Fenomena Layangan Putus, dan Perlunya Menjaga Momentum

Fenomena Layangan Putus, dan Perlunya Menjaga Momentum
info gambar utama

Jujur, saya baru menyadari bahwa serial “Layangan Putus” ternyata viral di mana-mana. Memang sebelumya, saya melihat meme-meme “It’s my dream” yang telah viral sebelumnya, dan berpikir "wah, ini pasti sesuatu".

Namun saya sungguh tidak menyangka bahwa serialnya beneran viral, tak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai negara. Hal ini saya sadari setelah tadi malam, banyak kawan-kawan saya di Malaysia memposting di Instagram story mereka tentang seri terakhir drama yang tayang secara online di WeTV tersebut.

Selain di Indonesia, diberitakan oleh Bisnis.com, serial ini trending di 15 negara termasuk Malaysia, Singapura, Belanda, Amerika, Australia, Hong Kong, Jepang, Jerman, Perancis, Turki, Rusia, Austria, Belgia, dan New Zealand, bahkan menurut berita Kapanlagi.com, trending di 25 negara.

Drama ini juga trending nomor 2 di Kanada, Swedia, Swiss, Taiwan, Italia, Polandia, Inggris, Rumania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Saking viralnya, Layangan Putus ditonton telah ditonton lebih dari 15 juta kali dalam satu hari penayangan. Sebelumnya, di WeTV, serial ini juga menjadi top trending selama berminggu-minggu.

Perbincangan tentang Layangan Putus juga menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Hal tersebut bisa terlihat pada analisis Google Trends. Topik mengenal serial layangan putus menjadi topik yang paling banyak dicari, mengalahkan pencarian untuk topik-topik lain.

Mungkin ada yang belum tahu juga, bahwa serial ini ternyata diangkat berdasarkan kisah nyata dari seorang perempuan yang menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangganya di Facebook beberapa tahun lalu.

Akun Facebook bernama Mommy ASF (bernama asli Eka Nur Prasetyawati) menulis cerita itu dengan menyertakan tagar #LayanganPutus. Tulisannya sendiri menceritakan seorang istri dengan latar belakang sang suami yang dikenal religius, bahkan memiliki kanal YouTube dakwah.

Di kemudian hari, terungkap fakta bahwa suami yang dicintainya tersebut ternyata telah menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuannya.

Tulisan yang ditulisnya pada tahun 2018 tersebut kemudian sangat viral di Indonesia pada tahun 2019.

Screenshot Instagram.com/fthyhaifa
info gambar

Kisah tersebut dibagikan secara berantai, termasuk di grup-grup WhatsApp yang membuatnya menjangkau dan dibaca oleh jutaan orang. Viralnya tulisan itu ternyata juga memberikan efek bagi channel YouTube yang disebut-sebut dimiliki oleh mantan suami Mommy Asf tersebut.

Banyak yang kemudian unsubscribe, dan membuat subscribernya turun drastis dari awalnya 12 jutaan menjadi satu jutaan dalam waktu singkat.

Novel Layangan Putus | Instagram @ecaprasetya
info gambar

Kisah tersebut kemudian dikumpukan dalam sebuah novel berjudul “Layangan Putus”, sebuah ungkapan saat saat anak-anaknya bermain layangan dan mengadu jika layangannya putus, lalu terbang jauh dan tak kembali.

Kembali ke serialnya. Serial yang digarap sutradara ternama (Benni Setiawan) dan dibintangi artis-artis terkemuka Indonesia (Reza Rahadian, Putri Marino, dan Anya Geraldine) ini terlihat sering menyebutnya dengan "Inspired by real-life sensational love affair. Recited by Mommy ASF''.

Meski begitu, kisah yang disuguhkan pada serial Layangan Putus ini telah dimodifikasi agar kisah dan makna yang disampaikan menjadi lebih mendalam, sesuai untuk film seri berdurasi panjang.

Dan benar saja. Jalan cerita yang apik dan akting para pemainnya yang bagus, membuat drama ini berhasil mendapat perhatian jutaan orang, bahkan hingga lintas negara. Kita patut berbangga, saya juga bangga.

Indonesia perlu memperbanyak tontongan-tontongan yang populer berkualitas seperti ini dan kita masih punya waktu untuk terus meningkatkan kualitasnya. Kita semua tentu ingin industri perfilman Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, termasuk Korea Selatan yang sudah begitu majunya.

Tak hanya soal prestise industri kreatif saja, namun juga menjadi sarana promosi dan branding sebuah negara, selain tentu saja membawa dampak ekonomi yang luar biasa.

Bayangkan, serial “Squid Game” yang diproduksi pada pekerja kreatif Korea Selatan, mampu memberikan dampak ekonomi sebesar 900 juta dolar AS ke negara tersebut--menurut Bloomberg, atau hampir 13 trilyun rupiah.

Angka yang besar sekali, lebih besar dari keutungan perusahaan tambang batu bara di Indonesia. Belum lagi efek multiplier-nya.

Layangan Putus diakui atau tidak, telah sedikit banyak menyita perhatian para pencinta drama Korea di Indonesia. Entah seberapa jauh, dan berapa lama.

Jika saja momentum ini berlanjut dan dijaga, dan dunia perfilman dalam negeri selalu menampilkan film-film berkualitas maka film-film nasional akan menjadi raja di negeri kita sendiri. Termasuk, mungkin mengalihkan para pecinta drakor, untuk meluangkan waktunya menonton karya-karya negeri sendiri.

"Selama ini kita semua pasti sangat nyaman dengan drama Korea. Apa kita tidak suka dengan film-film Indonesia? Tentu tidak. Film dengan kualitas baik pasti ditonton, kalau sinetron dengan kisah yang selalu sama pasti dilewatkan saja, " kata Kalista, seorang mahasiswa pada salah satu kampus Negeri di Denpasar Bali, seperti ditulis oleh Pikiran Rakyat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini