Dari Atas Kawah Ijen, Melihat Pekerjaan Paling Berbahaya di Dunia

Dari Atas Kawah Ijen, Melihat Pekerjaan Paling Berbahaya di Dunia
info gambar utama

Penambang belerang tradisional Kawah Ijen, mereka sepertinya tidak terpengaruh oleh udara yang begitu dingin. Dengan santainya mereka melepas baju dan menyeka keringat. Setiap hari mereka harus melintasi medan yang begitu curam.

Mereka juga harus membawa beban 70-80 kg di bahu mereka. Dalam sehari, para penambang bisa bolak-balik hingga 2-3 kali. Tidak aneh bila saat melihat bahu dan badan mereka, akan terlihat bekas gosong dan nampak mengeras.

Selain jalur yang curam, selama perjalanan membawa belerang, mereka juga akan menghirup asap belerang. Pagi hingga malam terpapar asap belerang membuat sebagian besar penambang terjangkit penyakit paru-paru.

"Kami ini tak takut mati atau penyakit mas, kami cuma takut kami dan keluarga kami kelaparan," seloroh Mochtar salah satu penambang dengan tertawa yang dikutip dari Phinemo.

Ratusan penambang belerang di kawah Gunung Ijen menempuh bahaya setiap hari dan bekerja tanpa perlindungan. Setiap hari mereka mengalami risiko menghirup asap beracun.

Mulianya Penambang Belerang di Kawah Ijen

Sejak dini hari, para penambang belerang mulai mendaki ke puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 meter. Hanya menggunakan senter di kepala, jaket tipis, dan sarung tangan.

Perjalanan ke puncak Gunung Ijen memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai ke puncak para penambang menuruni lereng yang terjal untuk menuju kawah. Di sekitar kawah Gunung Ijen itulah, mereka mengambil belerang.

Benar adanya jika profesi penambang belerang adalah pekerjaan paling berbahaya di dunia. Potret kesehatan mereka disana cukup memprihatinkan. Mengingat mayoritas mereka tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai, seperti masker atau safety respirator mask.

Mereka hanya mengandalkan gulungan kain basah lalu digigit begitu saja. Cara demikian sudah dilakukan secara turun menurun. Para penambang menyakini, cara ini ampuh melindungi paru-paru sekaligus menghindari risiko terdesak akibat paparan langsung uap belerang.

Ada banyak versi yang menyebutkan mengenani berapa penghasilan yang mereka dapatkan dari pekerjaan menambang batuan belerang setiap hari. Melansir dari BBC (26/5/2016), kisaran penghasilan para penambang dalam sehari adalah sekitar Rp150 ribu-Rp250 ribu dengan membawa 80-100 kg belerang. Dan uang itu langsung mereka dapatkan setelah menimbang dan menyerahkan belerang ke pengepul.

Jumlah itu merupakan jumlah yang besar bagi mereka. Sebab lima kali lipat lebih besar dari pada bekerja di kebun yang hanya mendapatkan penghasilan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu dalam sehari. Hal inilah yang membuat mereka tetap memilih menjadi penambang belerang.

"Kalau mau, bisa saja kami bertani atau berkebun, namun kami merasa ini jalan hidup kami. Masalah penghasilan. Di atas sudah ada yang mengatur mas, tiap orang punya rezeki sendiri-sendiri," ujar Mochtar melanjutkan.

Tapi pekerjaan ini memang membutuhkan tubuh yang supir fit dan terjaga. Pasalnya kalau tidak, bisa saja pingsan di tengah jalan atau terkena sakit. Oleh karena itu, bila kondisi sudah merasa tidak baik atau termakan usia. Mereka akan mencari pekerjaan lain, entah menjadi tukang ojek, pemandu bagi wisatawan atau berjualan.

Mulai beralih menjadi ojek troli

Mendaki ke puncak Kawah Ijen, pengujung bisa menempuh dengan dua cara : Berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek troli. Bila kamu memilih untuk menggunakan yang terakhir, biaya yang harus dibayar yakni berkisar antara Rp500 ribu-Rp700 ribu.

Ketika hendak mendaki, para ojek troli sudah mulai ramai menawarkan jasa mereka pada wisatawan. Mereka tidak pernah menyerah untuk merayu agar wisatawan naik troli.

"Ayo mas naik troli, Rp700 ribu sampai puncak," kata Mulyadi (42), salah satu tukang ojek troli yang dilansir dari Kompas.

Troli ini sendiri merupakan alat angkut dengan roda dua di bagian belakang. Bila mendaki, butuh empat orang untuk mengangkut wisatawan.

Satu orang di belakang bertugas mendorong, tiga orang di bagian depan untuk menarik. Troli tersebut akan mengangkut wisatawan sejauh 3,4 km dengan menembus jalan tanjakan.

Mulyadi awalnya adalah seorang penambang belerang di kawah ijen mulai tahun 2016. Namun sejak troli diperbolehkan, dia memilih sebagai ojek troli.

"Belerang sudah tidak memadai untuk dikerjakan bersama-sama," katanya.

Beberapa tahun silam, Kawah Ijen selalu menyimpan kisah ratusan penambang belerang yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Mereka menantang bahaya dengan setiap hari menghirup asap belerang, memanggulnya turun dari puncak gunung dengan harapan bisa membawa Rp150 ribu-Rp250 ribu untuk keluarga di rumah.

Tapi sekarang cerita telah berbeda, para penambang belerang tidak lagi memiliki daya tarik. Perlahan, mereka sudah menyudahi pekerjaan sebagai penambang. Mereka beralih menjadi tukang ojek wisata yang mengantarkan para pelancong naik dan turun ke Kawah Ijen.

Taman Bumi Di Ujung Timur Jawa

Kini, hanya tersisa beberapa penambang saja yang masih menjalani profesi seperti itu. Sebagian besar mereka sudah beralih menjadi ojek wisata roda tiga yang mengantarkan wisatawan ke Kawah Ijen.

Menurut Mulyadi, jumlah ojek troli di Kawah Ijen mencapai sekitar 100 orang. Namun tidak semuanya beroperasi secara bersamaan. Setiap hari Sabtu dan Minggu, Mulyadi selalu naik ke puncak Kawah Ijen mengadu nasib. Menawarkan jasa angkut pada wisatawan.

"Tergantung rezeki, belum tentu setiap naik dapat penumpang," katanya.

Namun, karena sudah tidak punya pilihan pekerjaan lain. Mulyadi tetap bersemangat menawarkan jasa ojek troli. Selain itu, kondisi medan Gunung Ijen yang banyak lereng memang kerap membuat para pengunjung letih. Para pengunjung yang harus bertemu banyak tanjangan memang menguras banyak energi.

Karena itulah, alternatif untuk naik ojek gunung menjadi pilihan yang tepat. Para pengunjung bisa menikmati Kawah Ijen tanpa rasa lelah berlebih. Sementara itu, para ojek troli memamfaatkannya untuk bisa mengais rezeki.

"Tapi paling banyak yang memakai jasa ojek itu ketika turun, karena mereka sudah lelah ya pas naiknya. Jadi turunya sudah tak kuat lagi, kalau tarifnya untuk turun paling murah Rp200 ribu," ungkap Hidayat salah satu tukang ojek di Pegunungan Ijen yang dilansir dari Sindonews.

Tapi dirinya mengaku pekerjaannya terdampak pandemi Covid-19. Sebab, wisatawan yang mendaki berkurang, sehingga penghasilannya juga ikut berkurang.

"Semoga Covid-19 bisa segera hilang," tuturnya.

Siapakah yang pertama kali mengenalkan Kawah Ijen?

Nama Gunung Ijen ternyata telah disebut-sebut tatkala seorang pangeran dari Kerajaan Wilis bergerilya melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari balik lereng pegunungan pada masa penjajahan. Meski akhirnya kalah, kisah ini membuktikan Ijen sebagai tempat persembunyian yang ideal bagi para pejuang Blambangan.

Tanahnya yang bergunung-gunung dan dipenuhi hutan lebat, sungguh menakutkan bagi orang luar. Kesan angker begitu melekat di wilayah tak bertuan ini.

Tapi nama Kawah Ijen mulai dikenal dunia sejak kedatangan dua turis asal Prancis, Nicolas Hulot dan istrinya Katia Kraft pada tahun 1971. Mereka menuliskan kisah pesona Kawah Ijen beserta kerasnya kehidupan para penambang bongkahan belerang di majalah Geo, Prancis. Dua hal inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan dan fotografer dunia.

Akhirnya wisata Kawah Ijen menjadi sebuah destinasi dunia. Fenomena blue fire Gunung Ijen, daun asam Kawah Ijen dan aktivitas kehidupan penembang belerang, setiap tahunnya telah menarik minat puluhan ribu wisatawan mancanegara untuk mendaki gunung ini.

Segala potensi ini membuat destinasi wisata Kawan Ijen yang berada di perbatasan dua kabupaten, Bondowoso dan Banyuwangi menjadi perebutan. Hingga saat ini. kedua kabupaten saling mengklaim bahwa destinasi wisata Kawah Ijen masuk di areanya.

Destinasi Wisata Petualangan Dipromosikan ke Pasar Singapura dan Thailand

Pemerintah Banyuwangi bersikukuh bahwa Gunung Ijen masuk wilayah mereka bedasarkan peta di zaman Belanda. Yakni Besoeki Afdeling 1895, Idjen Hooglan 1920, Java Resn Besoeki 1924 Blad XCIII C, dan Java Resn Besoeki 1925.

Sementara Pemerintah Bondowoso mengakui Gungung Ijen bedasarkan peta milik Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional tahun 2000. Dalam peta ini, Gunung Ijen itu dibagi dua, milik Banyuwangi dan Bondowoso.

Perebutan status kepemilikan Gunung Ijen sejak tahun 2006 memang karena potensi wisata dan tambang belerang yang dimilikinya. Kawah Ijen adalah kawah terbesar di dunia, warna dari kawah biru kehijauan yang sangat cantik juga menjadi daya tarik tersendiri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini