Sejarah Hari Ini (5 Maret 1939) - Benyamin Sueb, Seniman Betawi Berdarah Jawa

Sejarah Hari Ini (5 Maret 1939) - Benyamin Sueb, Seniman Betawi Berdarah Jawa
info gambar utama

Benyamin Sueb (sejumlah sumber menuliskannya: Suaeb) adalah seniman multitalenta yang lahir di Jakarta (kala itu Batavia), tepatnya Kampung Utan Panjang, Kemayoran, pada 5 Maret 1939. Ia merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara.

Mengutip dari Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia karya Wahyuni, Bang Ben - sebagaimana ia sering dipanggil oleh juniornya - tidak murni berdarah Betawi. Ayahnya merupakan orang asli Purworejo, Jawa Tengah, yang bernama Sukirman.

Setelah hijrah ke Jakarta, Sukirman mengubah namanya menjadi Sueb dan nama itu kemudian nyantel di belakang nama Benyamin.

Semasa kecil, Benyamin usilnya bukan main. Engkongnya (panggilan orang Betawi untuk kakek), Haji Ung/Jiung, seringkali menjadi sasaran kebadungannya yang memicu tawa. Dari situ, bakat melucu pun mulai berkembang dari tingkah polanya.

Sempat jadi kondektur bus, Benyamin banting setir ke dunia seni. Ia mengawalinya di jalur musik bersama grup Naga Mustika yang berbasis di Cengkareng.

Dari musik lanjut ke layar lebar. Benyamin kemudian diajak main film oleh kritikus film, Chaidir Rahman. Namanya kian berkibar karena dibantu oleh mentornya, Bing Slamet, yang menjadi bintang film komedi saat itu.

Film-film Benyamin terkenal pada masanya. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara tetangga. Lawan main Benyamin di film Ratu Amplop (1974), Connie Sutedja, mengakui itu. Connie bercerita, saat ia pergi ke Singapura seorang supir taksi berbicara mengenai popularitas film-film Benyamin di negaranya.

"Kalau Benyamin di sini (Singapura) filmnya sebulan di bioskop, di tv-tv diputar terus," cerita Connie mengulang curhatan supir taksi tersebut, dikutip GNFI dari Discography Kompas TV.

Semakin tua, semakin jadi. Usia tidak membuat kepopuleran Benyamin tergerus. Namanya justru makin berkibar saat usianya menginjak 50-an. Kala itu ia bermain di sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang mulai tayang pada 1994.

Di sinetron tersebut, Benyamin memerankan babeh (ayah) Kasdullah/Doel, Sabeni, yang punya watak suka mencak-mencak tapi kocak. Namun, Benyamin tidak lama di Si Doel karena ia meninggal dunia pada 5 September 1995 akibat serangan jantung. Benyamin kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, bersebelahan dengan Bing Slamet yang dianggap sosok sahabat dan guru baginya.

Meskipun sudah tiada, apresiasi untuk Benyamin yang mengenalkan kesenian Betawi tidaklah pudar. Nama Benyamin kini dipakai sebagai nama taman di gedung bekas Kodim yang berada di daerah Jatinegara. Nama panggilannya "Ben" juga menjadi identitas dari radio Bens Radio yang bertahan sejak 1990 hingga kini.

---

Referensi: Wahyuni, "Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia" | "Film Majalah (1995)" | Pusat Data dan Analisa Tempo, "Kiprah Seumur Hidup Benyamin S Dalam Berkesenian"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini