Bicara Industri Musik Nasional Masa Kini, Puji Adi: Anak Muda dan Musisi Sekarang Hebat

Bicara Industri Musik Nasional Masa Kini, Puji Adi: Anak Muda dan Musisi Sekarang Hebat
info gambar utama

“fungsi controlling yang dulu dijalankan label sudah beralih ke masyarakat, jadi bagus atau enggak-nya karya seorang musisi sudah bukan lagi label yang nentuin, tapi masyarakat secara langsung…”

---

Bicara soal industri musik, sebagian besar orang kebanyakan menyoroti para pelaku secara langsung baik dalam bentuk penyanyi, musisi, atau band, yang terlihat di tampilan layar atau di atas panggung.

Padahal, di balik keberhasilan dan besarnya nama seorang pelaku seni di industri musik, ada sosok-sosok yang juga berperan besar dalam proses penciptaan suatu karya, mulai dari tahap produksi sampai distribusi.

Sama halnya seperti jajaran musisi yang mengaku mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, terutama dari segi teknologi digital. Hal yang sama pastinya juga dialami para sosok di balik layar dan panggung yang dimaksud, dan mau tidak mau ikut melakukan penyesuaian.

Membahas mengenai perubahan apa saja yang dialami dari segi industri musik di balik panggung, pada hari Kamis (10/3/2022), GNFI berkesempatan untuk berbincang dengan Puji Adi Andaya, sosok yang telah berkecimpung di dunia musik sebagai manajer, produser, dan pemilik perusahaan rekaman atau label RMV Records.

Berperan dalam membentuk, membina, dan membesarkan nama musisi besar dari tahun ke tahun sejak era 1990-an layaknya Dewa 19, Netral, Geisha, dan masih banyak lagi, pria yang karib disapa Puput ini mengungkap perubahan apa saja yang paling terasa dari segi produksi musik, dan bagaimana proses transisi yang selama ini berjalan menurut pengamatannya.

Menilik Kondisi dan Tren Industri Musik Nasional Saat Ini

Bisa diceritakan perjalanan karier sebagai sosok yang berkecimpung di balik panggung industri musik?

Puji Adi Andaya
info gambar

Mulai di tahun 1992 saya jadi manager Dewa yang kedua, sering berjalannya waktu saya juga sudah mulai pegang banyak beberapa artis (musisi), misal di tahun 2011 saya manajer Netral, tapi di tengah-tengah perjalanan juga pegang Bebi Romeo, Juliette, dan ada beberapa band sekitar 8 band/musisi saya pegang pada saat itu.

Kemudian sampai di tahun 2012 saya bikin perusahaan rekaman, namanya RMV Records sambil saya juga pegang Boomerang (band) sampai sekarang, dan ada beberapa artis baru kira-kira ada 12 artis sampai saat ini di label saya.

Di situasi pandemi yang sepertinya sudah sedikit mereda, kesibukan dan project apa yang sedang atau akan dijalani?

Sebenarnya dari tahun lalu udah beberapa project yang menanti ya dari tahun 2021, cuma karena kemarin sempat omicron jadi mundur lagi, jadi otomatis sekarang semua harapannya berlangsung di tahun 2022 dan mudah-mudahan gak mundur lagi.

Ada beberapa project konser musik, bikin activation, semacan fans gathering dan meet and greet, itu rencana mulainya bulan Mei sampai Desember nanti akhir tahun, mudah-mudahan sih gak mundur lagi.

Karena saya lihat sekarang kan udah ada beberapa kegiatan konser atau acara musik sudah mulai banyak berlangsung juga sekarang, jadi secara izin harusnya udah aman.

Sebagai orang yang lebih aktif di balik panggung, apakah Anda sebenarnya punya keahlian terselubung di bidang musik?

Saya dulu SMA kebetulan memang nge-band, bareng sama Ahmad Dhani kita satu band, saya juga bisa beberapa alat musik tapi gak terlalu menguasai, hanya sebagai pemain biasa alias amatir.

Yang membedakan manajer sebuah band dengan manajer seniman atau artis lain itu apa menurut Anda?

Sebenarnya semua sama, mulai dari tingkat kesulitan sampai bentuk permasalahannya juga kurang lebih sama, cuma kalau musik karena berangkat dari saya yang senang dan ada passion di sini, jadi terasa lebih menyenangkan.

Jadi ketika hasil kerjanya terwujud dalam bentuk karya misal suatu album atau konser, itu ada kepuasan tersendiri ya, jadi seperti ada kebanggaan ketika artis atau musisi yang kita bina dan bangun sama-sama berhasil tampil di satu konser atau event besar, berkolaborasi sama artis internasional atau band dan musisi tanah air lainnya yang lebih besar, itu kita ada kebanggaan tersendiri.

Apalagi kalau melihat penonton atau penggemar bisa menikmati musik yang musisi kita bina, ikut bersenang-senang di panggung atau konser itu rasanya berkesan banget dan bisa dikatakan priceless.

Perkembangan industri musik tanah air saat ini dari kacamata sebagai seorang produser?

Jadi saya memang sejak tahun 1990-an terlibat di industri ini, kalau ditanya gimana soal perkembangannya tentu jauh berbeda, baik dari segi tantangan atau halangan mulai dari tahun 1980, 1990, 2000, dan tahun sekarang itu jelas jauh beda banget.

Sekarang jelas jauh lebih maju, lebih enak, dan lebih simple dibandingkan tahun-tahun terdahulu ya, permasalahannya juga sekarang gak terlalu berat dibanding dahulu

Sekarang lebih banyak promotor yang profesional dan internasional mulai masuk ke pasar Indonesia, banyak studio bagus, perkembangan industri musik sendiri lebih mudah dibanding dulu.

Apalagi dengan kemudahan teknologi atau cara digital, semuanya itu jadi jauh lebih menyenangkan.

Eksis Jadi Musisi dari Masa ke Masa, Thomas Ramdhan: Musik Itu Menyemangati Hidup

Apa dengan kemajuan yang terjadi saat ini, tetap ada tantangan yang ditemui?

Ada bentuk permasalahan atau tantangan baru sesuai zamannya dibanding yang dulu, kalau dulu kan permasalahan kita soal pemasaran, distribusinya bagaimana, berapa banyak kaset dan CD yang udah dicetak.

Sekarang permasalahannya kan beda lagi kalau digital, misal sudah berapa orang yang download, berapa orang yang stream, terus sistem monetize-nya gimana kita sudah dapat berapa dan hitungannya bagaimana, itu kan beda lagi.

Tapi kalau saya merasakan bahwa industri musik udah jauh berkembang, institusi yang menaungi juga jauh lebih profesional dan semuanya lebih mudah.

Dulu orang kalau mau ngetop harus kerja sama dengan produser atau dengan label, tapi sekarang semua orang bisa lah melalui semua itu sendiri, bikin musik, upload di platform yang ada, promosiin, udah selesai.

Dan untung-untungan, kalau lagunya bagus dan disukai orang otomatis sukses tanpa harus memerlukan label, jadi siapapun selama ada bakat dan berkualitas bisa jadi musisi besar selama karyanya bisa diterima oleh masyarakat.

Kalau dulu kan harus melalui proses yang panjang banget, audisi dulu di label, bikin demo, kalau udah disetujui baru rekaman. Itu pun harus diawasi produser belum kalau ada hal yang menurut produser gak bagus masih perlu revisi dan ulang lagi dari awal.

Makanya itu sekarang lebih menyenangkan, tapi bukan berarti tanpa tantangan, tantangan jelas ada tapi lebih digital sifatnya.

Karena sekarang semuanya bisa dilakukan sendiri, bagaimana dengan fliter atau quality control, dan bagaimana peran label saat ini?

Nah, memang karena ada perubahan ini pula fungsi controlling yang sebelumnya biasa dilakukan pihak label perlahan sudah mulai hilang sedikit demi sedikit, tapi kalau kita lihat yang terjadi sekarang ini musisi yang lahir kualitasnya juga bagus.

Artinya tanpa kita sadari skill pemusik atau musisi baru yang ada di Indonesia juga semakin naik. Fungsi controlling yang sekarang hilang dan dulu dijalani lewat label nyatanya juga gak semua terjamin bagus.

Banyak juga dulu yang pakai controlling tapi gak sukses, tapi paling enggak secara kualitas dulu memang terjaga. Sekarang pun yang kualitasnya di bawah rata-rata juga banyak tapi itu nanti akan tersaring dengan sendirinya, sejenis seleksi alam.

Jadi sekarang fungsi controlling yang dulu dijalankan label udah beralih ke masyarakat, jadi bagus atau enggak nya karya seorang musisi sudah bukan lagi label yang nentuin tapi masyarakat secara langsung.

Karena kenyataannya kan dalam waktu satu hari sebenarnya ada ratusan bahkan ribuan single keluar karena kemudahan teknologi dan proses produksinya tadi, tapi hanya 1-2 yang berhasil terangkat secara massal.

Bagaimana pandangan terhadap para pelaku seni di masa kini?

Luar biasa anak muda dan musisi sekarang itu hebat, dan memang pada dasarnya mereka sudah pintar-pintar juga, jadi musik yang dihasilkan juga saya akui jauh lebih bagus kalau bicara secara keseluruhan, ya.

Maksudnya, zaman globalisasi sekarang kita gak bisa bandingin satu-satu, misal bandingin Dewa19 sama fourtwentygak bisa dibandingkan seperti itu, yang tepat itu kalau kita urutkan perkembangannya era musik tahun 1990-an, 2000, sampai saat ini, kalau itu baru jelas jauh lebih bagus sekarang secara keseluruhan.

Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis

Karena sekarang semua sudah jauh lebih mudah, bagaimana posisi label sekarang berperan?

Sekarang label lebih ke tahap pengembangan musisi yang memang sudah terbit secara mandiri, buat bisa menjadikan mereka menjadi lebih profesional. Jadi kalau dulu semua orang harus melalui label untuk bisa terbit, sekarang mereka bisa melakukannya sendiri.

Tapi fungsi label sekarang itu lebih ke fokus lanjutannya seperti maintenance profesionalitas, ekspansi ke pasar yang lebih luas, memberi advice dan pandangan yang lebih baik dan dalam mengenai musik, itu memang harus kerja sama dengan label.

Karena label sendiri kan dibentuk oleh para profesional dan pekerja seni yang sudah berkecimpung cukup lama di industri ini, mereka lebih memahami pemasarannya gimana, strateginya lebih terancang, dan hal-hal lain yang enggak diketahui oleh musisi biasa.

Titik apa yang membuat para pelaku industri (label) atau perusahaan rekaman mulai menyadari adanya perubahan, dan bagaimana transisinya?

Saya banyak ngobrol dan ketemu dengan pelaku industri lain, dan banyak bertukar pikiran. Rata-rata yang kita alami itu semua kurang lebih sama, awalnya ketika ada perubahan itu pasti kita ada resistance (perlawanan) dulu.

Kita pernah ada di masa “gak mungkin analog bisa dikalahkan dengan digital” atau “gak mungkin CD bisa dikalahkan sama digital”, semua pasti ada penolakan dan keraguan seperti itu.

Karena kita punya keyakinan kalau apa yang sudah kita jalani selama bertahun-tahun itu sudah berhasil, kemudian ketika zamannya berubah kita mempertanyakan, tapi lama-kelamaan kan itu terbukti dan tergerus sendiri, penjualan CD makin turun, kaset udah enggak ada lagi, di situ kita baru percaya kalau sesuatu yang baru memang udah gak bisa dihindari lagi.

Kalau ditanya soal kapan perubahannya itu berbeda, tapi kalau bisa saya rangkum proses transisi itu bisa dibilang 3-5 tahunan setelah adanya perubahan, itu dulu era 1980-2000, setelah ada perubahan baru 3-5 tahun setelahnya mereka sadar dan mulai menyesuaikan.

Tapi kalau sekarang, tahun 2000 ke atas itu mulai cepat karena mereka mungkin juga belajar dari yang lalu, semua perusahaan label langsung membuat divisi social media untuk pemasaran, divisi musik digital, bahkan mereka punya divisi yang memang dikhususkan buat melakukan forecast atau peramalan kira-kira akan ada inovasi, perubahan, dan tren apalagi ke depannya.

Karena teknologi sekarang apalagi berubah cepat, perusahaan label sekarang rata-rata sudah punya prediksi masing-masing, next step nih akan ada apa di industri musik. Itu udah semakin cepat pergerakaannya sejak tahun 2019 ke atas.

Jadi bukan lagi ketinggalan penyesuaian selama 3-5 tahun, tapi justru mereka sudah bisa memprediksi 3-10 tahun ke depan itu akan ada hal baru apa.

Digandeng Label Musik Internasional, Weird Genius Kini Sepayung dengan Musisi Kelas Dunia

Secara keseluruhan baik musisi dan pihak yang terlibat di baliknya apa bisa dibilang sudah lebih sejahtera?

Betul, sekarang semua orang yang terlibat di industri ini bisa merasakan manfaatnya lebih baik dibanding dulu. Tapi memang belum maksimal, kita bisa lebih maksimal lagi ketika semua sistem sudah dikembangkan dengan baik layaknya industri musik di luar negeri misalnya.

Jadi setiap musisi bisa hidup dari hasil karyanya selama berpuluh-puluh tahun ketika dia sudah tidak lagi berkarya, bahkan saat dia sudah tidak ada di dunia, manfaat dan hasil dari karyanya itu bisa terus dinikmati oleh anak cucunya, secara kseluruhan ya, bukan untuk kalangan musisi atau pihak tertentu saja.

Harapan untuk industri musik Indonesia?

Dari segi musisi saya harapkan ke depannya bisa berkarya lebih bagus lagi dari sekarang, terutama dengan adanya kemudahan teknologi dan kemudahan untuk mencari referensi.

Gak seperti dulu untuk cari referensi itu kan terbatas caranya, kalau sekarang jauh lebih mudah.

Sedangkan bagi pihak dari segi industri di balik panggung saya harap bisa semakin profesional, supaya bisa memastikan kalau musisi atau pencipta bisa berkarya dengan baik ketika tahu bahwa hak-haknya terlindungi dan teroptimasi dengan baik oleh para pelaku bisnisnya.

Jadi bisnisnya bagus, regulasi pemerintah dan perangkat pendukungnya sudah bagus, musisi juga bisa lebih tenang dan fokus untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Menyaksikan Kemeriahan Musik Nusantara dalam Relief Candi Borobudur

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini