Misi Lindungi Hutan, Chashif Syadzali: Kami Ingin Tanam Pohon Sejumlah Penduduk Indonesia

Misi Lindungi Hutan, Chashif Syadzali: Kami Ingin Tanam Pohon Sejumlah Penduduk Indonesia
info gambar utama

“meskipun saya gak jago soal hutan, atau gak jago di tanam-menanam pohon dan perkebunan, paling tidak saya bisa menyumbangkan tenaga saya untuk membantu orang agar memelihara hutan.”

---

Ungkapan di atas dapat dikatakan sepenuhnya benar, tanpa perlu memahami ilmu sains atau lingkungan secara mendalam dan kompleks, pada dasarnya hal paling sederhana yang bisa dilakukan untuk ikut melestarikan lingkungan dan menjaga keseimbangan hidup di muka bumi ini adalah dengan menanam pohon dan menjaga hutan.

Karena itu, sejatinya tidak ada lagi alasan bagi setiap orang untuk abai dan melewatkan kesempatan menanam setidaknya satu pohon, guna memberi kontribusi mewakili diri sendiri.

Namun pada kenyataannya, memiliki kesadaran dan mulai menggerakkan diri untuk melakukan hal tersebut bukan perkara mudah. Beruntung, dewasa ini kian banyak bermunculan pihak atau lembaga yang kerap menyediakan wadah dalam menggerakkan sekaligus mendukung kampanye dalam aksi penanaman pohon, salah satunya LindungiHutan.

Sebagai platform crowdplanting (penanaman massal) yang telah hadir sejak tahun 2016 dan mewadahi berbagai macam aksi atau kampanye menanam pohon, LindungiHutan telah menjembatani berbagai gerakan dengan catatan ratusan ribu pohon tertanam, miliaran nilai donasi, hingga puluhan juta karbon yang terserap.

Namun di balik itu, ada cerita mengenai bagaimana realita yang sebenarnya terjadi di lapangan, mulai dari wujud CSR penanaman pohon yang selama ini berjalan, tanggung jawab yang harus dipegang oleh para petani pohon, dan sebagainya.

Semua cerita tersebut dibagikan oleh Chashif Syadzali, selaku CTO (Chief Technology Officer) sekaligus co-Founder LindungiHutan kepada GNFI, Minggu (9/1/2022). Berikut rangkuman perbincangannya dengan Siti Nur Arifa, penulis GNFI.

Lestarikan Lingkungan dengan Cara Illegal Planting, Hery Heriyanto: Tanam Saja Dulu

Bagaimana awal mula bergabung dan ikut berperan dalam mendirikan LindungiHutan?

Lindungi Hutan
info gambar

Sebenarnya awal merintis bersama Mas Rio (Hario Laskito Ardi--founder) bukan LindungiHutan, tapi startup lain di bidang berbeda. Kemudian beliau punya ide membuat gerakan penggalangan dana atau fundraising sejenis Kitabisa, tapi khusus untuk hutan dan lingkungan.

Mulai buat sekitar dua bulan, pertama launching di sekitar Desember 2016 bersamaan dengan penanaman pertama. Waktu itu website yang dipunya juga masih belum terlalu banyak dipakai, desainnya masih sederhana, tapi sudah ada beberapa fitur mulai dari kampanye alam, donasi, gabung aksi, peta titik atau sebaran penanaman yang sudah dilakukan di mana saja.

Lalu ada juga fitur hitung emisi, jadi berapa pohon yang ditanam kemudian diperhitungkan pohon-pohon tersebut bisa menyerap emisi berapa banyak.

Sampai saat ini, ada berapa orang yang terlibat dalam keberlangsungan LindungiHutan?

Tim inti sekarang saya bisa bilang sekitar 12 orang, termasuk kami berdua saya dan CEO saat ini Mas Ben (Miftachur Robani).

Konsep crowdplanting yang diterapkan LindungiHutan itu seperti apa?

Dari awal kita mungkin hadir sebagai crowdfunding dalam bentuk tanaman atau pohon, setelah saya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi dan sejenisnya membuat fitur gabung aksi, kita berkembang sebagai crowdsourcing, jadi bukan hanya mencari donasi tapi juga partisipan untuk kegiatan penanaman pohon.

Konsep crowdplanting sendiri merujuk pada kegiatan yang kami lakukan dalam bentuk kampanye setiap kurun waktu tertentu selama satu tahun. Misal di empat bulan pertama kita sebut Rawat Bumi, empat bulan berikutnya kampanye Hutan Merdeka bertepatan dengan bulan Agustus, lalu terakhir di Desember itu bersamaan dengan momen kelahiran dan penanaman pertama LindungiHutan sendiri dengan tagline Harapan Hutan.

Itu semuanya kami lakukan secara serempak di seluruh penjuru atau wilayah Indonesia dengan masing-masing koordinator di beberapa kota, pada satu hari yang sama.

Di luar program rutin itu, platform dan teknologi yang kami punya tetap memfasilitasi sejumlah kampanye atau gerakan yang dibuat oleh pihak lain misal ada program CSR dari instansi swasta serta pemerintahan, serta gerakan yang dibuat pihak perorangan di momen-momen tertentu.

Kenapa memilih untuk mengembangkan platform yang bergerak di bidang lingkungan?

Kami kebetulan semuanya berasal dari satu pendidikan yang sama, Magister di Universitas Diponegoro Semarang, dan semuanya itu sebenarnya justru berasal dari latar belakang IT.

Pendidikan yang kami tempuh selalu ada program bakti masyarakat yang tujuannya pasti ke wilayah Mangkang. Kebetulan di sana ada kelompok tani namanya Lestari, kegiatannya kita menanam mangrove dan konservasi di area pesisir.

Dari sana mereka cerita seputar permasalahan abrasi dan sebagainya, akhirnya Mas Rio waktu itu tergerak untuk melakukan gerakan menanam mangrove karena permasalahannya ternyata bukan cuma di Mangkang tapi juga di wilayah Tambakrejo dan Trimulyo.

Mereka bercerita dampak pembangunan semisal reklamasi atau pengadaan tambak membuat masyarakat sekitar terkena dampaknya, tapi mereka-mereka ini tidak memilih untuk pindah ke gunung atau kawasan dengan dataran lebih tinggi, melainkan tetap bertahan dan melakukan upaya konservasi.

Harapan mereka bisa menanam mangrove lebih banyak supaya bisa jadi benteng untuk melindungi wilayah pemukiman. Akhirnya langkah utama kami dimulai dari berusaha memasarkan atau mendukung gerakan menanam mangrove yang mereka butuhkan.

Biasanya selama ini kan banyak gerakan-gerakan menanam mangrove yang menjadi program CSR sejumlah instansi atau perusahaan tertentu, di situ fokus dan peran utama kami yakni untuk menjembatani antara mereka yang ingin berdonasi dengan kebutuhan petani mangrove itu sendiri.

Penting Bagi Kehidupan, Inilah Fungsi dan Fakta Hutan Mangrove

Seperti apa sistem yang terjalin antaraLindungiHutan dan para petani pohon?

Petani pohon mangrove
info gambar

Yang utama sebenarnya kalau petani misal mangrove ngasih harga berapapun kami tidak menawar. Beda dengan perusahaan, biasanya perusahaan itu kan mengejar branding misal melakukan penanaman sampai 10 ribu pohon, kalau dari cerita petani sendiri harga yang disepakati bisa sampai setengah dari harga yang kami beli, istilahnya mereka (perusahaan) nawar.

Itu hal yang dari saya pribadi kalau dilihat sebenarnya miris. Beda hal kalau ada perusahaan yang pakai jasa atau platform kami, ya mereka pakai harga kami atau harga asli dari petani tanpa ditawar.

Bedanya, kalau perusahaan yang memang memakai layanan kami itu kan bukan hanya melaksanakan proses menanam pohonnya saja, tapi ada juga tambahan layanan lain misal perihal pemasaran, konten untuk rilis, jadi ada added value-nya. Kalau mereka ke petani langsung bisa nawar, tapi ke kami tidak bisa.

Mayoritas pohon yang ditanam memang mangrove atau sebenarnya ada pohon jenis lain?

Nah itu dia, untuk sekarang kebetulan mangrove yang paling banyak bahkan hampir sebagian besar, karena mangrove itu sendiri harganya sangat terjangkau. Jadi perusahaan itu kan sebenarnya pintar, mereka mencari pohon paling murah yang mana ya itu dijadikan pilihan untuk gerakan.

Tapi kalau di kami sendiri sebenarnya dari awal ada banyak pilihan jenis pohon yang bisa ditanam, pohon cemara itu kan bisa kita tanam di gunung, kalau di laut atau pesisir selain mangrove itu sebenarnya juga ada cemara laut cuma itu harganya lebih mahal.

Jadi kami fasilitasi semua sebenarnya, orang bisa milih ingin menggalang dana untuk penanaman apa, cuma sampai saat ini kebanyakan cari yang paling murah dan kebetulan yang paling murah itu mangrove. Tapi bebenarnya hal itu jelas tidak masalah, selama niat dan tujuannya memang baik yang penting kan sama-sama untuk upaya pelestarian lingkungan.

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

Memang berapa rentang harga bibit pohon yang biasanya ditanam?

Kalau bicara soal harga bibit dalam program atau kampanye yang dilakukan oleh sejumlah instansi atau pihak tertentu hitungannya itu sudah masuk ke bisnis sebenarnya, saya kurang hafal.

Tapi secara garis besar biasanya mulai dari rentang harga Rp10 ribu sampai Rp150 ribu per pohon. Itu kalau perusahaan yang ingin murni penanaman pohon saja tanpa ada add value yang tadi disebutkan, di kisaran Rp10 ribu itu masih aman.

Biasanya, kalau mereka datang langsung ke petani itu bisa ditawar sampai harga Rp3.000 per pohonnya, murah banget, kan? Tapi ya itu, yang saya dan kami tidak mau adalah mereka hanya menanam lalu tinggal, itu sangat berlawanan dengan visi saya pribadi terutama, karena kalau kita menanam pohon harus bertanggungjawab dengan perawatannya, paling tidak sampai setahun di awal.

Memang kalau merawat sepanjang umur hidup pohon mungkin kita juga tidak mampu, tapi paling tidak kalau di LindungiHutan kami minta petani yang terlibat untuk melakukan perawatan dan monitoring, mereka kasih laporan ke kami setiap tiga bulan sekali. Harga yang kami tetapkan dalam setiap kampanye penanaman pohon sudah diperhitungkan termasuk biaya itu sebenarnya.

Jadi petani pun kami tegaskan untuk peduli dengan tanaman atau pohon yang mereka tanam, jangan hanya karena masuk uang sekian dari program lalu besoknya ditinggalkan, seterusnya terulang lagi kebiasaan seperti itu.

Minimal setahun dua tahun dipantau atau dirawat karena setelah itu kan biasanya pohon-pohon hutan sudah bisa tumbuh mandiri, dan lagi sebenarnya pohon-pohon hutan itu termasuk yang perawatannya relatif mudah, tidak perlu pupuk dan dirawat seperti pohon perkebunan, jadi tidak repot sebenarnya.

Cakupan LindungiHutan tersebar di seluruh Indonesia, penanaman pohonnya mangrove juga atau berbeda?

Pohon yang tertanam oleh LindungiHutan
info gambar

Penanaman pohon jelas disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Misalkan di wilayah tertentu dapat atau cocoknya dengan petani cemara laut, ya kami tidak memaksakan mangrove ada di situ.

Karena menurut kami yang lebih tahu lokasi itu petaninya sendiri, meskipun ada jurnal yang membahas kalau di daerah tertentu lebih baik ditanam mangrove tapi petani setempat yang lebih tau dan sudah bertahun-tahun di situ menyarankan lebih ke cemara laut, ya kami lebih ikut petani.

Itu juga berhubungan dengan sistem yang kita terapkan ke perusahaan atau pihak yang mau menggelar kampanye, biasanya mereka tanya ketersediaan di wilayah tertentu misal Batang (Jawa Tengah), tapi kebetulan di situ tidak ada, jadi kita rekomendasikan ke wilayah terdekat misal Brebes.

Kalau mereka tidak cocok dan akhirnya mau pakai platform atau layanan lain kami persilahkan. Kalau kami prinsipnya nothing to loose, karena kami menjaga attitude juga. Jangan sampai nanti memaksakan karena ingin ikut permintaan klien menanam pohon tertentu di wilayah yang mereka mau padahal di situ jelas-jelas perizinannya tidak ada untuk menanam pohon tersebut, akhirnya beberapa waktu kemudian ketika kami minta laporan pertumbuhannya ternyata hilang begitu saja, jangan sampai seperti itu.

Kesan apa yang didapat selama menjalankan gerakan kepedulian lingkungan dengan memanfaatkan teknologi ini?

Beberapa waktu lalu saat awal pandemi kita pernah ada di masa kesulitan juga, keuangan menipis dan sebagainya. Sampai akhirnya saya tidak hanya menjadi CTO tapi juga merangkap sebagai admin dan customer service.

Saat menjalankan kedua peran itu sesekali saya tanya kesan mereka (pendonasi), dan dari saya pribadi yang sudah ikut sejak pertama kali LindungiHutan didirikan merasa terharu dan terenyuh, saat ada orang asing yang kita tak tahu dia siapa tapi tiba-tiba mengucap terima kasih karena sudah melakukan gerakan atau kampanye menanam pohon dan sebagainya.

Mereka berterima kasih karena bisa melakukan donasi, karena bisa bergabung menjalankan aksi. Bahkan ada juga orang awam, yang tiba-tiba datang mau membuat kampanye untuk merayakan ulang tahun sendiri, bukan dengan foya-foya tapi dengan menggalang dana untuk penanaman pohon, sampai kerabatnya banyak yang ikut berdonasi mulai dari teman, orang tua, bahkan guru dia dulu.

Melihat itu saya merasa senang karena teknologi dan apa yang saya buat terpakai, bermanfaat, dan bisa membantu orang banyak.

Di sisi lain saya masih merasa terbebani kita ada orang yang masih tidak memahami bagaimana memanfaatkan platform yang telah saya buat, tapi hal itu justru menjadi motivasi lebih untuk dijadikan perbaikan agar kedepannya semakin banyak orang yang dapat dengan mudah berkontribusi untuk lingkungan.

Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon

Apa berarti kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan keberadaan pohon sudah cukup tinggi?

Alhamdulillah kalau bicara untuk kondisi saat ini sudah cukup tinggi. Dulu waktu masih awal pertama kali merintis gerakan ini sampai ada orang yang bertanya manfaatnya buat saya itu apa.

Dulu itu buat meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan dan pohon kita sampai harus memberikan masalah yang akan terjadi 10-20 tahun lagi ke depan mata mereka (masyarakat), Alhamdulillah dua sampai tiga tahun terakhir ini orang sudah mulai aware soal pola hidup hijau atau green lifestyle, imbasnya orang-orang mulai peduli ke keberadaan pohon dan hutan.

Satu hal yang menarik, sekarang ini dibantu juga dengan adanya campaigner yang membuat kampanye atau program donasi untuk idolanya. Biasanya untuk hal-hal seperti ini massanya itu militan sekali, fanbase atau fanclub tertentu mereka itu ingin sekali mempersembahkan sesuatu untuk idolanya yang jauh di sana atau mereka gak pernah bisa ketemu langsung.

Hadiahnya itu ya lewat program-program bermanfaat seperti menanam pohon ini, apalagi sekarang di LindungiHutan sendiri sudah ada sistem sertifikat, sertifikat itu yang mereka kirim dalam bentuk digital ke idolanya, kadang ada juga yang dibuat dalam bentuk fisik lalu dikirim.

Hal-hal seperti ini yang di saat bersamaan baik secara langsung atau tidak langsung juga membuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan dan pohon semakin menyebar.

Apalagi kalau sudah masuk ke fans-fans Kpop, ini fakta menarik karena penggemar Kpop itu rata-rata masih di usia SD-SMP yang masuk sebagai user kita, bisa dibayangkan kalau di usia itu mereka sudah menyisihkan atau berdonasi untuk menanam pohon tandanya sudah aware.

Berarti beberapa tahun lagi generasi kita sudah sangat hijau kan harusnya, tapi kalau kita bicara soal kesadaran yang tinggi kembali lagi kata tinggi itu kan relatif sebenarnya. Jadi ya tetap mungkin untuk sebagian kalangan cukup tinggi kesadarannya tapi sebagian lagi mungkin terkesan tidak peduli, yang jelas peningkatannya jelas lebih baik.

Bagaimana dengan isu mengenai krisis iklim, apa jadi salah satu faktor dari meningkatnya kepedulian yang terjadi?

Pasti, karena jujur hal itu juga jadi salah satu alasan saya bergabung dengan Mas Rio sewaktu menggagas pengembangan LindungiHutan. Saya berasal dari Semarang, yang dirasakan waktu SD, SMA, sampai kuliah itu panasnya minta ampun, dan katanya Surabaya lebih panas, Jakarta apa lagi kalau bicara soal polusi.

Seinget saya pelajaran SD dulu itu pohon bisa menyerap CO2 kan, jadi harapannya meskipun saya gak jago soal hutan, atau gak jago di tanam-menanam pohon dan perkebunan, paling tidak saya bisa menyumbangkan tenaga saya untuk membantu orang agar memelihara hutan.

Saya kalau belajar lingkungan atau sejenisnya sudah gak nyampe, tapi yang saya tahu hanya logika sederhana semakin banyak menanam pohon semakin baik pula dampaknya untuk lingkungan.

Mengenal Ragam Pohon Endemik Langka dan Upaya Pelestariannya di Indonesia

Sampai saat ini sudah seberapa besar dampak yang diberikan oleh LindungiHutan?

Karena memang kita bentuknya penghimpun dana sebenarnya semua yang kita lakukan itu terbuka dan dipublikasi secara lengkap di website resmi, mulai dari dampak sampai dana terkumpul.

Saat ini total pohon yang sudah ditanam ada di angka 339.989 yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dengan akumulasi area ter-cover sekitar 6,84 hektare, kita juga sudah melibatkan sebanyak 5.237 relawan, dan sekitar 21,6 juta kilogram karbon yang terserap.

Untuk saat ini kita juga sudah menjaring sekitar 40 ribu user baik sebagai donatur, relawan, campaigner. Dari semua perkembangan itu donasi atau dana yang sudah masuk untuk menanam pohon sejak pertama kali berdirinya LindungiHutan sampai saat ini sudah mencapai sekitar Rp4,9 miliar, yang didapat dari sekitar 1.100 kampanye.

Harapan dan target besar apa yang selanjutnya ingin dicapai?

Untuk di tahun 2022 ini ingin menambah sebanyak 200 ribu pohon baru, karena kita juga melihat dari perkembangan yang terjadi sejak beberapa tahun ke belakang di mana lonjakan pohon tertanam cukup meningkat.

Kalau untuk jangka panjang, kami ingin menanam pohon sejumlah penduduk Indonesia, agar kedepan setidaknya setiap satu jiwa yang ada di Indonesia terwakili oleh satu satu pohon yang ditanam oleh LindungiHutan.

Bicara mengenai eksistensi LindungiHutan, kami ingin menjadi platform konservasi hutan nomor satu di Indonesia, entah kita bisa bekerja sama dengan startup lain di bidang teknologi yang sudah menerapkan IoT dan AI.

Startup di Indonesia yang sudah berstatus unicorn itu kan sudah ada beberapa, apalagi yang bentuknya eCommerce, harapan kami kedepannya semoga LindungiHutan bisa berkolaborasi dengan startup tersebut. Misal, setiap melakukan pembelian apa mereka bisa sekaligus berdonasi untuk program menanam pohon dan sebagainya.

Karena target menanam pohon sejumlah penduduk Indonesia pun pasti terdengar tinggi untuk saat ini, bahkan kemungkinan baru bisa terealisasi sekitar 10-20 tahun yang akan datang, apalagi terbatas dengan jumlah user kami yang saat ini masih ada di angka 40 ribu. Tapi saya yakin dengan teknologi, kolaborasi, dibarengi dengan usaha serta kesiapan menghadapi rintangan dan jalan yang panjang, target itu sangat mungkin terpenuhi.

Pernah Disangka Gila, Sadiman Berhasil Ubah Lahan Gersang Menjadi Hijau

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini