakan batu pertama pun digelar pada 3 Januari 1956 dengan disaksikan langsung oleh dokter ahli nutrisi yang menjadi direktur RS tersebut, dr. Loe Ping Kian.

Dalam artikel Star Weekly berjudul "Djakarta Membangun Rumah2 Sakit Baru" yang terbit pada 7 Januari 1956, RS Sin Ming Hui disebut-sebut sebagai RS paling modern di ibu kota bahkan (kemungkinan) di Asia Tenggara.

Melalui kabar artikel tersebut, dilaporkan Sin Ming Hui akan mempunyai kapasitas 800 ranjang untuk pasien.

Baru pada 1958, RS ini selesai pembangunannya dan memulai melayani pasien ibu kota.

Sesuai dengan misi perkumpulannya, RS Sin Ming Hui mengutamakan pertolongan bagi rakyat kecil yang bersifat nonprofit/sosial.

Desain bangunan RS itu sendiri dirancang oleh arsitek Belanda kenamaan, Johannes Martinus Groenewegen, yang mempunyai segudang pengalaman membangun arsitektur monumental di Indonesia, di antaranya Gereja Katedral, Medan, dan Gedung Java Bank, Jakarta.

Pada pertengahan 1960-an, sesuai instruksi Presiden Sukarno dalam menghapus nama-nama berbau asing, nama Perkumpulan Sin Min Hui pun berubah menjadi Candra Naya.

Nama RS Sin Ming Hui pun ikut terkena dampaknya di mana namanya kemudian menjadi RS Sumber Waras dan dipakai hingga abad ke-21.

---

Referensi: Budaya-tionghoa.net | Star Weekly | Rssumberwaras.co.id | Benny G. Setiono, "Tionghoa Dalam Pusaran Politik"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini