Terbaru! Selain R80, Inilah Pesawat Terbang Kebanggaan Indonesia

Terbaru! Selain R80, Inilah Pesawat Terbang Kebanggaan Indonesia
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #BanggaKaryaAnakBangsa

Kawan GNFI, setelah mengantongi sertifikat untuk pesawat terbang tipe N219 Nurtanio dari Kementerian Perhubungan pada Desember lalu, Senin (25/1) lalu, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diagendakan untuk bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengembangkan tipe pesawat terbang dengan mengusung nama N219 Amphibi.

Sesuai dengan namanya, pesawat tipe ini dapat berfungsi secara amfibi, yang dalam konteks penerbangan selain dapat mengudara, pesawat ini diharapkan akan dapat mendarat baik di daratan, maupun permukaan air dengan ketinggian ombak maksimal 0,3 meter.

Perlu Kawan ketahui, sebagaimana dilansir dari Kementerian Perhubungan, Pesawat N219 Nurtanio ialah pesawat udara kategori komuter, high-wing monoplane dengan mid tail empennage, dilengkapi oleh unpressurized cabin berkapasitas maksimum 19 penumpang. Untuk mengudara, didukung oleh 2 engine turbopropPT6A-42 dengan 4 bilah propeller Hartzell.

Selanjutnya, untuk kenyamanan pada saat mendarat di daratan, pesawat ini dilengkapi pula dengan roda pendarat tipe fuselage mounted non-retractable tricycle. Sementara untuk sistem komunikasinya, disertai oleh sistem navigasi-komunikasi Garmin 1000 Next Generation. Pesawat komuter karya anak bangsa ini akhirnya berhasil mendapatkan izin produksi setelah bersertifikat dari Kementerian Perhubungan yang proses sertifikasinya dijalani selama kurang lebih 7 tahun.

Sertifikasi Pesawat N219 Nurtanio pada Desember lalu ini bisa dikatakan sebagai kebanggaan bangsa. Disampaikan oleh Direktur Utama PTDI, Elfien Guntoro, sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia untuk pertama kali berhasil menyelesaikan sertifikasi pesawat yang sepenuhnya merupakan karya anak bangsa dan juga merupakan prestasi pertama bagi PT Dirgantara Indonesia, serta Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk dapat menyelesaikan evaluasi dan tes bagi produk pesawat terbang nasional dengan kompleksitas cukup besar.

Walaupun sepenuhnya diproduksi oleh anak bangsa Indonesia, dikutip dari Kompas.com, Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa Pesawat N219 Nurtanio baru memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 44,69 persen yang sudah terbilang cukup besar untuk level industri aviasi di Indonesia. Maka dari itu, PTDI menyatakan harapannya dengan produksi Pesawat N219 Amphibi ke depan agar komponen produksi dari dalam negeri dapat ditingkatkan menjadi lebih dari 50 persen.

Tahukah kawan? Nama Pesawat N219 Nurtanio ini diambil sebagai penghormatan terhadap Bapak Dirgantara Indonesia, Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo. Lahir di Desa Kandangan, Kalimantan Selatan, pada 3 Desember 1923, Nurtanio bercita-cita besar, yakni untuk terbang keliling dunia dengan pesawat terbang karya bangsanya.

Ia gugur pada 21 Maret 1966 di usia 42 tahun setelah melakukan uji coba Pesawat Api Revolusi (Arev) yang ia modifikasi dari rongsokan pesawat rakitan Cekoslowakia. Nurtanio meninggalkan warisan pesawat intai bersenjata yang dinamai Sikumbang.

Dengan pemberian nama tersebut pada peresmiannya yang bertepatan dengan Hari Pahlawan 2017 lalu, Presiden Joko Widodo berharap agar seluruh proses sertifikasi Pesawat N219 Nurtanio dapat berjalan lancar sehingga dapat menjadi jalan keluar distribusi logistik nasional. Sertifikasi inipun akhirnya berhasil diselesaikan pada Desember lalu.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
info gambar

Pesawat N219 Nurtanio ini direncanakan agar terdiri dari beberapa versi. Sebagai kelanjutan komitmen negara terhadap pengembangan Pesawat N219 Nurtanio, dicanangkanlah produksi prototipe pesawat ini untuk salah satunya yakni versi amfibi yang dipopulerkan dengan nama Pesawat N219 Amphibi.

Bermula lebih awal sebelum sertifikasi tipe untuk Pesawat N219 Nurtanio, PTDI sebagai pabrik pesawat terbang kebanggaan Indonesia memperoleh mandat dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara, Novie Riyanto pada September lalu untuk mendukung kinerja pengembangan lima seaport. Hal inilah yang kemudian mendorong PTDI beserta LAPAN untuk menggenjot kembali penelitian dan pengembangan di bidang aviasi, khususnya untuk memproduksi moda transportasi udara versi amfibi yang dikembangkan dari Pesawat N219 Nurtanio ini.

Tahap produksi Pesawat N219 Amphibi terdiri dari tiga tahap. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia Desember lalu, PTDI menyatakan bahwa proses produksi telah memasuki tahap Preliminary Design. Di tahap ini, model aerodinamika akan diuji baik menggunakan wind tunnel maupun computational fluid dynamic. Analisis struktur dan sistem kendali secara besar-besaran juga dilakukan pada tahap ini.

Bagian akhir dari tahap ini, yakni berupa perbaikan pada sketsa dengan melengkapi dimensi geometri pesawat beserta parameter-parameternya untuk diselesaikan sehingga dapat dinyatakan sebagai desain mendetail.

Setelahnya akan dilanjutkan dengan tahap kedua, yakni Prototyping & Structure Test sebagai uji kelanjutan dari desain pesawat untuk produksi prototip sehingga akhirnya mencapai tahap ketiga. Tahap ketiga, yaitu Development Flight Test untuk uji kelaikan yang dilakukan pada prototipe pesawat agar dapat lepas landas, terbang, dan mendarat dengan aman dan nyaman. Setelah tuntas, akan dilanjutkan dengan proses sertifikasi dan produksi massal.

Kelak, ketika telah mendapatkan izin dan mulai diproduksi massal, Pesawat N219 Amphibi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang notabene merupakan negara kepulauan, bahkan hingga keperluan mancanegara seiring dengan antusiasme negara lain terhadap Pesawat N219 Nurtanio.

Selain sebagai solusi ditribusi logistik nasional, Pesawat N219 Amphibi juga dapat difungsikan untuk evakuasi korban bencana, transportasi di wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP), hingga moda transportasi pariwisata maritim baik di danau maupun pulau-pulau kecil.

Bagaimana, kawan? Mulai kembali optimis dengan industri aviasi bangsa?

Referensi:Kementerian Perhubungan | Bisnis.com | Kompas.com | CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini