Mengapa Fosil Dinosaurus Tak Pernah Ditemukan di Indonesia?

Mengapa Fosil Dinosaurus Tak Pernah Ditemukan di Indonesia?
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, akun instagram @seasia.co memposting satu konten yang menarik, yakni spesies-spesies dinosaurus yang pernah hidup di Asia Tenggara, yang artinya fossilnya ditemukan di kawasan Asia Tenggara.

Yang mengherankan, hampir semua fossil dinosaurus ditemukan di Thailand (dan Laos). Dari hampir 200 komentar yang masuk ke konten tersebut, tak sedikit orang yang merasa heran kenapa di Indonesia, yang wilayahnya terbesar di Asia Tenggara, tidak ditemukan fosil dinosaurus.

View this post on Instagram

A post shared by Good News From Southeast Asia (@seasia.co)

Dinosaurus adalah makhluk reptil purba yang hidup di Bumi dari sekitar 245 juta tahun yang lalu. Istilah "dinosaurus" (Inggris, dinosaur) dipopulerkan pada tahun 1842 oleh Sir Richard Owen yang berasal dari bahasa Yunani deinos yang berarti "mengerikan, kuat, hebat" dan sauros "kadal" yang secara langsung disebut dinosaurus.

Zaman dinosaurus merupakan masa keempat setelah masa Paleozoik yang bernama masa mesozoik. Zaman mesozoik terbagi menjadi tiga bagian terdiri dari zaman triasik, jurasik, dan kretaseus.

Perkiraan jenisnya bervariasi, tetapi dalam hal dinosaurus non-unggas yang punah, sekitar 300 generasi dan sekitar 700 spesies telah ditemukan. Mayoritas dinosaurus adalah vegetarian. Sedang dinosaurus seperti Tyrannosaurus rex dan Giganotosaurus adalah pemakan daging.

Dinosaurus diduga punah oleh hujan meteor yang terjadi pada 65 juta tahun yang lalu ketika sebuah asteroid raksasa berdiameter 15 kilometer menghantam Bumi, dengan kekuatan guncangan setara dengan 10 miliar bom Hiroshima. 10 milyar! Inilah yang menciptakan kawah Chicxulub di bawah Semenanjung Yucatan Meksiko.

Bencana ini adalah salah satu peristiwa paling merusak dalam sejarah Bumi, mematikan 75 persen spesies hewan dan tumbuhan di planet ini. Kerusakan yang disebabkan oleh dampak itu termasuk gelombang besar seperti tsunami dan "ejecta" (semburan batu, seperti pasir halus dan manik-manik kaca kecil).

Hingga tahun 2015 sendiri telah tercatat ada lebih dari 1.600 genera yang sudah berhasil diidentifikasi. Dengan nama dinosaurus, sebagian besar fosil hewan purba yang sudah punah ditemukan di Benua Afrika. Di Benua Asia, fosil dinosaurus banyak ditemukan di wilayah Gurun Gobi. Gurun ini terbentang luas dari sebelah barat daya Tiongkok sampai Iran.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa tidak ditemukan fosil dinosaurus di Indonesia?

Proses evolusi Bumi terbagi menjadi beberapa zaman. Mulai dari zaman Arkeozoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Kenozoikum.

Dinosaurus sendiri hidup di masa Mesozoikum, yakni sekitar 252 hingga 65 juta tahun yang lalu. Dalam era tersebut, masa Mesozoikum masih dibagi lagi menjadi 3 periode. Sebut saja Triassic, Jurassic, dan Cretaceous.

Triassic berlangsung dari sekitar 252 juta tahun hingga 201 juta tahun yang lalu, periode Jurassic, sekitar 210 hingga 145 juta tahun yang lalu, sementara periode Cretaceous yang berlangsung sekitar 145 sampai 66 juta tahun yang lalu.

Selama masa Mezosoikum ini, sebagian besar wilayah Indonesia masih ada di bawah lautan. Daratan Indonesia baru terbentuk sekitar 50 juta hingga 30 juta tahun silam.

Rentang waktu antara terbentuknya kepulauan Indonesia dan punahnya dinosaurus ini sangatlah lama, sehingga bisa dipastikan tidak akan ada fosil dinosaurus di Indonesia. Kalau pun ada fosil dinosaurus yang ditemukan di sini, tidak akan diklasifikasikan sebagai dinosaurus.

Kini terjawab mengapa di Indonesia tidak ditemukan fosil dinosaurus. Meskipun memang, di Indonesia ditemukan fosil reptil laut purba, seperti Globidens timorensis, Mixosaurus timorensis, dan Ichthtyosaurus, ramensis. Itu pun bukan dari masa Mesozoikum, melainkan era Kenozoikum dan Kuarter. Untuk diketahui, dari semua wilayah di Indonesia, hanya Kalimantan saja yang sempat menjadi bagian Eurasia di era Mezosoikum.

Selain itu, kondisi wilayah Indonesia tak memungkinkan untuk menemukan fosil dinosaurus. Pasalnya, kondisi geologi pulau ini berupa lahan gambut. Pencarian fosil dinosaurus membutuhkan usaha yang lebih keras. Tak hanya itu, biaya yang perlu dikucurkan juga tak sedikit.

Oleh karenanya, ini juga menjadi alasan kenapa di Indonesia tidak ditemukan fosil dinosaurus. Selain itu, dinosaurus para ahli juga memperkirakan bahwa Dinosaurus menghindari kawasan khatulistiwa atau ekuator pada era Mesozoikum silam, karena keadaan wilayahnya yang panas.

Di masa lalu, hewan-hewan ini mendominasi daratan di Indonesia yang dahulu masih berupa daratan Sunda dan daratan Sahul.

Sisa-sisa mamalia tertua di Jawa berasal dari Pliosen, dan jenisnya serupa dengan yang ditemukan di lembah-lembah Siwalik di India: gajah primitif – binatang yang me-nyerupai gajah raksasa Trilophodon bumiajuensis yang punah, kuda nil Hexaprotodon, dan rusa.

Semua fosil ini berasal dari 3-1,5 juta tahun yang lalu. Fauna Pleistosen yang kemungkin an berasal dari 0,8-1,5 juta tahun yang lalu. Dari jetis, Trinil dan Ngandong, sangat mirip dan mempunyai banyak kaitan dengan fosil Siwalik dan fauna dari Cina pada jaman prasejarah.

Binatang yang ada di Jawa adalah binatang-binatang yang sekarang cenderung hidup di wilayah yang terbuka luas, dan hal ini juga menunjukkan bahwa P. Jawa dulu hampir seluruhnya berupa hutan.

Sumber:

Okezone. “Dinosaurus Pernah Hidup Di Pulau Jawa? : Okezone Nasional.” Https://Nasional.okezone.com/, 6 Mar. 2021, https://nasional.okezone.com/read/2021/03/07/337/2373632/dinosaurus-pernah-hidup-di-pulau-jawa.

'Open Sans', et al. “Kenapa Tak Ditemukan Fosil Dinosaurus Di Indonesia? Simak Alasannya!” Harapan Rakyat Online, 19 Nov. 2021, https://www.harapanrakyat.com/2020/02/kenapa-tak-ditemukan-fosil-dinosaurus-di-indonesia/.

Dera. “Terungkap, Ini Alasan Kenapa FOSIL Dinosaurus Tidak Ada Di Indonesia - Peternakan Sariagri.id.” Sariagri.id, 17 June 2021, https://peternakan.sariagri.id/73401/terungkap-ini-alasan-kenapa-fosil-dinosaurus-tidak-ada-di-indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini