2 Tahun Hilang, Ini Tradisi Dandangan Khas Kota Kudus Sambut Ramadan

2 Tahun Hilang, Ini Tradisi Dandangan Khas Kota Kudus Sambut Ramadan
info gambar utama

Masyarakat Kudus yang ingin menyemarakkan Ramadan dengan tradisi dandangan perlu bersabar. Pasalnya, Pelaksana tugas Bupati Kudus, HM Hartopo menegaskan tradisi Dandangan yang kerap digelar saban Bulan Ramadan, untuk tahun ini ditiadakan.

Hal ini merupakan tahun kedua tradisi khas ramadan di kota kretek ini ditiadakan. Kondisi ini mengingat masih masa pandemi dan daerah setempat juga masih berstatus zona oranye penularan COVID-19.

"Hasil rapat evaluasi, Pemkab Kudus tidak berani menyelenggarakan Tradisi Dandangan tersebut dengan berbagai pertimbangan," katanya dalam Antara, Senin (26/4/2021).

Dirinya sendiri optimis bisa mengatur para pedagang, sedangkan pengunjung yang berasal dari luar daerah dipastikan sulit dibendung.

"Kerumunan dipastikan sulit dibendung karena pengunjungnya berasal dari luar Kudus dan pintu masuknya juga banyak," katanya.

Berdasarkan catatan Dinas Perdagangan Kudus, pedagang yang hadir di acara dandangan itu sekitar 90 persennya merupakan warga luar kota, termasuk pengunjungnya juga didominasi warga luar kota.

Pengalaman sebelumnya, tradisi dandangan mampu menampung 500-an pedagang, meliputi pedagang yang berjualan menempati gerai serta lesehan. Namun pada tahun sebelumnya ditiadakan karena pandemi.

Tradisi Dandangan di Kudus biasanya diramaikan dengan kirab Dandangan dengan menampilkan potensi budaya beberapa desa di Kudus dengan rute kirab di jalan-jalan protokol.

Setibanya di Alun-alun, peserta kirab melakukan adegan untuk menceritakan perkembangan Islam secara sederhana.

Seremonial tersebut biasanya ditutup dengan pemukulan bedug yang dilakukan oleh pejabat instansi terkait, sekaligus dimulainya awal bulan puasa Ramadan.

Asal mula tradisi Dandangan

Kudus termasuk daerah tempat berkembangnya agama Islam di Nusantara. Di sana terdapat tradisi yang telah berkembang di kalangan santri sejak Wali Songo.

Tradisi khas ini bernama Dandangan. Dandangan merupakan sebuah festival di Kudus untuk menandai dimulainya ibadah puasa di Bulan Ramadan.

Dilansir dari Kemdikbud.go.id, pada mulanya, Dandangan merupakan tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa.

Kata “Dandangan” sendiri berasal dari onomatope suara bedug khas Masjid Menara Kudus. Ketika bedug ditabuh, muncul suara yang nyaring, “Dang!” yang menjadi bunyi tanda awal datangnya Bulan Ramadan.

Pada abad ke 16, tradisi ini dilakukan setelah Sunan Kudus mengumumkan hari awal puasa. Waktu itu, Sunan Kudus memang salah satu ahli Ilmu Falak yang bisa mengetahui hitungan hari dan bulan dalam Kalender Hijriah.

Pemukulan bedug itu dilakukan dua kali di pelataran Masjid Menara Kudus. Pemukulan pertama ditunjukkan untuk mengumpulkan masyarakat, sementara pemukulan kedua dilakukan untuk membuka awal Bulan Ramadan yang dilakukan setelah salat Isya’.

Pada masanya, acara ini dihadiri langsung oleh murid-murid Sunan Kudus seperti Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadlirin dari Jepara, hingga Arya Penangsang dari Blora.

Seiring waktu, tradisi ini terus diwariskan secara turun temurun hingga sekarang. Sekarang tradisi ini berubah menjadi festival dan kirab budaya.

Saat diselenggarakannya tradisi ini, pengunjung dapat melihat atraksi-atraksi seni seperti Barongan Gembong Kamijoro. Tradisi ini juga semakin meriah dengan adanya pelaku usaha yang memamfaatkan untuk berjualan.

Geliat ekonomi dalam tradisi Dandangan

Tradisi Dandangan yang sudah berlangsung selama ratusan tahun tersebut, memang menjadi magnet dan penggerak ekonomi. Bukan hanya dari pedagang Muslim, tapi juga dari non-Muslim tetap memamfaatkan momen ini

Pasar kaget tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi Dandangan masyarakat Kudus. Kegiatan ini digelar sepuluh hari menjelang bulan Ramadan.

Pedagang yang memeriahkan tradisi Dandangan di depan masjid pada awalnya hanya menjual aneka makanan tradisional. Jumlah pedagang kemudian meningkat memasuki tahun 1980-an. Mereka tidak hanya menjual makanan tetapi juga menjajakan pakaian.

Pedagang yang datang untuk mencari keuntungan tidak hanya dari masyarakat lokal Kudus, melainkan hampir dari sejumlah daerah di Tanah Air ikut meramaikan tradisi tahunan tersebut.

Kesempatan tersebut, juga bisa dimanfaatkan warga Kudus yang ingin menikmati makanan maupun mainkan khas daerah lain, seperti kerak telur khas Betawi atau mainan kapal "otok-otok" khas Cirebon serta mainan gerabah khas Jepara.

Dilansir dari Antara, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengungkapkan hampir 350-an pedagang sudah memesan tempat untuk berjualan selama perayaan Dandangan di Kudus.

Terkait keputusan peniadaan tradisi ini, kata dia, akan disosialisasikan kepada pedagang karena sebelumnya sudah ada nama dan alamat pemesannya sehingga bisa dihubungi melalui telepon atau melalui pesan Whatsapp.

Ratusan pedagang tersebut, biasanya menempati sebagian ruas jalan atau di trotoar di Jalan Sunan Kudus, Jalan Madureksan, Jalan Kiai Telingsing, Jalan Pangeran Puger, Jalan Wahid Hasyim, Jalan KH A Dahlan, Jalan Menara serta Jalan Kudus-Jepara.

Untuk menampung ratusan pedagang tersebut, Dinas Perdagangan biasanya menyediakan gerai yang akan disewakan ke pedagang selama perayaan tradisi Dandangan serta lahan lesehan untuk para pedagang yang hendak berjualan secara lesehan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini