Hobi Menanam Sekaligus Menjaga Lingkungan dengan Pot Organik

Hobi Menanam Sekaligus Menjaga Lingkungan dengan Pot Organik
info gambar utama

#FutureSkillsGNFI

Pada saat pandemi 2019 hingga saat ini mulai populer hobi menanam di semua kalangan umur. Ternyata, tanaman yang ditanam bisa berharga hingga ratusan juta, lho. Tentu, hobi menanam bisa menjadi prospek bisnis yang bagus.

Seiring dengan meningkatnya hobi menanam di kalangan masyarakat, turut meningkatkan penggunaan pot untuk tempat semai tanamannya. Saat ini, mayoritas masyarakat yang hobi menanam menggunakan pot plastik atau semen yang susah diurai oleh lingkungan.

Pot yang terbuat dari plastik atau semen tersebut apabila sudah tidak digunakan, akan menjadi limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Kesukarannya untuk diurai di lingkungan dapat menyebabkan berbagai dampak, seperti penumpukan limbah, pencemaran lingkungan, bahkan bisa membahayakan keberlangsungan makhluk hidup. Dengan penumpukan limbah dapat menyebabkan polusi udara dan tanah karena baunya yang tidak terurai dan tercampur dengan limbah lain.

Dengan keresahan tersebut, keempat anak muda yang sedang belajar di Universitas Gadjah Mada, yaitu Wikan Wicaksono, Dika Anggraeni, Nabilah Khansa, dan Lukman Yulianto, melakukan penelitian sebagai solusi untuk mengatasi masalah non-biodegradable pot. Mereka membuat pot organik berbahan dasar limbah kulit durian.

Limbah kulit durian merupakan limbah yang banyak dan belum banyak dimanfaatkan optimal oleh masyarakat. Limbah kulit durian sangat menumpuk jika hanya dibuang di pembuangan limbah. Hal ini dapat dilihat di toko penjual produk olahan durian yang hanya menumpukkan limbah di belakang gedung.

Eco-Pot | Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber
info gambar

Padahal, limbah kulit durian memiliki kandungan serat yang tinggi sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan pot organik. Melalui program pemerintah, yaitu Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), pada 2021 yang dilakukan selama kurang lebih 4 bulan dapat menghasilkan pot organik yang ramah lingkungan.

Kali ini, Goodside akan berbincang dengan keempat nasarumber pencetus inovasi eco-pot dari limbah kulit durian.

"Kami berniat mengatasi salah satu masalah lingkungan tentang pot non-biodegradable dengan pot organik yang mudah diurai oleh lingkungan," ujar salah seorang narasumber.

Pot organik ini dinamai eco-pot yang maknanya eco friendly pot. Pot organik ini terbuat dari bahan limbah kulit durian yang diambil di salah satu lokasi penjualan produk olahan durian di Yogyakarta. Pemilik toko merasa terbantu dengan limbah yang diambil karena penumpukan limbahnya menjadi lebih sedikit.

Kemudian, pot organik ini diteliti selama kurang lebih 4 bulan untuk mendapatkan formulasi yang tepat. Menurut narasumber, "Eco-pot berhasil melalui beberapa pengujian, di antaranya uji jatuh, daya serap, dan mekanik, untuk kelayakan pot. Sehingga sudah dapat digunakan sebagai pot organik."

Narasumber juga membagikan formulasi terbaik sebagai pot organik agar masyarakat juga dapat mengaplikasikannya untuk tempat semai tanaman. Bahannya mudah didapatkan. Prosesnya mudah dilakukan. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat berkontribusi pada lingkungan.

Eco-Pot | Foto: Dokumentasi Pribadi Narasumber
info gambar

"Tidak sulit membuat pot organik di rumah dengan bahan dan cara pembuatan yang sederhana. Formulanya, yaitu limbah kulit durian 25 gram dan tanah liat 175 gram. Tahapan pembuatannya, yaitu kulit durian dibersihkan dan diparut untuk mendapatkan seratnya. Setelah itu, serat dikeringkan dan diadon dengan tanah liat. Tahap selanjutnya, pencetakan dan pengeringan. Pot organik siap digunakan," ujar narasumber.

Peneliti mengajak pada masyarakat untuk mulai menjaga kelestarian alam. Kelestarian alam perlu dijaga untuk keberlangsungan hidup manusia ke depannya. Jadi, ayo Goodmates mulai menjaga lingkungan ya dengan melakukan penanaman pohon dan memanfaatkan limbah untuk pot organik yang ramah lingungan. Alam akan terjaga dan kelangsungan hidup manusia akan aman ke depannya.

 

Referensi: Wawancara dengan Mahasiswa UGM

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini