Mengulik 6 Tempat Legendaris Cikini, Sejarah yang Tersembunyi di Jakarta

Mengulik 6 Tempat Legendaris Cikini, Sejarah yang Tersembunyi di Jakarta
info gambar utama

Penamaan Cikini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, namun masih ditulis dengan ejaan ‘Tjikini’. Setelah masa kolonial Belanda berakhir, kata Tjikini diganti menjadi Cikini.

Menurut sejarawan Asep Kambali, Tjikini diambil dari dua kata, yaitu Tji artinya sungai, Kini adalah nama buah. Konon, buah Kini tumbuh subur di wilayah Menteng, Jakarta Pusat, dan Cikini adalah bagian dari Menteng.

Menurutnya saat orang Belanda menetap di Menteng, segala pepohonan tumbuh subur di sana. Bahkan menjadi wilayah taman kota pertama pada masanya.

"Kecenderungan nama diambil dari sesuatu yang dominan," kata Asep yang dikabarkan dari Merdeka.

Asep menambahkan, wilayah Cikini saat itu dikelola sangat baik. Pasalnya walau menjadi taman kota, wilayah tersebut malah menjelma menjadi pusat bisnis.

"Cikini memang kawasan elit," kata dia.

Berbagai aktivitas tidak pernah sepi di sepanjang Jalan Cikini. Banyak hal yang dilakukan di sini, mulai dari diskusi politik, olahraga, pertunjukan seni, tempat berkumpul, hingga menonton film. Tak heran jika di kawasan ini terdapat banyak restoran dan kafe.

Sementara itu sebelum didirikan bangunan Taman Ismail Marzuki, lahan itu digunakan sebagai Kebun Binatang Cikini sejak 1864. Pemerintah Kolonial Belanda juga membangun kolam renang dan beberapa lapangan untuk tempat olahraga.

Beberapa bangunan memang sudah hilang selang berjalannya waktu. Namun ada beberapa yang masih tersisa sebagai saksi perkembangan kawasan ini.

Ingin melihat lebih dalam tentang bangunan bersejarah di sepanjang jalan Cikini. GNFI pada Rabu (15/9/2021) menghadiri kegiatan Media Haritage Walk yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, apa saja gedung bersejarah yang masih bisa kita nikmati?

1) Kantor Pos Cikini

Foto kantor pos (Dok: Rizky Kusumo)

Kegiatan ini dimulai dengan mengunjungi Kantor Pos Cikini yang berdiri sejak zaman belanda. Dahulunya, kantor ini bernama Tjikini Post Kantoor.

Kantor Pos ini dibangun pada 1920 dan saat ini menjadi ikon utama Kawasan Cikini. Selain itu, Kantor Pos Cikini merupakan kantor pos pertama yang menerapkan pelayanan 24 jam.

"Kantor pos ini, termaksud bangunan eksrentik atau menarik pada zamannya dengan desain Art deco. Bangunannya kini masih asli, cuma mungkin ada beberapa perubahan. Misal keramiknya udah ganti. Makanya kalau di lihat di dalam, itu bangunannya simple banget," kata Huans Sholehan, seorang pemandu wisata dari Jakarta Good Guide.

Disini pun masih banyak menyimpan koleksi-koleksi kartu pos sejak zaman Belanda. Sebagai salah satu upaya untuk mengenang kejayaan Kantor Pos.

"Di Eropa, kartu pos jadi oleh-oleh yang paling ditunggu," kata dia.

2) Bakoel Koffie

Bakoel Koffie (IG: Hatsuko dx)

Beberapa langkah dari Kantor Pos, terdapat kedai kopi yang didirikan oleh keluarga Liauw Tek Soen. Dirinya datang ke Batavia kemudian membangun warung nasi pada tahun 1870-an.

Warung nasi ini awalnya berdiri di daerah Molenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk 56-57 Jakarta Barat), di sisi timur Kanal Molenvliet. Pada masa itu, Molenvliet merupakan jalur transportasi dari Kota Tua ke Kota Baru (Weltevreden) di bagian selatan Batavia.

Saat itu Tek Soen sering berbelanja bahan untuk warungnya pada seorang ibu pedagang yang menggunakan bakul. Inilah cikal bakal dari munculnya nama Bakoel Koffie yang menjadi inspirasi usaha selama empat generasi.

"Suatu Hari, ibu tersebut menawarkan biji kopi pada Tek Soen yang kemudian diolahnya. Sehingga warung milik Tek Soen malah terkenal dengan kopinya," jelas Huans.

Mereka mengawinkan kebudayaan Nusantara, kolonial Belanda, dan Tionghoa. Itu sebab penulisannya “koffie” (bahasa Belanda untuk kopi). Logo perempuan menyunggi bakul masih digunakan, tapi dalam bentuk lain, dan mengenakan kain panjang batik bermotif ikan, hewan yang diyakini masyarakat Tionghoa membawa keberuntungan.

3) Optik A. Kasoem

Foto optik A Kasoem (Dok: Rizky Kusumo)

Ada tempat bersejarah lain yaitu toko A. Kasoem atau memiliki nama asli Atjoem Kasoem. Dirinya merupakan pribumi pertama yang mendirikan pabrik kacamata di Indonesia, pabrik pertamanya terletak di Jalan Braga, Bandung.

"A. Kasoem memulai usahanya berjualan kacamata dengan door to door," jelasnya.

Huans mengatakan, beliau memutuskan untuk bersekolah tentang bisnis kacamata di Kurt Schlosser. Produk Kacamata milik A. Kasoem mulai dikenal sejak ia berkesempatan untuk menyediakan kacamata kepada para pejabat negara saat ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta.

Pabrik kacamata pertamanya didirikan di kampung halamannya di Cileles, Jawa Barat dan diresmikan oleh Wakil Presiden kedua Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Usaha keluarga Kasoem kemudian bukan hanya kacamata, tapi juga merambah ke alat pendengaran. Kini keluarga Kasoem tak hanya ingin agar orang-orang Indonesia bisa melihat dengan jelas, tapi juga mendengar dengan jelas

4) Rumah tiket Ibu Dibjo

Rumah tiket bu dibjo (Dok: Rizky Kusumo)

Di kawasan ini juga terdapat Rumah Ibu Dibjo yang begitu terkenal bagi pecinta konser era 1960-an. Rumah Ibu Dibjo memang dikenal sebagai tempat penjualan tiket-tiket pertunjukan.

Selain konser musik, ibu Dibjo juga menjual tiket film, pertandingan olahraga, dan lainnnya. Ia menjalani bisnisnya sejak 1963 di rumahnya.

"Ibu Dibjo ini dikenal sebagai ratu tiket Indonesia," bebernya.

Namun, saat ini rumah Ibu Dibjo sedang direnovasi, dan sedang pindah ke Jalan Ponorogo, Menteng. Mengikuti perkembangan zaman, saat ini Ibu Dibjo juga menjual tiketnya melalui website www.ibudibjo.com.

5) Roti Tan Ek Tjoan

Roti Tjan Ek Tjoan (Dok: Rizky Kusumo)

Cukup lelah, ditambah udara yang terik pagi itu, para peserta memilih beristirahat sejenak sembari menikmati Roti Tan Ek Tjoan. Pabrik roti legendaris ini berdiri sejak 1921 dan dianggap sebagai toko roti tertua di Jakarta dan Bogor.

Namun, sejak 2015 Pemprov DKI Jakarta melarang untuk adanya pabrik di tengah kota. Sehingga pabrik tersebut dipindahkan ke Ciputat, Tangerang Selatan.

"Awalnya, penjualan roti Tan Ek Tjoan ini ditargetkan untuk orang Belanda. Seiring perkembangan zaman, toko roti Tan Ek Tjoan semakin memperbanyak varian produknya untuk semua kalangan," jelas Huans.

Bila awalnya hanya memproduksi roti gambang yang bertekstur keras, Tan Ek Tjoan kemudian membuat varian yang bernama roti bimbam dengan tekstur lembut. Bimbam kini jadi roti favorit Tan Ek Tjoan.

Walaupun pabrik roti Tan Ek Tjoan yang berada di daerah Cikini sudah tidak ada. Para penggemar roti legendaris ini tetap bisa menikmatinya melalui pedagang gerobak yang menjualnya secara keliling.

6) Rumah Hasyim Ning: Lokasi syuting film legendaris Catatan Si Boy

Foto Rumah Hasyim Ning (Dok: Rizky Kusumo)

Hal yang begitu menyolok dari Jalan Cikini adalah rumah megah berwarna putih. Rumah dengan luas 1,5 hektare tersebut ternyata dimiliki oleh Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning (Hasyim Ning), seorang pengusaha asal Minangkabau, Sumatra Barat yang lahir pada 1916.

"Beliau mendapat julukan sebagai Raja Mobil Indonesia, karena ia memiliki usaha Impor mobil Amerika," ungkapnya.

Hasyim Ning kemudian mengembangkan usaha ke lini lain. Beberapa di antaranya adalah usaha ekspor-impor, kosmetik, bank, dan biro perjalanan. Dalam bisnis ekspor impor ia melakukan ekspor dan impor mobil, bahan rakitan mobil, sampai suku cadangnya.

Di bidang kosmetik, ia mendirikan pabrik kosmetik. Pendirian pabrik kosmetik dan bisnis lain yang dibangun Hasyim Ning sampai saat ini sudah mampu menyerap tak kurang dari 3.000 karyawan.

Selain menjalankan bisnisnya sendiri, Hasyim Ning juga dikenal sebagai salah seorang anggota dewan komisaris PT Jaya, Daha Motor, Jakarta Motor, Hotel Kemang, Asuransi Sriwijaya, PACTO, dan Central Commercial Bank.

Hasyim Ning juga mendirikan beberapa usaha lainnya, salah satunya adalah PT Bank Perniagaan Indonesia, yang kemudian hari dibeli oleh Lippo Bank (sekarang CIMB Niaga). Sampai saat ini, rumah Hasyim Ning masih dihuni oleh keluarganya dan sempat menjadi tempat syuting film legendaris yaitu Catatan Si Boy.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini