Tugas Anak Bangsa Memberitakan Kemampuan Negeri Sendiri

Tugas Anak Bangsa Memberitakan Kemampuan Negeri Sendiri
info gambar utama

Ada yang berpendapat bahwa sejarah itu ditulis oleh pihak yang berkuasa. Setelah perang dunia ke dua tahun 1945, dunia terbelah menjadi dua kutup, disatu kutup pihak barat – Amerika Serikat dan sekutunya; dipihak lain Uni Sovyet dan sekutunya.

Kebetulan, media global saat itu dan puluhan tahun setelah itu dikuasai oleh pihak barat. Sehingga semua narasi tentang sejarah dunia diberbagai media termasuk industri film Hollywood tentu dikuasai media barat. Informasi tentang negara-negara yang tidak pro barat tentu dinarasikan jelek. Kondisi itu terjadi sampai sekarang.

Baru-baru ini di ibu kota Rusia, Moskow, ada perhelatan tahunan peringatan Kemenangan pihak Uni Sovyet/Rusia melawan Nazi Jerman dalam perang dunia ke 2. Perhelatan itu diselenggarakan dengan pameran kekuatan Rusia saat ini. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya antara lain mengatakan perlunya sejarah dunia ditulis ulang atau “Rewrite”; karena sebenarnya pihak Uni Sovyet-lah dalam kontek perang dunia ke-2 yang paling menderita dan juga yang ikut memenangkannya.

Pihak tentara merah Rusia juga yang masuk pertama kali di kota Berlin dan itu menjadi titik balik balik hancurnya kekuasaannya Hitler. Pihak Rusia juga yang membebaskan kamp Auschwitz, di mana ratusan ribuan warga Yahudi dibunuh oleh pasukan Hitler. Tapi fakta sejarah itu menurut Putin, dimarginalkan oleh barat, sebagai gantinya informasi peranan pasukan sekutu yang ditonjolkan.

Berita-berita tentang negara-negara berkembang seperti Indonesia sejak dulu juga dinarasikan banyak hal-hal negatifnya ketimbang yang positif. Misalkan baru-baru ini ketika negara Korea Selatan meluncurkan pesawat tempur canggih KAI KF-21 Boramae kerjasama Korea Selatan dengan Indonesia; beritanya lebih banyak fokus pada kemampuan Korea Selatan membuat pesawat tempur canggih.

Sementara, berita tentang Indonesia sedikit sekali dan hanya berfokus pada ketidak sanggupan pihak Indonesia membayar sahamnya yang 20 persen dalam kerja sama itu, di mana hal ini mendapatkan kritikan keras dari pihak Korea Selatan.

Dalam menangani pandemi covid-19 saat ini juga terjadi narasi pemberitaan yang berat sebelah. Pihak Amerika Serikat dan Eropa selalu mengunggulkan temuan vaksin mereka dengan berbagai penjelasan ilmiah, dan memarginalkan vaksin temuan Rusia Sputnik V.

Putin membela produk Rusia ini berdasarkan pendapat para ahli penyakit menular Universitas Kedokteran Wina dan Ketua Lembaga Penyakit Menular dan Pengobatan Tropis Austria – Florian Thalhammer yang mengakui keunggulan Vaksin Sputnik V.

Bahkan Putin menggambarkan bahwa ketangguhan Sputnik V ini seperti senjata serbu buatan Rusia yang terkenal didunia yakni Avtomat Kalashnikova 47 atau AK 47. Pihak Amerika Serikat juga mengancam negara-negara sekutunya agar tidak membeli vaksin buatan Rusia.

Berita terbaru menyebutkan bahwa presiden AS Joe Biden mendesak dunia agar demi keselamatan manusia menghadapi virus mematikan corona 19 – hak paten vaksin di cabut. Artinya semua negara didunia berhak untuk memproduksi vaksin di negaranya masing-masing.

Desakan Biden ini menjadi perdebatan di Eropa. Kita tidak tahu apakah usulan Biden itu demi “kemanusiaan” atau sebenarnya targetnya adalah vaksin buatan Rusia. Vaksin akhirnya menjadi alat politik global dan ini ditentang oleh pihak WHO.

Di atas adalah contoh bagaimana berita tentang bagaimana negara-negara kuat berusaha mendominasi berita; sebenarnya masih banyak contoh–contoh lainnya.

Dengungkanlah kabar baik tentang Indonesia

Kita di Indonesia, menjadi konsumen pertarungan berita-berita global itu dan sering menjadi korban pemberitaan yang bernada negatif. Yang diperlukan bangsa ini adalah rasa kebangsaannya atas kemampuannya sendiri.

Tidak harus menafikan berita negatif yang terjadi di negeri ini; namun hal-hal yang positif tentang kita juga perlu ditonjolkan.

Kalau pihak asing tidak berkehendak memberitakannya, maka itu tugas kita anak bangsa yang memberitakannya. Misalkan dalam berita tentang kerjasama pembuatan pesawat tempur canggih dengan Korea; jarang (hampir tidak ada) berita misalkan dalam kerja sama itu Indonesia mengirimkan puluhan insinyur yang hebat di dunia industri dirgantara ke Korea Selatan dan terlibat dalam pembuatan pesawat tempur itu.

Kitalah yang berkewajiban untuk memberitakan kemampuan hebat anak bangsa, karena ini diperlukan untuk memberi informasi pada generasi baru kita secara seimbang.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus professional di kota kelahirannya, Surabaya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini