Genjrang-Genjreng Musik, Kemeriahan yang Diharapkan Membawa Kesejahteraan

Genjrang-Genjreng Musik, Kemeriahan yang Diharapkan Membawa Kesejahteraan
info gambar utama

Musik merupakan hasil suatu budaya yang ditemukan dalam setiap peradaban manusia, baik pada masa lalu maupun masa kini. Banyak ahli yang menyatakan, musik hadir di antara manusia prasejarah, sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Musik diduga pertama kali dikenal pada periode Paleotikum atau sekitar 300 ribu hingga 12 ribu tahun lalu. Tetapi ada juga yang menyebut, musik sudah ada sejak masa Homo Sapiens yang hidup sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun lalu.

Di Indonesia sendiri musik telah hadir sebelum masa Hindu-Buddha. Di sini perannya tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sebagai kegiatan peribadatan. Dalam beberapa kelompok, genjrang genjreng musik lokal dipercaya memiliki kekuatan magis.

Namun dalam perjalanan waktu, perkembangan musik di Indonesia baik secara industri dan kreativitas menghadapi beragam tantangan. Seperti kesejahteraan kepada musisi, pembajakan, hingga hilangnya musik tradisi karena pengaruh globalisasi.

Karena itu, dalam rangka memeringati Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret kemarin. GNFI telah membuat serangkaian artikel yang mungkin dapat memberikan gambaran mengenai peran musik dalam peradaban Indonesia.

Musik dalam lintasan waktu

Candi Borobudur menjadi gambaran yang paling tepat bila ingin mengetahui peradaban musik Nusantara. Candi Buddha yang dibuat pada abad 8 Masehi dalam masa pemerintahan wangsa Syailendra ini merekam peradaban musik Nusantara.

Di candi ini terekam 200 relief yang menggambarkan perkembangan musik secara spesifik. Borobudur sudah layaknya pusat musik dunia pada masa dahulu. Secara umum, di Borobudur terdapat gambaran manusia memainkan alat musik.

Mulai dari alat musik tiup, petik, pukul, dan membran. Alat musik ini tidak memiliki nama, namun bentuknya menyerupai alat musik tradisional baik khas Indonesia maupun dari mancanegara.

Menyaksikan Kemeriahan Musik Nusantara dalam Relief Candi Borobudur

Relief ini terdapat pada kaki Candi Borobudur yang tertutup diambil dari kitab Karmawabhangg berjumlah 160 panil. Dari ratusan relief di Candi Borobudur ini, menampilkan 60 jenis alat musik.

Beberapa di antaranya adalah Ranat ek (Thailand), Balafon (Gabon), Marimba (Kongo/Tanzania), Mridgam (India), Ghatam (India), Udu (Nigeria), Bo (China), Bhusya (Nepal), Darbuka (Mesir), Setar (Iran).

Juga ada yang berasal dari Nusantara, seperti Tifa (Maluku/Papua), Kendang (Sunda), Sape (Dayak), Suling (Sunda). Kehadiran pahatan ragam alat musik pada relief Candi Borobudur tak ubah cara leluhur menunjukkan keagungan, kemasyhuran, dan peradaban tinggi pada zamannya.

Kemajuan ini telah diwujudkan oleh para leluhur melalui keanekaragaman instrumen musik dan teknologi pembuatan alat musik. Misalnya saja, kehadiran alat musik gamelan yang sudah menggunakan teknologi metalurgi yang luar biasa.

Musik lokal sebagai tuan rumah

Melintasi waktu, berkembangnya industri musik juga mendapat tantangan kuat terutama pada zaman globalisasi. Persaingan dalam industri musik seakan menenggelamkan musik lokal dengan musik-musik negara lain.

Meski anggapan ini ada benarnya, namun bila melihat kondisi sebenarnya, musik yang dihadirkan oleh musisi lokal masih menduduki posisi dominan dan memiliki peminat yang cukup tinggi, bahkan di beberapa kota besar.

Misalnya saja bila dilihat dari rekap yang dimiliki oleh salah satu platfrom streaming musik yang beroperasi di tanah air Spotify. Dalam peringkat atau chart mingguan periode 24 Febuari - 3 Maret 2022, mencatat jika musik lokal masih diminati.

Misalnya saja di Bandung, lagu 2 Lalaki dari Ade Astrid bisa didengar sampai 32,6 ribu kali. Sedangkan di Jakarta, lagu Bertahan Terluka dari Fabio Asher bahkan bisa diputar hingga 2 juta kali. Di Medan, lagu Haholongan dari Jan Munthe pun diminati masyarakat yang sampai diputar 69,3 ribu kali.

Sedangkan dalam skala nasional, memang ada beberapa musik dari luar yang masuk peringkat teratas. Tetapi dari 10 lagu, 6 di antaranya merupakan karya penyanyi Indonesia, Seperti lagu Merasa Indah dari Tiara Andini (peringkat 2) dan Sisa Rasa dari Mahalini (peringkat 4).

Hal yang menarik adalah lagu berjudul Mendung Tanpo Udan karya Ndarboy Genk yang diubah ke dalam bentuk dangdut koplo, bisa menjadi konten nasional yang disertai dengan gerakan joget khas buatan masyarakat tanah air.

Pada tahun 2022 ini, memang fenomena lagu dangdut koplo masih berlanjut seperti tahun-tahun kemarin. Apalagi basis penggemar yang sangat besar sehingga diprediksi akan terus melanjutkan kejayaannya di tahun ini.

Menilik Kondisi dan Tren Industri Musik Nasional Saat Ini

Hal serupa juga dirasakan oleh musisi dan komposer Viky Sianipar yang melihat perkembangan positif musik lokal di daerahnya Sumatra Utara (Sumut). Baik musik lokal maupun modern kini bisa diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat.

Seniman yang mengkombinasikan musik etnik Batak dan Rock ini melihat selama 20 tahun setelah dirinya mengeluarkan album Toba Dream, mulai banyak anak muda yang belajar musik dari tanah kelahirannya.

Selain itu, kata Viky, kini dalam pesta-pesta di masyarakat Batak Toba sudah lazim menggunakan musisi tradisional, baik untuk pernikahan ataupun kematian. Hal ini memang didukung oleh kepercayaan dari masyarakat Batak Toba sendiri.

“Kalau di budaya Batak Toba, musik itu segalanya, tidak ada musik, tidak bisa jalan. Karena pesta itu seperti mengucap syukur kepada Tuhan, dan medianya hanya musik yang diyakini sampai ke surga sana,” ucap Viky.

Musik sebagai penggerak ekonomi

Perkembangan dunia kini telah menunjukkan bahwa budaya, terutama musik bisa menjadi penggerak ekonomi. Misalnya saja melihat perkembangan industri K-Pop yang menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara Korea Selatan.

Makin berkembangnya teknologi pun menjadi peluang bagi musisi dan label untuk memperluas peluangnya. Hal inilah yang dirasakan oleh Puji Adi Andaya yang telah berkecimpung di dunia musik sejak era 1990 an.

Pria yang kerap disapa Puput ini melihat telah ada perubahan dalam industri musik, misalnya pihak label yang kini sudah membuat divisi social media untuk pemasaran, divisi musik digital, bahkan forecast atau peramalan tentang inovasi pada masa depan.

Karena teknologi sekarang bisa berubah secara cepat. Perusahaan label, menurutnya, rata-rata telah memiliki prediksinya masing-masing, tentang langkah selanjutnya yang perlu diambil.

“Jadi bukan lagi ketinggalan penyesuaian selama 3-5 tahun, tetapi justru mereka sudah bisa memprediksi 3-10 tahun ke depan itu akan ada hal yang baru apa,” jelasnya.

Dirinya juga menyoroti tentang kesejahteraan yang lebih dirasakan oleh pelaku industri musik pada waktu belakangan ini. Tetapi menurutnya masih banyak hal yang perlu dipikirkan, terutama kepada musisi yang sudah tidak berkarya lagi.

Bicara Industri Musik Nasional Masa Kini, Puji Adi: Anak Muda dan Musisi Sekarang Hebat

Sudah lazim terdengar banyak pelaku industri, baik penyanyi atau pencipta lagu yang tidak mendapat hak dari hasil karyanya. Padahal bagi Puput, hasil karya ini seharusnya bisa dirasakan hingga anak dan cucunya.

Hal inilah yang diungkapkan oleh pemain bas dari band Gigi, Thomas Ramdhan. Pria asal Bandung ini sebagai musisi telah melewati beragam zaman. Dari proses rekaman yang rumit hingga kemudahan di tengah kecanggihan teknologi.

Namun bagi Thomas, hal yang tidak berubah adalah masalah kesejahteraan kepada musisi. Hingga sekarang pria kelahiran 5 Maret 1967 ini tidak pernah mendengar bahkan merasakan hasil dari royalti.

“Enggak tahu ya, saya enggak pernah mendengar bantuan apa, bentuknya seperti apa juga belum tahu. Kalau induvidu saya mungkin terlalu kecil di industri, tetapi sebagai bagian dari Gigi juga belum terasa ya,” bebernya.

Walau begitu, gerakan musik yang muncul dari akar rumput masih tetap terlaksana, bahkan selama pandemi ini berlangsung. Beragam festival musik di daerah ini seperti menjadi hiburan bagi peliknya masalah yang dialami masyarakat.

Festival ini juga bisa menjadi penggerak ekonomi di daerah, misalnya Museum Musik Dunia Jatim Park 3 di Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), Museum Musik Indonesia di Jalan Nusakambangan, Malang, Jatim, dan Saung Angklung Udjo di Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung.

Di Indonesia, juga ada beberapa konser yang digelar rutin tiap tahun dan dilaksanakan di tempat-tempat terbuka. Misalnya seperti Jazz Atas Awan di Dieng, Jazz Gunung di Bromo, Ijen Summer Jazz, dan lain-lain.

Beragam festival ini memang sempat berhenti selama pandemi, namun melihat kondisi yang semakin membaik, beberapa kegiatan musik mulai direncanakan berlangsung tahun ini. Tentunya harapannya genjrang genjreng musik lokal ini terus bertumbuh dan abadi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini