Sejarah Hari Ini (13 Januari 1948) - Perundingan dengan Komisi Tiga Negara di Kaliurang

Sejarah Hari Ini (13 Januari 1948) - Perundingan dengan Komisi Tiga Negara di Kaliurang
info gambar utama

Kaliurang adalah daerah sejuk di bawa kaki Gunung Merapi yang berada dalam wilayah Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Pada 13 Januari 1948, Kaliurang dipilih sebagai tempat perundingan khusus yang membahas permusuhan Indonesia-Belanda dengan Komisi Tiga Negara (KTN).

Saat itu Indonesia diwakili oleh Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, Perdana Menteri Syahrir, dan Jenderal Sudirman.

Sementara KTN terdiri dari Richard Kirby (Australia), Paul van Zeeland (Belgia), dan Frank Graham (Amerika Serikat). Kirby dipilih Indonesia sedangkan van Zeeland pilihan Belanda, dan Graham dari pihak netral.

Adapun perundingan ini digelar karena pemerintah RI dan partai-partai politik di Yogyakarta tidak dapat menerima isi pokok Perundingan Renville yang mulai dihelat pada 8 Desember 1947.

Pembicaraan Kaliurang yang tepatnya dihelat di sebuah penginapan di Kaliurang Barat, Desa Hargobinangun, Pakem, menghasilkan Notulen Kaliurang yang menyatakan RI tetap memegang kekuasaan atas daerah yang dikuasainya pada waktu itu.

Anggota KTN dari AS, Frank Graham, melontarkan kalimat yang terkenal pada saat itu, yaitu: "You are what you are and from bullet to ballot" yang kurang lebih berarti dari peperangan ke plebesit atau penentuan pendapat rakyat.

Wisma Kaliurang yang berada dalam naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
info gambar

Jauh setelah peristiwa itu, tempat Perundingan Kaliurang kini menjadi salah satu peninggalan sejarah di daerah Yogyakarta.

Sering disebut Wisma Kaliurang, tempat ini kerap dijadikan tempat penginapan bagi umum yang hendak melakukan kegiatan komunitas.

Bangunan Wisma Kaliurang pada mulanya merupakan tempat peristirahatan dan rekreasi orang-orang Belanda yang mengelola perusahaan perkebunan di sekitar Kaliurang. Bangunan ini didirikan oleh orang-orang Eropa sekitar pada permulaan abad 20.

Pada pertengahan 2020 dalam situasi pandemi Covid-19, tempat ini ditinjau kembali oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memeriksa kerusakan-kerusakan yang ada.

---

Referensi: Kebudayaan.Kemdikbud.go.id | Abdul Haris Nasution, "Sedjarah Perdjuangan Nasional di Bidang Bersendjata" | Pramoedya Ananta Toer, "Kronik Revolusi Indonesia: 1948"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini