Presiden AS Luncurkan Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik, Apa Artinya Bagi Indonesia?

Presiden AS Luncurkan Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik, Apa Artinya Bagi Indonesia?
info gambar utama

Pada Senin (23/5/2022) Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan 13 negara yang bergabung dengan aliansi perdagangan Asia-Pasifik baru yang dipimpin AS dengan nama Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) alias Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik.

Kerangka kerja ini dimaksudkan untuk memajukan ketahanan, keberlanjutan, inklusivitas, pertumbuhan ekonomi, keadilan, dan daya saing bagi ekonomi di kawasan tersebut. Adapun tujuan IPEF adalah berkontribusi pada kerja sama, stabilitas, kemakmuran, pembangunan, dan perdamaian di kawasan ini Indo-Pasifik.

“Saya ingin memperjelas bahwa kerangka kerja ini akan terbuka untuk orang lain yang ingin bergabung di masa depan, jika mereka mendaftar dan memenuhi tujuan dan bekerja untuk mencapai tujuan itu,” kata Biden, seperti dilansir Bloomberg.com.

Kerangka kerja tersebut merupakan upaya AS yang paling signifikan untuk melibatkan Asia dalam masalah ekonomi sejak mantan Presiden Donald Trump pada tahun 2017 menarik diri dari perjanjian Trans-Pacific Partnership yang dinegosiasikan di bawah pemerintahan Obama.

Dari 13 negara yang termasuk dalam anggota IPEF, salah satunya adalah Indonesia. Lantas, apa saja yang akan dilakukan IPEF dan apa untungnya bila Indonesia bergabung?

Luhut dan Delegasi Indonesia Temui Elon Musk di Pabrik Tesla, Apa yang Dibahas?

Memahami Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik

Pertemuan Presiden Jokowi dengan Joe Biden | Sekretariat Presiden RI
info gambar

13 negara yang bergabung dalam IPEF yaitu Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pakta perdagangan baru ini meliputi kerja sama dalam menjamin rantai suplai, energi terbarukan, dan upaya menanggulangi tindak korupsi.

“Penting bagi AS dan negara-negara Asean untuk memiliki tempat untuk berdiskusi secara positif dan kooperatif untuk mencapai hasil yang konkrit,” kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida. “Melalui upaya-upaya itu kami dapat membawa manfaat nyata.”

Biden mengatakan bahwa masa depan ekonomi abad ke-21 sebagian besar akan ditulis di Indo-Pasifik. PDB (produk domestik bruto) gabungan dari negara-negara yang berpartisipasi mewakili 40 persen dari PDB global. Ditambah lagi, sekitar 60 persen populasi dunia tinggal di Indo-Pasifik dan kawasan itu diharapkan menjadi kontributor terbesar bagi pertumbuhan global selama tiga dekade ke depan.

Penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan mengatakan kerangka kerja tersebut merupakan sarana bagi AS untuk memperkuat hubungan dengan sekutu dan mitra untuk tujuan meningkatkan kemakmuran bersama.

Pejabat senior administrasi mengatakan AS tidak mengundang China untuk bergabung dengan kerangka kerja tersebut, sebagian karena seperangkat standar yang Gedung Putih yakini bahwa Beijing akan mengalami kesulitan untuk bertemu.

AS memilih kelompok awal karena keinginan untuk menjangkau di luar negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi yang mendalam dengan Amerika, sementara juga memastikan mereka dapat menyetujui setidaknya salah satu pilar.

Batas waktu untuk mencapai komitmen substantif, baik yang mengikat maupun tidak mengikat, akan lebih pendek daripada negosiasi perdagangan tradisional yang mencakup pengurangan tarif. AS berharap untuk mengetahui negara mana yang akan berpartisipasi dalam masing-masing dari empat pilar pada pertengahan Juni, dan bertujuan untuk memiliki komitmen substantif dalam waktu sekitar 12 hingga 18 bulan.

Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik ini diketahui memiliki empat pilar utama yang akan difokuskan untuk membangun komitmen berstandar tinggi yang akan memperdalam keterlibatan ekonomi di kawasan tersebut. Berikut keempat pilar tersebut mengutip laman resmi White House:

1. Ekonomi terhubung: Dalam perdagangan, kami (anggota IPEF) akan terlibat secara komprehensif dengan mitra kami dalam berbagai masalah. Kami akan bekerja dengan mitra kami untuk menangkap peluang dan mengatasi masalah dalam ekonomi digital, untuk memastikan usaha kecil dan menengah dapat mengambil manfaat dari sektor e-dagang yang berkembang pesat di kawasan ini.

2. Ekonomi yang tangguh: Kami akan mencari komitmen rantai pasokan pertama dari jenisnya yang mengantisipasi dan mencegah gangguan dalam rantai pasokan dengan lebih baik untuk menciptakan ekonomi yang lebih tangguh. Kami bermaksud melakukan ini dengan membangun sistem peringatan dini, memetakan rantai pasokan mineral penting, meningkatkan ketertelusuran di sektor-sektor utama, dan mengoordinasikan upaya diversifikasi.

3. Ekonomi bersih: Kami akan mengupayakan komitmen di bidang energi bersih, dekarbonisasi, dan infrastruktur yang mempromosikan pekerjaan bergaji baik. Kami akan mengejar target yang konkret dan berambisi tinggi yang akan mempercepat upaya untuk mengatasi krisis iklim, termasuk di bidang energi terbarukan, penghilangan karbon, standar efisiensi energi, dan langkah-langkah baru untuk memerangi emisi metana.

4. Ekonomi yang adil: Kami akan mencari komitmen untuk memberlakukan dan menegakkan rezim pajak, anti pencucian uang, dan anti penyuapan yang efektif yang sejalan dengan kewajiban multilateral yang ada untuk mempromosikan ekonomi yang adil. Ini akan mencakup ketentuan tentang pertukaran informasi pajak, kriminalisasi suap sesuai dengan standar PBB, dan penerapan rekomendasi beneficial ownership yang efektif untuk memperkuat upaya kita memberantas korupsi.

Mahathir Mohammad: Malaysia Tertinggal dari Indonesia

Keuntungan bagi Indonesia

Mewakili Presiden Joko Widodo dalam peluncuran IPEF, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan bahwa IPEF harus inklusif dan terbuka untuk negara-negara lain di Kawasan Indo-Pasifik. Sebagai bagian dari kelompok yang diinisiasi Presiden AS, Indonesia juga memastikan bahwa bentuk kerjasama dalam IPEF harus konkret dan saling menguntungkan satu sama lain.

"Region Indo-Pasifik terlalu luas jika hanya mengakomodir kepentingan negara tertentu. Dengan inklusivitas, maka akan terdapat benefit jangka panjang untuk ke depannya," jelas Lutfi di unggahan Instagramnya.

Lutfi juga menyatakan bahwa posisi IPEF ke depan tidak boleh menjadi beban baru untuk negara-negara berkembang. "Justru keberadaan IPEF wajib dapat mendorong partisipasi negara-negara lain di kancah regional dengan dukungan penuh dari negara-negara anggota IPEF. IPEF juga harus bersinergi dengan kerangka ekonomi milik negara lain di Kawasan Indo-Pasifik, terutama dalam lingkup Asia Tenggara."

Dalam kesempatan berbeda, Koordinator Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta Widjaja Kamdani menyambut baik perihal bergabungnya Indonesia dalam IPEF.

"Melalui inisiatif ini, kami harap ada pendalaman relasi ekonomi antara Indonesia, Asean dengan Amerika Serikat, khususnya dalam hal perluasan supply chain dan juga terkait kerja sama adopsi teknologi industri dari Amerika Serikat," kata Shinta kepada Beritasatu.com.

Menurut Shinta, diharapkan inisiatif ini tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama ekonomi yang sifatnya lebih praktis dan mengikat, khususnya terkait teknologi industri seperti kendaraan listrik, baterai, semikonduktor, bahkan teknologi kesehatan seperti genetic sequencing.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini