Surat untuk Anakku

Nicky Hogan

Pernah menjadi Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia

Surat untuk Anakku
info gambar utama

Anakku, Apa kabarmu? Masih berlari? Sejauh apa sudah larimu?

Awal bulan lalu, seorang pemuda tuna netra (tunet) pemijat berbagi cerita denganku. Baginya, hidup hanya ada gelap dan terang, siang dan malam.

Ya, hanya itu, Nak.

Namun hidup tidak terpaku di dua sisi itu. Di balik gelap dan terang itu, dia punya banyak cerita. Tentang rambutnya yang dibiarkan gondrong terikat rapih dan tentang otot-otot kekar kaku yang disentuhnya.

Tentang tempat tinggal sekaligus tempat prakteknya yang melompong dari perabot-perabot, yang berguncang setiap kali bus dan truk besar melintas kencang, di Jalur Pantura, Kota Kendal, Jawa Tengah.

Juga cerita tentang kampung halamannya, rindangnya pohon, kicauan burung, sejuknya angin perbukitan yang tiupannya menggoyang pelan jembatan gantung yang sering dilaluinya.

Anakku,

Aku masih berlari. Sejauh apa sudah lariku? Atau tepatnya, sejauh apa lari sudah membawaku? Jauh. Lari telah jauh membawaku, Nak. Seperti tutur tunet teman kita tadi, tidak sekadar tentang hanya dua sisi, gelap dan terang, siang dan malam.

Start dan finish. Beyond itu semua, ada proses, ada content. Banyak pengalaman, banyak pelajaran, banyak pendewasaan. Mungkin juga banyak proses meng-orang-kan manusia.

Di balik gelap dan terang yang menyertai siang dan malam, di antara kibaran bendera start dan bentangan pita finish, adalah cerita-cerita tentang rambut gondrong yang basah, otot-otot yang mengejang, tubuh panas yang berguncang, tentang rimbunnya pepohonan membentuk terowongan, suara makhluk malam, sepoi angin pagi, jalan panjang naik turun, ladang jagung dan jembatan gantung.

Semua yang dilalui adalah ibarat cerita teman kita, yang tidak hanya terpaku pada dunia yang gelap dan terang. Atau melulu soal start dan finish. Berlari cepat di depan bukanlah kemenangan, berlari lambat di belakang bukanlah kekalahan.

Do not finish di momen tertentu bisa jadi sangat ingin dihindari karena meruntuhkan ketinggian hati, namun di saat lain bisa jadi seenteng-entengnya diputuskan, tanpa beban, tanpa malu, tanpa mengganggu sang ego.

Tidak lagi relevan, bukan?

“Freedom is not procured by a full enjoyment of what is desired, but by controlling the desire.” ~ Anonim

Ayah masih akan terus berlari, nak. Karena selalu akan lahir cerita. Ayah membutuhkannya, agar hidup tidak “buta” hanya pada sisi-sisi yang disodorkan, given. Ayah menyukainya, menikmatinya. Dan kuharap begitu pun kau, Nak.

Salam,

Ayah.

Catatan:

Tulisan ringkas dari Charity-Run 85 K 'Satu Kata Peduli', untuk sekolah inklusi se-Kendal, 4-5 Maret 2020

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Nicky Hogan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Nicky Hogan.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

NH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini