Mendorong Pendekatan Terpadu untuk Ekonomi Berbasis Data di ASEAN

Satvinder Singh

Deputy Secretary-General of ASEAN for the ASEAN Economic Community

Mendorong Pendekatan Terpadu untuk Ekonomi Berbasis Data di ASEAN
info gambar utama

Masyarakat Ekonomi ASEAN kembali mencapai sesuatu yang signifikan dalam perjalanan transformasi digitalnya.

The World Summit of Information Society (WSIS) baru saja menganugerahkan hadiah WSIS teratas dalam kategori "Kerjasama Internasional dan Regional" kepada ASEAN sebagai pengakuan atas inisiatifnya pada ASEAN Data Management Framework (DMF) dan Model Contractual Clauses (MCCs) ASEAN untuk Cross Border Data Flows (Arus Data Lintas Batas).

Ini adalah penghargaan atas kontribusi ASEAN terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Perserikatan Bangsa-Bangsa yang layak disyukuri dan ditindaklanjuti.

Ekonomi digital akan memainkan peran yang semakin besar di dunia pascapandemi, khususnya di Asia Tenggara. Di ASEAN, ada tambahan sekitar 60 juta konsumen digital baru sejak awal pandemi COVID-19, dan menjadikan kawasan ini sebagai basis internet terbesar ketiga dengan hampir 400 juta pengguna internet.

Pendapatan digital ASEAN meningkat dari 117 miliar dolar AS pada tahun 2020 menjadi 174 miliar dolar AS pada tahun 2021, dan diperkirakan akan mencapai 363 miliar dolar AS pada tahun 2025. Sehingga, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan akan tumbuh secara signifikan, diperkirakan mencapai 1 triliun dolar AS PDB regional pada tahun 2030.

Dengan potensi luar biasa ini, ASEAN perlu lebih fokus pada sektor digital untuk bisa memanfaatkan gelombang pertumbuhan di kawasan ini secara optimal dan memastikan bahwa hal itu terus berkelanjutan, termasuk melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang diharapkan dapat memulai negosiasi pada tahun 2025.

ASEAN perlu menyadari pentingnya data yang merupakan blok bangunan inti ekonomi digital. Layanan berbasis data telah muncul sebagai pendorong baru pertumbuhan ekonomi. Misalnya, diperkirakan bahwa aplikasi kecerdasan buatan (Artificial Intellegence) berbasis data akan menghasilkan 13 triliun dolar AS dalam aktivitas ekonomi global baru.

Namun, memanfaatkan potensi betapa bernilainya sebuah data bukanlah hal yang sederhana. Data hanya berharga ketika diubah menjadi wawasan, aplikasi, dan layanan--sebuah proses yang secara tradisional hanya terdapat di dalam perusahaan.

Dalam ekonomi berbasis data, proses ini menjadi semakin saling berhubungan, berdasarkan penggunaan teknologi canggih untuk mengakses dan memproses data berkualitas tinggi yang sering berada di lebih dari satu organisasi atau negara.

Ketika bisnis semakin mendigitalkan proses mereka, pengumpulan, pemrosesan, dan penyimpanan data akan menjadi hal biasa. Namun, tidak semua perusahaan memiliki kemampuan untuk memproses dan mengelola data, terutama ketika pertukaran data sudah lintas batas.

Untuk ASEAN, memaksimalkan nilai data juga berarti memastikan bahwa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mampu membangun kemampuan data mereka, karena mereka menyumbang 95 persen–99 persen dari semua perusahaan bisnis dan berkontribusi atas lebih dari separuh dari total tenaga kerja di semua negara ASEAN.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa meskipun 75 persen UMKM di ASEAN telah melihat peluang untuk memanfaatkan booming ekonomi digital, hanya 16 persen yang menggunakan teknologi digital secara maksimal.

Selanjutnya, menjaga data dan memfasilitasi alirannya menjadi komponen penting dari ekonomi berbasis data. Hal ini tetap menjadi tantangan utama di ASEAN karena rezim peraturan yang berbeda tentang perlindungan data pribadi dan praktik berbagi data lintas batas. Fragmentasi yang berkembang ini sering melemahkan perkembangan ekonomi berbasis data ASEAN.

Mengingat tantangan-tantangan ini, pendekatan terpadu terhadap tata kelola data digital menjadi penting dengan penekanan dan pengakuan yang lebih besar terhadap saling ketergantungan di antara negara-negara ASEAN dalam ekonomi berbasis data.

Inilah mengapa ASEAN DMF dan MCC, yang dikembangkan oleh ASEAN Working Group on Digital Data Governance, menjadi penting. DMF ASEAN membantu bisnis, khususnya UKM, untuk menerapkan struktur tata kelola untuk mengelola data di bawah pengawasan mereka.

Selain itu, penerapan MCC juga akan membantu perusahaan memasukkan syarat dan ketentuan ke dalam kontrak bisnis mereka untuk mentransfer data pribadi lintas batas secara sah.

Inisiatif-inisiatif ini berfungsi sebagai landasan untuk mendorong pertumbuhan digital kawasan berikutnya dan merupakan fondasi DEFA ASEAN yang akan datang.

Mereka menyediakan mekanisme yang lebih kuat untuk aliran data bebas lintas batas dan memastikan perlindungan data pribadi yang lebih besar yang, pada gilirannya, memfasilitasi ekosistem yang kondusif bagi bisnis untuk mengembangkan produk dan layanan baru dari inovasi berbasis data.

Ke depan, untuk meraih peluang dari ekonomi berbasis data, ASEAN perlu terus bekerja membangun kemampuan organisasi dan tenaga terampil, memanfaatkan kekuatan teknologi baru, dan menyelaraskan peraturan untuk mengembangkan kerangka hukum bersama di seluruh kawasan.

Hal ini akan mencakup peningkatan adopsi DMF dan MCC untuk memastikan bahwa kawasan itu memperdalam integrasi ekonomi digital lintas batasnya. Dengan pendekatan terpadu untuk membuka peluang data, ASEAN dapat memperkuat kerja samanya untuk berkembang bersama di era digital, menempatkannya pada posisi yang baik untuk bekerja dengan mitra-mitra dialognya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Satvinder Singh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Satvinder Singh.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

SS
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini