Bicara Tradisi Musik Batak Toba, Viky Sianipar: Media yang Diyakini Sampai ke Surga

Bicara Tradisi Musik Batak Toba, Viky Sianipar: Media yang Diyakini Sampai ke Surga
info gambar utama

"Kalau di budaya Batak Toba musik itu segalanya, tidak ada musik tidak bisa jalan. Karena pesta itu seperti mengucap syukur kepada Tuhan, dan medianya hanya musik yang diyakini sampai ke surga sana. Jadi pesta tidak akan jalan, kalau tidak ada musik tradisional."

---

Musik bagi masyarakat Sumatra Utara (Sumut), khususnya bagi suku Batak Toba tak bisa dilepaskan satu sama lain. Banyak kegiatan adat yang melibatkan musik, seperti ritual keagamaan atau pernikahan.

Sebagai masyarakat komunal, Batak Toba juga mendasarkan pengalaman empiris dan spritual mereka melalui musik. Karena itu, status sosial musisi Batak Toba mendapat tempat khusus di masyarakat.

Para musisi ini dianggap sebagai sosok pandai terpilih. Karena itulah, ketika upacara para musisi ini disediakan tempat istimewa bagi musisi ini untuk menjalankan tugasnya. Salah satu tugasnya adalah memediasi hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui musik.

Musik memang dianggap sebagai media paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, musik dianggap cara paling mudah untuk menyentuh perasaan manusia. Hal inilah menjadi serasa tidak lengkap bila ada kegiatan adat tanpa musik

“Kalau di budaya Batak Toba musik itu segalanya, tidak ada musik tidak bisa jalan. Karena pesta itu seperti mengucap syukur kepada Tuhan, dan medianya hanya musik yang diyakini sampai ke surga sana. Jadi pesta tidak akan jalan, kalau tidak ada musik tradisional,” ungkap Viky Sianipar, musisi yang berasal dari Batak Toba kepada GNFI.

Musikus yang menggabungkan musik etnik Batak dan Rock ini menjelaskan kepada GNFI, bahwa ada perkembangan positif dari industri musik di Sumatra Utara. Tidak hanya musik modern, tetapi juga musik etnik.

Pada kesempatan itu Viky menerangkan bagaimana peran musik bagi dirinya sejak kecil hingga membentuk karakternya dalam bermusik. Termasuk tantangan baginya untuk memperkenalkan hasil karyanya kepada anak muda hingga generasi tua di Batak Toba.

Lalu bagaimana perkembangan musisi sendiri baik secara kreativitas hingga kesejahteraan? Juga apa yang dilakukan oleh para musisi untuk bertahan selama pandemi? Berikut kutipan wawancaranya?

Bagaimana kondisi musik di Sumut?

Di sini ada progres dari musik tradisionalnya dan modernnya. kalau musik tradisionalnya sudah banyak lagi anak muda yang ingin belajar itu, jobs-nya udah mulai banyak lagi. Sudah banyak orang yang sadar adat batak.

Setiap pesta tidak lagi pakai keyboard tunggal lagi, sudah pakai musisi tradisional, misalnya pernikahan atau kematian. Karenanya supaya lestari kan ujung-ujungnya duit.

Musik modern, sejak (rilis) Toba Dream tahun 2002 setelah 20 tahun sudah lumayan banyak anak-anak muda yang ikut bikin musik daerah batak dengan modern. Bahkan viewnya sudah sampai puluhan juta.

Tetapi tetap uud, kalau ada duit mereka akan bergerak. Sekarang juga disambut dengan pemerintah, misal dari Kemenparekraf dan Kemendikbud yang melakukan pengarahan dan pelatihan di sana.

Bagaimana tradisi musik di sana?

Kalau di budaya Batak Toba, musik itu segalanya, tidak ada musik tidak bisa jalan. Karena pesta itu seperti mengucap syukur kepada Tuhan, dan medianya hanya musik yang diyakini sampai ke surga sana.

Jadi, pesta tidak akan jalan kalau tidak ada musik tradisional. Karena ini media yang didesain untuk frekuensi sampai ke sana.

Apa arti musik bagi Anda?

Musik bagi aku media komunikasi rasa. Kalau verbal itu media komunikasi logis tetapi ketika kita menyampaikan rasa itu tidak bisa pakai mulut. Berarti peranan musik di situ penyampaian pesan, bahasa rasa.

Karena itu musisi harus berhati-hati. Karena di lagu ini akan ada rasa yang ditanamkan oleh penciptanya, rasanya rebel penerimanya akan rebel, otomatis. Musik, bagi saya, sama halnya seperti pisau, netral. Bisa membunuh, bisa membuat makanan untuk kehidupan.

Menyaksikan Kemeriahan Musik Nusantara dalam Relief Candi Borobudur

Sejak kecil bagaimana pengaruh musik bagi Anda?

Memang musisi itu terbentuk dari apa yang dirinya dengar 12 tahun ke bawah sebelum puber. Itu apa yang didengar otomatis akan ke bawa style musiknya.

Saya anak paling kecil dan jauh (umurnya) dari abang-abangku. Rumahku juga jadi tempat penampungan saudara-saudara dari Medan. Jadi enggak kebagian mendengarkan musik anak-anak.

Jadi, radio dan tape itu dikuasai oleh mereka, jadi terdoktrin lagu-lagu mereka, classic, rock dan lagu jadul. Misal The Police, Queen, Genesis, Led Zeppelin, The Beatleas. Tidak pernah mendengar lagu tradisi, sekarang mendengar, itu pun bukan karena aku suka, tetapi karena ada jobs-nya.

Tetapi ini malah men-triger mengapa mereka jadi tidak suka, jangan dahulu salahin anak mudanya. Tetapi koreksi dulu musisi tradisinya, lagunya boring, enggak entertaining. Karena itulah saya kepikiran mendaur ulang menjadi lebih modern tanpa menghilangkan isi aslinya.

Bagaimana soal modernisasi musik?

Budaya itu bukan suatu yang stuck, saya belajar dari Guru Besar Universitas Sumatra Utara (USU), budaya itu yang hidup dan berkembang tetapi sekarang orang mempakemkan harus begini harus begitu. Ya mati budayanya tidak akan berkembang.

Sejak Covid tidak punya pilihan. musisi kalau mau hidup harus ke digital. Sekarang sudah jalan tiga tahun Covid. Jadi bisa dipastikan sudah ada di digital. Sekarang gampang banget.

Destinasi Wisata Musik Indonesia, dari Museum Hingga Konser di Alam

Bagaimana gerakan Toba Dream?

Karena pengalaman penggabungan musik tradisional dan modern ini awalnya banyak yang kontra. Tetapi ada juga yang pro satu visi dengan aku, jadi kayak punya teman. Akhirnya kumpul dengan nama komunitasnya Toba Dream.

Karena itu kita punya gerakan save the musik. Musik dari hilir dari segi produksinya, promosi, dan menjualnya lalu tampilnya. Sekarang kita lagi ke kesadaran digital hak cipta dan pemungutannya sudah terbuka.

Kalau di digital kan terbuka, haknya produser untuk produser, penyanyi untuk penyanyi sudah langsung terbagi. Begitu juga sekarang kita kampanye memberikan kesadaran saat pesta-pesta untuk mengembalikan ke musik tradisi.

Ada yang kontra juga?

Musik pop Batak itu di tahun 70-an ada yang membawa pembaruan dengan konsep trio. Tetapi tidak terjadi perkembangan selama 30-40 tahun ke depan, akhirnya terpakemkan kalau musik Batak yang asli seperti itu.

Sedangkan Batak kan 70 persen masyarakatnya perantau. Namanya perantau pasti pernah home sick dia di kala home sick ingin mendengar lagunya pada masa kecilnya yang di kampung.

Di saat orang perantau ini mendengar musik gaya aku, mereka protes. Padahal lagunya sama tetapi aransemennya beda. Mereka protes. Padahal kan ini aku buat untuk anak mereka yang sudah tinggal di perantauan yang tidak punya memori itu.

Akhirnya yang tua mengecam, padahal anak-anak mereka punya CD aku. Generation gap kan terjadi sekarang.

Soal rencana bikin album?

Ini konsep agak baru, secara general ada fenomena selama 10 tahun ini ditemukan situs purbakala candi di Pulau Jawa banyak sekali. Di Jawa Barat bertemu Gunung Padang lah yang rata-rata mengubah teori sejarah Indonesia yang ada di akademik.

Karena itu pada galau, kalau diterusin akademisi akan mengubah semua. Di saat bertemu situs di Jawa-Sunda ini. Di Sumatra juga bertemu terutama di Batak. Bertemunya situs ini informasinya beda dengan sejarah Batak yang sudah ditulis saat ini.

Saya salah satu yang sedang melakukan penelitian di situ, karena musik punya peranan besar di Batak. Makannya lagunya aku preserved yang ada di sana. Albumku ini lagu-lagu yang ditemukan, lagu-lagu prasejarah yang akan juga masuk unsur sejarah Batak yang baru.

Tentang apa lagunya?

Ini liriknya sudah ada sejak zaman dahulu. Kebanyakan tenang silsilah dan asal usul Batak yang telah terkuak. Bedanya kalau profesor bilang, Batak ini datang dari India belakang. Tetapi kalau dari sini terbalik, dari Batak ke sana. Betul Nusantara ini asal mula.

Mungkin nanti ada akademisi juga yang preserved dari sisi literasi, saya musik, geologi ada, sejarah ada. Edukasi karena musik lebih gampang, terutama mengembangkan dengan wisata edukasi leluhur.

Ini kerjasamanya dengan Kemenparekraf dan Kemendikbud. Untuk mengurus situs-situs ini, ujungnya terjadi kegiatan ekonomi.

Sekarang lagi bikin video klip, nanti kalau sudah ada tiga video klip selesai langsung rilis, udah selesai semua musiknya, udah di konserkan, sudah ada tanggapan.

Tanggapannya banyak yang bangga menjadi orang Batak. Aku pikir dengan bangga menjadi orang Batak ini menjadi pilar Indonesianya lebih kuat.

Bicara Industri Musik Nasional Masa Kini, Puji Adi: Anak Muda dan Musisi Sekarang Hebat

Musisi ketika pandemi bagaimana?

Jobs musisi 90 persen dari manggung sementara 10 persen dari karya. Sekarang pandemi kebalik, manggungnya 10 persen kurang 90 persen dari karya. Kalau kita baca polanya musisi dipaksa untuk berkarya karena hanya bisa hidup dari berkarya.

Buat kami ini bagus, sekarang band mana? Bikin satu album, keliling beberapa kota jadi kayak orang kantor. Jadi mirip era The Beatles yang muak dengan manggung, sehingga jadi musisi studio. Pasca dia tur malah lagunya mengubah dunia. Karena tidak terjebak dengan tur manggung.

Ini menjadi seleksi alam mana musisi beneran mana musisi gadungan. Akhirnya orang kembali ke talenta masing-masing.

Soal royati?

Sekarang udah enak banget. Tidak perlu negatif thingking dengan label, bahkan bisa juga tanpa label. Justru royalti ini terselesaikan. Kembali musisinya berkarya, karyanya bagus atau jelek. Rekaman tinggal di kamar tidak perlu ke studio. ‘

Sekarang persoalannya cuma satu, karya lu laku atau enggak, titik.

Apa harapan Anda sekarang sebagai musisi?

Kalau sistem royalti sudah beres. peralatan musik sudah murah, ajakan kembali ke budaya sudah banyak. Sekarang tinggal yang mengeluarkan uang nih. Karena ujung-ujugnya duit, nah duitnya dari mana?

Uangnya dari mana? Dari tempat pariwisata yang Pak Jokowi getol banget atau pengusaha yang pulang kampung bikin usaha di sana. Apalagi pembangunan di daerah, sekarang Danau Toba jadi daerah super prioritas.

Pemerintah lagi keren-kerennya, pembangunan fasilitas dilakukan, jadi sudah tidak ada masalah lagi. Sekarang tinggal bikin lagunya yang enak.

Walau sekarang sedang on going tetapi visi pemerintah sangat jelas dan tegas, prosesnya tampak. Penuh dengan harapan-harapan untuk masa depan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini