Deretan Gereja Tertua di Indonesia yang Bisa Dikunjungi untuk Wisata Religi

Deretan Gereja Tertua di Indonesia yang Bisa Dikunjungi untuk Wisata Religi
info gambar utama

Walau kebanyakan orang di Indonesia menganut agama Islam, identitas bangsa ini juga dibentuk oleh ajaran agama lain termasuk Kristen. Hal ini terbukti dari banyaknya gereja-gereja tua yang dibangun pada masa lampau dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Sejumlah gereja tua di Indonesia tentunya memiliki nilai historis dan menjadi saksi dari berkembangnya agama Kristen, baik Katolik dan Protestan, di Indonesia. Beberapa gereja telah dibangun pada masa kolonial Belanda dan terlihat dari arsitekturnya yang megah serupa bangunan-bangunan di Eropa. Namun, ada juga yang memadukan gaya Eropa dengan unsur tradisional Nusantara.

Menyambut momen libur Natal, umat Kristiani bisa berwisata religi dengan mengunjungi gereja-gereja tua dan bersejarah yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti berikut:

Kisah Gereja Katolik di Jakarta yang Berubah Menjadi Tempat Isoman Pasien Covid-19

Gereja Ebenhaezer

Gereja Ebenhaezer | kebudayaan.kemdikbud.go.id
info gambar

Pulau Nusalaut di Maluku memiliki peninggalan sejarah berupa gereja tua yang usianya sudah lebih dari 300 tahun tetapi masih gagah hingga kini. Ialah Gereja Ebenhaezer yang telah didirikan sejak tahun 1715 pada masa kepemimpinan Raja Sila yang bernama Djouw Louwis Pati Sila.

Pada perjalanannya, Gereja Ebenhaezer memang sudah beberapa kali direnovasi, tetapi dengan tetap menjaga keaslian bangunan beserta benda-benda di dalamnya. Awalnya, atap bangunan gereja dibuat dari rumbia, tetapi kini sudah diganti dengan bahan seng, pun ada penambahan pintu gerbang serta menara lonceng di pintu masuk.

Gereja yang lokasinya tidak jauh dari Benteng Beverwijk ini memiliki sebuah prasasti berbentuk segitiga dengan motif bunga cengkeh yang berisi informasi mengenai pembangunan rumah ibadah tersebut.

Gereja Katedral Jakarta, Gereja Pertama di Indonesia yang Memakai Panel Energi Surya

GPIB Immanuel Semarang

Gereja yang terletak di Jalan Letjen Suprapto, Semarang, Jawa Tengah, ini telah didirikan sejak tahun 1724 dan pendeta pertamanya adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar. Bangunan gereja ini berada di tengah Kawasan Kota Lama Semarang, yang kini menjadi area wisata dengan 50 bangunan kuno dan menyimpan sejarah kolonialisme di Semarang, termasik di antaranya gedung-gedung pemerintahan dan gereja karena mayoritas orang Belanda beragama Kristen.

Nama GPIB Immanuel Semarang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk karena bentuk kubahnya cembung seperti irisan bola, masyarakat setempat biasa menyebutkan mblenduk yang berarti menggelembung.

Pada awalnya, bangunan gereja berbentuk rumah panggung Jawa. Namun, pada tahun 1894-1895, gereja kembali dibangun dengan bentuk yang bisa dilihat sekarang. Pembangunan kedua ini dilakukan oleh H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas. Kini, arsitektur Gereja Blenduk bergaya pseudo baroque, khas arsitektur Eropa yang klasik dan anggun dari abad ke-17.

Gereja ini menempati lahan seluas 400 meter persegi dan salah satu keunikannya adalah memiliki denah segi delapan beraturan atau oktagonal.

Cagar Budaya Tionghoa dalam Gereja Santa Maria de Fatima

Gereja Santo Ignatius Loyola

 Gereja Tua Sikka | @Fakhri Anindita Shutterstock
info gambar

Gereja Santo Ignatius Loyola berada di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Rumah ibadah ini dibangun pada tahun 1893 oleh JF Engbers D'armanddaville, seorang pastor berkebangsaan Portugis, dengan bantuan Raja Sikka Joseph Mbako Ximenes da Silva. Arsitektur bangunan ini dirancang oleh Antonius Dijkmans, pastor sekaligus arsitek yang turut mendesain Gereja Katedral Jakarta.

Namanya juga dikenal dengan sebutan Gereja Tua Sikka. Bangunan gereja ini memiliki pengaruh dari budaya Eropa tetapi dipadukan dengan kebudayaan setempat. Hal ini bisa dilihat dari gaya arstitekturnya. Tak hanya mengikuti gaya barok dan renaisans, gereja ini juga menampilkan unsur budaya lokal dan material yang ada di Indonesia, seperti penggunaan kayu jati pada bagian kuda-kuda penahan atap bangunan dan tiang penyangga.

Meski dibangun dengan banyak unsur kayu, konstruksi bangunan gereja ini tetap kokoh dan bertahan walau pernah terkena hantaman tsunami Maumere pada tahun 1992.

Bangunan Gereja Tua Sikka berbentuk dua susun kerucut dan pada bagian atapnya terdapat lonceng setinggi 15 meter dan tentunya salib. Pada bagian pintu masuk, pengunjung bisa melihat patung Santo Ignatius Loyola dan Santo Yosef.

Di dalam gereja, terdapat benda-benda bersejarah yang sudah berusia ratusan tahun, termasuk tempat lilin kuno dari bahan kuningan dan arsip buku-buku lama yang disimpan rapi. Di sana juga ada patung salib Yesus yang merupakan warisan Raja da Silva dan di bagian kanan dan kiri gereja ada kompleks pemakaman raja-raja dan pastor Sikka.

Sejarah Hari Ini (28 Februari 1960) - Sugiyapranata Resmikan Gereja Katolik di Bedono

Gereja Sion

DKI Jakarta memiliki sekitar 1.110 gereja dan beberapa di antaranya merupakan bangunan peninggalan dari abad ke-18 dan 19. Salah satunya adalah Gereja Sion di Pangeran Jayakarta, tak jauh dari kawasan Kota Tua.

Gereja Sion telah diresmikan pada tahun 1695 dan kini telah berusia 326 tahun. Kompleks gereja ini menempati lahan seluas 6.275 meter persegi dan mampu menampung seribu jemaah. Meski bukan gereja pertama, Gereja Sion merupakan gereja tertua yang masih ada di Jakarta. Rancangan bangunan gereja ini memang tidak dibuat megah, tetapi kokoh, nyaman, dan fungsional. Gereja Sion juga dibangun tanpa menara dan kubah.

Sejak tahun 1972, Pemerintah Daerah DKI Jakarta telah menetapkan bangunan ini sebagai salah satu bangunan bersejarah yang dilindungi. Selang tiga tahun kemudian, dilakukan perubahan pada bangunan gereja. Perubahan itu meliputi bagian serambi yang terdapat dua pilar bulat dan atasnya ditopang dengan enam tiang dari bata.

Bangunan gereja memiliki interior bergaya barok dan secara keseluruhan dirancang dengan ciri arsitektur romanesque. Pada bagian balkon, pengunjung bisa melihat orgel atau organ seruling yang dibuat tahun 1860 setinggi 2,5 meter dengan hiasan ornamen berbentuk malaikat.

Di kawasan Gereja Sion juga terdapat makam-makam kuno yang nisannya dipasang secara mendatar. Hingga akhir abad 18, memang pemakaman umat Kristiani di altar gereja merupakan hal umum. Namun, hanya khusus untuk orang penting seperti pejabat pemerintahan dan orang-orang terpandang.

Jejak Del Piero di Gereja NTT

Gereja Fidelis Sejiram

Bangunan Gereja Fidelis Sejiram merupakan cikal bakal dari perkembangan gereja di Kalimantan Barat. Gereka yang dibangun tahun 1921-1921 ini berada di Desa Sejiram, Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Gereja Katolik ini dibangun dengan bahan kayu ulin dengan denah persegi panjang dan luasnya mencapai 360 meter persegi. Pemilihan bahan kayu ulin pun memang umum digunakan di Kalimantan dan memiliki keunggulan berupa elastis dan mudah dibentuk, tahan terhadap pembebanan tegak lurus dengan seratnya, dan mudah ditemukan di Kalimantan.

Bangunan gereja terdiri dari serambi gereja, ruang umat, dan altar. Bentuk gereja ini menyerupai rumah panggung yang banyak dijumpai di bangunan tradisional Kalimantan. Pada puncak menara, bisa dilihat ada hiasan salib dengan ornamen ayam dan di bagian dalam menara ada sebuah lonceng gereja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini