Depati Amir, Menyatukan Masyarakat Melayu dan Tionghoa di Pulau Bangka

Depati Amir, Menyatukan Masyarakat Melayu dan Tionghoa di Pulau Bangka
info gambar utama

Pada 2018, untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia memberi gelar pahlawan nasional kepada tokoh asal Provinsi Bangka Belitung. Ia adalah Depati Amir yang dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keppres Nomor 123/TK/tahun 2018 tanggal 6 November 2018

Lahir di Mendara, Bangka, pada 1805, Depati Amir merupakan seorang putra dari bangsawan Bangka yang bernama Depati Bahrin. Sebelum mendapat gelar depati, Amir telah menjadi tokoh berpengaruh di Bangka. Amir pernah memimpin masyarakat untuk menumpas perompak di sekitar perairan Bangka.

Pada 1830, Amir diangkat menjadi depati oleh pemerintah Hindia Belanda. "Depati adalah gelar yang diberikan Sultan Palembang kepada para elite di Bangka," tulis Erwiza Erman dalam Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung. Lebih lengkapnya, Depati merupakan gelar yang diberikan oleh Kesultanan Palembang bagi seorang kepala sebuah atau beberapa kampung. Ayah Amir sendiri yang menyandang gelar Depati sebelumnya memimpin Kampung Mendara dan Mentadai.

Namun, gelar ini ditolak Amir lantaran keinginannya untuk menjadi rakyat biasa. Walaupun begitu, Amir tetap mempunyai pengaruh yang besar di Bangka.

Bersama Masyarakat Tionghoa Berontak Terhadap Belanda

Meskipun menolak jabatan depati, Amir tetap dipanggil demikian oleh rakyat Bangka. Amir dipandang tinggi oleh rakyat setempat dan juga pemerintah kolonial bukan hanya karena putra depati, tetapi juga karena sepak terjangnya menumpas perompak di perairan Bangka bersama 30 pengikutnya.

Memilih menjadi orang biasa yang bebas tidak serta merta membuat Amir tidak diacuhkan aparat kolonial. Karena pengaruhnya yang besar dan namanya terpandang, pemerintah kolonial Belanda kerap menaruh curiga padanya.

Perjuangan Depati Amir bermula dari urusan keluarganya dengan Belanda. Saat itu, Belanda mulai membuat parit-parit tambang timah di Pulau Bangka dan berkongsi dengan Depati Bahrin untuk mengeruk timah di tanah miliknya. Namun, Belanda tidak memenuhi kewajibannya untuk membayarkan hasil tambangnya. Hal itu menyulut Depati Amir mengajukan tuntutan kepada perusahan Belanda tersebut dan mendapat dukungan dari masyarakat Bangka.

Pulau Bangka menjadi tempat bermukimnya etnis Tionghoa pada masa itu. Singgah, berdagang, menetap, hingga beranak pinak. Peranan mereka juga besar dalam melawan pemerintah kolonial Belanda yang membuka perusahaan tambang timah di pulau tersebut.

Pemerintah kolonial dengan perusahaan timah miliknya menekan warga pribumi. Banyak dari penduduk kampung Bangka yang mengalami tekanan akibat kerja rodi membangun infrastruktur untuk kepentingan birokrasi kolonial. Selain warga Melayu Bangka, warga dari kalangan Tionghoa juga ikut sengsara karena mesti kerja rodi sebagai pekerja tambang. Dengan penderitaan yang sama dari dua etnis berbeda, timbulah rencana pemberontakan.

Rakyat dan pemimpin lokal Bangka beserta masyarakat Tionghoa mendukung Amir. Dalam jurnal Dien Madjid yang berjudul "Depati Amir and Chinese People's Resistance against Dutch Colonialism in Bangka, 1848-1851: An Archival Study" diterangkan kolaborasi Depati Amir dengan orang Tionghoa. Selain itu, menurut dokumen di Arsip Nasional Republik Indonesia, Depati Amir melawan Belanda bersama orang Tiongkok yang telah dipersenjatai dengan tombak, klewang, dan lain sebagainya. Senjata-senjata tersebut dibarter dengan timah dengan cara menyelundupkannya lewat Singapura. Perlawanan Depati Amir kemudian meluas di sepanjang pesisir timur Bangka.

Infografik Depati Amir.
info gambar

"Peran Depati Amir juga berhasil menyatukan orang Tionghoa dan pribumi dalam menghadapi kolonial Belanda. Kharisma dan pengaruh Depati Amir mampu memobilisasi rakyat Bangka dan orang Tionghoa untuk ikut berperang," ujar sejarawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, dikutip GNFI dari Tempo.

Amir dan pasukannya terus bertahan dari buruan dengan menggalakkan pertempuran kecil satu demi satu. Pemberontakan Amir menjadi isu yang cukup serius di Hindia Belanda seperti dicatat pejabat kolonial dalam Koloniaal Verslaag tahun 1851 dan 1852. Belanda yang kewalahan sampai harus mendatangkan pasukan tambahan dari Palembang dan Batavia.

Pengasingan

Pada 1849, setelah gagal ditangkap Belanda di Pangkalpinang, Amir bersama dengan Aim dari Blinyu, King Tjoan, Budjang Singkep, Akei Asan alias Si Hasan, Oebien, Bengol, Tata, Dayo, Dasum, hingga centeng bernama Ko So Sie mendatangi kantor pemerintahan. Tindakan Depati Amir menyulut pergolakan di Bangka sehingga membuat Residen Belanda untuk Bangka, F. van Olden, mengutus pejabat-pejabat penting untuk menangkapnya. Namun, usaha tersebut gagal.

Perlawanan Amir baru dapat ditumpas sesudah dilakukan taktik menohok dari belakang. Belanda menyuap uang sebesar 1.000 dollar Spanyol kepada tujuh orang panglima dan 36 pasukan. Mereka terpaksa menyerah lantaran kekurangan logistik dan kelelahan fisik dalam menjalankan perang gerilya. Pada 7 Januari 1851, Amir berhasil ditangkap dalam kondisi sakit di distrik Sungaiselan.

Seperti halnya Pangeran Diponegoro di Jawa, Depati Amir harus mengalami nasib pengasingan karena dianggap pemberontak yang meresahkan. Berdasarkan keputusan tanggal 11 Februari 1851, pemerintah mengasingkan Amir ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebagian pengikut setia Amir juga diasingkan ke Ambon, Banda, dan Ternate.

Setelah pengasingan Amir, Belanda semakin leluasa menjarah timah di bumi Bangka. Ditumpasnya perlawanan Amir mempertegas pembentukan dan pengawasan wijken (kampung) di Bangka dan Belitung. Sistem perkampungan (Wijkenstelsel) demikian, kata sejarawan Universitas Indonesia, Servulus Erlan de Robert, melokalisasi wilayah berdasarkan etnis untuk memudahkan pengawasan dan meminimalisasi konflik sosial di kawasan tertentu sebagaimana telah dijalankan sejak masa VOC.

Nama Depati Amir diabadikan menjadi nama bandar udara di Bangka.

Amir tak berhenti. Selama di pengasingan, ia tetap berjuang sebagai penasihat perang bagi raja-raja Timor yang juga sedang berjuang melawan penguasaan kolonial sekaligus menyebarkan ajaran agama Islam. Pada 28 September 1869, Amir wafat dan dimakamkan di Pemakaman Muslim Batukadera, Kupang.

''Secara kultural, Depati Amir sebenarnya telah diakui sebagai pahlawan bagi masyarakat Bangka," kata sejarawan dan peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erwiza Erman dikutip GNFI dari Historia. Meskipun diasingkan jauh dari Bangka, nama Depati Amir tetap dikenang oleh warga Pulau Bangka. Namanya pun diabadikan sebagai nama bandar udara di Kota Pangkalpinang yang ditetapkan pada 1999. Tak hanya bandara, karena tak jauh dari situ juga terdapat stadion sepak bola yang memakai namanya.

Perjuangan Amir memperlihatkan semangat perjuangan yang tak memandang perbedaan. Ia tetap bisa bekerja sama dengan orang dari etnis lain untuk mencapai tujuan bersama demi mempertahankan rakyat dan tanah kelahirannya.

Pahlawan Nasional Pertama Provinsi Bangka Belitung

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Depati Amir dikukuhkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2018. Ini merupakan kali pertama tokoh Provinsi Bangka Belitung menyumbangkan seorang pahlawan nasional.

Menurut Elvian, peristiwa perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Amir adalah peristiwa sejarah yang besar dan harus dikabarkan ke seluruh negeri. Bahwa serpihan-serpihan perjuangan di Bangka adalah bagian dari perjuangan sejarah bangsa Indonesia dan selayaknya menghiasi halaman buku sejarah nasional.

"Ketika bagian lain wilayah di negara ini sedang belajar kebhinnekaan, Depati Amir dan rakyat Bangka sudah mempraktikkan kebhinnekaan dalam persatuan untuk melawan musuh bersama, yaitu penindasan Belanda. Berbagai etnis dipersatukan menjadi energi yang besar untuk melawan penjajahan," ujar Elvian.

---

Referensi: Historia.id | Detik.com | Tempo.co | Erwiza Erman, "Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung" | Dien Madjid, "Depati Amir and Chinese People's Resistance against Dutch Colonialism in Bangka, 1848-1851: An Archival Study"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini