Mengapa Banyak Orang India Mendominasi Posisi CEO di Silicon Valley?

Mengapa Banyak Orang India Mendominasi Posisi CEO di Silicon Valley?
info gambar utama

Pada November 2021, Twitter resmi menjadi raksasa Silicon Valley terbaru yang menunjuk CEO kelahiran India. Keputusan yang sama dengan Microsoft, Google, dan perusahaan-perusahan teknologi raksasa lain yang juga menunjuk orang kelahiran India sebagai CEO-nya.

Penunjukan mantan Chief Technology Officer (CTO) Twitter, Parag Agrawal, ke posisi teratas di Twitter memperkuat peran yang dimainkan oleh imigran India di perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Dia bergabung dengan Satya Nadella dari Microsoft Corp., Shantanu Narayen dari Adobe, Arvind Krishna dari IBM, dan Sundar Pichai dari Alphabet (pemilik Google) yang juga kelahiran India yang menjadi pemimpin tertinggi perusahaan teknologi raksasa AS.

Juga pucuk pimpinan tertinggi di Palo Alto Networks, VMWare dan Vimeo, mereka juga para imigran India atau keturunannya.

Parag Agrawal | newsbytes.com
info gambar

Mereka ini memimpin perusahaan-perusahaan raksasa dengan nilai pasar gabungan mendekati 5 triliun dolar AS, atau sekitar 4,5 kali lipat ekonomi (PDB) Indonesia. Jika digabung juga dengan perusahaan di luar sektor teknologi, Indra Nooyi telah memimpin PepsiCo selama 12 tahun dan Ajay Banga adalah ketua eksekutif Mastercard Inc. setelah satu dekade sebagai CEO, tentu angkanya akan lebih besar.

Nadella dan Pichai | economictimes.id
info gambar

Yang menarik, imigran asal India jumlahnya hanya sekitar satu persen dari seluruh populasi AS, dan hanya 6 persen dari seluruh tenaga kerja Silicon Valley. Namun mereka secara ‘tidak proporsional’ memegang pucuk-pucuk pimpinan tertinggi di banyak perusahaan di AS.

Mengapa?

R Gopalakrishnan, seorang pebisnis kenamaan India, dan juga pengarang buku “The Made in India Manager” mengatakan "Tidak ada negara lain di dunia yang 'melatih' jutaan warganya dengan cara gladiator seperti yang dilakukan oleh India."

"Dari akta kelahiran hingga akta kematian, dari penerimaan sekolah hingga mendapatkan pekerjaan, dari ketidakcukupan infrastruktur hingga kapasitas yang tidak memadai, tumbuh di India melengkapi orang India untuk menjadi manajer alami (natural manager),” tambahnya.

Hidup dalam persaingan yang ketat dan 'kekacauan' membuat orang-orang India tumbuh menjadi problem solver yang dapat cepat beradaptasi. Selain itu, tambahnya, orang India selalu menggunakan pendekatan professional dan bukan pendekatan personal. Hal ini sangat membantu mereka beradaptasi cepat dengan kultur kerja di AS.

Para CEO perusahaan-perusahan teknologi di AS yang kelahiran India, juga merupakan bagian dari kelompok minoritas berjumlah empat juta orang yang yang kaya dan terdidik di AS.

Sekitar satu juta dari mereka adalah ilmuwan dan insinyur. Lebih dari 70 persen visa H-1B (izin kerja untuk orang asing) yang dikeluarkan oleh AS diberikan kepada insinyur software India, dan 40 persen dari semua insinyur kelahiran asing di kota-kota, seperti Seattle di negara bagian Washington berasal dari India.

"Ini adalah hasil dari perubahan drastis dalam kebijakan imigrasi AS pada 1960-an," tulis penulis The Other One Percent: Indian in America.

Ketiga gerakan hak-hak sipil ramai diperjuangkan oleh masyarakat AS, kuota berdasarkan asal negara digantikan oleh kuota yang mengutamakan keterampilan dan penyatuan keluarga. Segera setelah itu, orang India yang berpendidikan tinggi--ilmuwan, insinyur, dan dokter pada awalnya, lalu sebagian besar programer software--mulai berdatangan di AS.

Kelompok imigran India di AS ini tidak sama dengan kelompok imigran dari negara-negara lain. Imigran India biasanya merupakan orang-orang India yang memiliki hak istimewa dari kasta atas yang mapan secara ekonomi, dan mampu pergi ke perguruan tinggi yang bagus, serta mampu mengirim anaknya mengambil gelar master di AS.

Dan pada akhirnya, sistem visa semakin memfilter mereka dan memilih orang-orang yang memiliki keterampilan khusus--seringnya dalam sains, teknologi, teknik dan matematika atau STEM--yang memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja kelas atas AS.

"Orang-orang India yang ada di AS adalah orang-orang terbaik setelah melewati filter-filter di atas, dan mereka bergabung dengan perusahaan di mana yang terbaik naik ke puncak," kata pengusaha teknologi dan akademisi Vivek Wadhwa.

"Jaringan yang mereka bangun Silicon Valley juga memberi mereka keuntungan, artinya mereka memang saling membantu satu sama lain.”

Wadhwa menambahkan, banyak CEO kelahiran India menapaki tangga perusahaan dari bawah. Ini diyakini memberi mereka rasa kerendahan hati dan mampu bekerja secara lebih baik Orang-orang seperti Nadella dan Pichai juga mempunyai sifat yang lebih hati-hati dan penuh perhitungan.

Sifat ini adalah refleksi dan budaya 'gentle' yang membuat mereka sangat ideal untuk menduduki posisi puncak. Apalagi di masa ini, saat reputasi perusahaan-perusahaan teknologi besar di AS sedang disorot, juga kadang harus berselisih faham dengan banyak pemerintah-pemerintah luar negeri, dan jurang pendapatan yang melebar antara di Silicon Valley yang kaya raya dengan seluruh Amerika yang relatif tumbuh stagnan.

"Kepemimpinan yang rendah hati, non-abrasif, adalah nilai tambah yang besar,'' kata Saritha Rai, menukil Bloomberg News.

''Masyarakat India yang beragam--dengan begitu banyak adat dan bahasa--memberi mereka kemampuan untuk bernavigasi di dalam situasi yang kompleks, terutama ketika menyangkut memperbesar organisasi," kata pengusaha miliarder India-Amerika dan kapitalis ventura Vinod Khosla, yang ikut mendirikan Sun Microsystems.

"Mereka juga terbiasa bekerja keras. Kombinasi-kombinasi tersebut yang membuat berbeda dari yang lain," tambahnya.

Ada alasan yang lebih jelas juga. Fakta bahwa begitu banyak orang India yang fasih berbicara bahasa Inggris memudahkan mereka untuk berintegrasi ke dalam beragam industri teknologi AS. Dan penekanan pendidikan India pada matematika dan sains telah menciptakan industri software yang terus berkembang, melatih lulusan-lulusan mereka dalam keterampilan yang tepat guna, yang selanjutnya ditopang di sekolah teknik atau manajemen top di AS.

Munculnya begitu banyak "unicorn" India baru-baru ini, menunjukkan bahwa negara itu mulai memproduksi perusahaan teknologi besar sendiri. Kini India adalah negara dengan pertumbuhan startup tertinggi ke-3 di dunia, setelah AS dan China.

Sumber: Al Jazeera | BBC News | Asia Matters of America

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini