PPID SUPER: “Bagaimana Nasib Budaya Indonesia dalam Dunia Pendidikan?”

PPID SUPER: “Bagaimana Nasib Budaya Indonesia dalam Dunia Pendidikan?”
info gambar utama

Pada hari Minggu, 24 Januari 2021, Bidang Pengabdian Masyarakat Direktorat PPM PPI Dunia 2020 – 2021 mengadakan program bernama PPI Dunia SUPER (Suara Pengabdian untuk Rakyat) yang bertemakan “Bagaimana Nasib Budaya Indonesia dalam Dunia Pendidikan?”. Program ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian para pelajar Indonesia di luar negeri terhadap nasib budaya Indonesia dalam Dunia Pendidikan untuk mengkaji dan berdiskusi secara matang mengenai pendidikan berbasis budaya.

Acara ini diawali dengan sambutan oleh Choirul Anam SE, ME, Ak, CA, Ph.D (Cand.) selaku Koordinator PPI Dunia periode 2020 – 2021. Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa budaya menjadi salah satu topik yang menarik untuk pelajar Indonesia di luar negeri dan merupakan salah satu misi yang berharap bahwa mahasiswa luar negeri atau para PPI Dunia secara keseluruhan memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Budaya menjadi satu titik tolak sebagai bagian dari nafas pendidikan, agar mengetahui apa itu budaya yang sebenarnya dan bagaimana kita menempatkan budaya itu terutama dalam konteks pendidikan untuk semua mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri maupun mahasiswa yang ada di Indonesia.

Menghadirkan tiga orang pembicara yang sama-sama aktif dalam bidang pendidikan budaya dan pengembangan musik – Addie Muljadi Sumaatmadja (Musisi dan Konduktor Twilite Orchestra), Didik Hadiprayitno (Indonesia Dance Maestro), Laras Kusumadewi (Traditional Dancer) – dengan harapan forum diskusi ini dapat menghadirkan solusi bagi peningkatan nasib budaya Indonesia dalam dunia pendidikan, melalui kontribusi dari segala pihak.

Dalam diskusi sesi pertama, dengan pertanyaan: “Kenapa kaum milenial lebih suka untuk belajar budaya asing dibandingkan budaya negaranya sendiri?”. Addie Muljadi Sumaatmadja mengatakan tanpa kepedulian yang serius dan support dari pemerintah rasanya sulit untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap seni budaya Indonesia yang belum terasa hingga saat ini. Contohnya, di Korea, yang dimana pemerintahnya mengeluarkan dana untuk menumbuhkan industri kreatif dengan penyisihan dana dari pemeritah yang luar biasa dan dikembangkan dengan serius. Didik Hadiprayitno mengatakan, dalam seni pertunjukan seni tari pun mengalami hal yang serupa. Salah satunya, pengiriman seni pertunjukan tari keluar negeri yang di beberapa daerah masih menggunakan sistem kekerebatan keluarga yang dimana kurang nya ahli dalam seni tari dibandingkan penari yang sudah ahli sehingga menurunnya kualitas professional tari. Yang seharusnya diberantas untuk menunjukkan kualitas tari yang baik. Laras Kusumadewi mengatakan, dalam tiga kategori tari yang diajarkan yaitu modern dance, k-pop dance, dan traditional dance, mereka lebih memilih k-pop dance daripada traditional dance. Di sisi lain, orang Indonesia masih menganggap bahwa orang seniman itu rendah, pemerintah pun tidak mendukung para seniman untuk membuat suatu acara yang besar dan dengan modal yang sangat sedikit.

Dalam diskusi sesi kedua, dengan pertanyaan: “Bagaimana meningkatkan minat masyarakat Indonesia terhadap lagu-lagu daerah ?”. Addie Muljadi Sumaatmadja mengatakan cukup ingin tahu bagaimana materi pendidikan seni budaya pada anak-anak di sekolah, dari beberapa interaksi kepada anak-anak sangat prihatin bahwa mereka tidak tau tentang lagu-lagu daerah. Dalam hal ini Addie Muljadi Sumaatmadja, untuk meningkatkan rasa minat dan tau terhadap lagu-lagu daerah membuat broadcast simfoni lagu-lagu daerah dari 34 provinsi, sehingga rekaman simfoni tersebut banyak di dengarkan oleh semua kalangan masyarakat. Didik Hadiprayitno mengatakan, dalam video lathi beberapa orang mengatakan bahwa makna dari lagu tersebut adalah lagu untuk mengundang setan, dalam hal ini syair dan bahasa daerah jawa artinya harus dipahami agar tidak salah interpetasi karena Indonesia kaya akan budaya dan bahasa daerah yang harus dipahami.

Di akhir sesi penyampaian tema, Addie Muljadi Sumaatmadja selaku musisi dan konduktor twilite orchestra, menyampaikan bahwa untuk anak muda yang terus menerus bertumbuh dan berkembang mewakili Indonesia dalam menghadapi kerentanan globalisasi agar menggali identitas sebagai orang Indonesia, untuk menggali kemampuan dalam menunjukkan seni budaya Indonesia yang relavan dengan situasi sekarang, dan jangan gampang mengeluh buatlah sesuatu dari diri sendiri dan meyakinkan sekitar untuk peduli. Didik Hadiprayitno selaku Indonesia Dance Maestro, menyampaikan bahwa sebagai generasi muda harus banyak belajar, karena dengan mengetahui kita akan bangga sebagai bangsa Indonesia dan mengerti itu adalah identitas Indonesia. Laras Kusumadewi selaku Traditional Dancer, menyampaikan bahwa tetap tekun, sabar, optimis terhadap mimpi dan semangat dalam melestarikan budaya Indonesia.

Penulis: Ayu Kamalia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini