Pernah Mewabah di Indonesia, Bahaya Tomcat Ternyata Tidak Seperti yang Dibayangkan

Pernah Mewabah di Indonesia, Bahaya Tomcat Ternyata Tidak Seperti yang Dibayangkan
info gambar utama

Masih ingat dengan wabah tomcat yang terjadi di Indonesia yang terjadi di kisaran tahun 2012 dan mencuri perhatian? Saat itu, kehadiran jenis serangga kecil ini berhasil membuat heboh masyarakat karena menyerbu kawasan pemukiman di beberapa daerah Jawa Timur.

Salah dua wilayah yang kala itu diketahui mendapat serangan tomcat adalah Surabaya dan Situbondo. Tapi, mengapa keberadaan tomcat begitu menghebohkan pada masanya?

Sedikit membahas detail mengenai tomcat, sebenarnya hewan satu ini memiliki banyak nama julukan di sejumlah wilayah berbeda. Mulai dari semut semai, semut kayap, atau kumbang rove. Meski sebenarnya, nama ilmiah dari hewan ini sendiri adalah Paederus littoralis.

Tomcat selama ini banyak diwaspadai karena apabila terkena racunnya secara langsung, akan memberikan efek samping yang cukup menyakitkan bagi kulit yaitu berupa gatal-gatal yang didahului dengan rasa panas. Jika tidak ditindak secara tepat, kondisinya bisa menjadi lebih buruk dan menyebabkan iritasi, bintik-bintik berair, serta menimbulkan bekas hitam pada kulit.

Serangga Tonggeret dan Nyanyian Orkestrasi Penanda Peralihan Musim

Menyiksa namun tidak mematikan

Luka akibat racun tomcat | Devrn/Flickr via Klikdokter
info gambar

Menurut beberapa orang yang pernah terkena racun tomcat, disebutkan jika rasa panas yang dirasa pada kulit menyerupai rasa terbakar dan melepuh. Jika digaruk atau disentuh tanpa hati-hati, efek tersebut akan meluas ke area permukaan kulit lainnya.

Tidak terlalu bahayanya dampak yang ditimbulkan dari racun tomcat juga dipertegas oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dijelaskan jika racun tomcat memang membuat korban menderita, namun tidak sampai mematikan karena tidak seganas racun ular kobra. Terlebih, dosis racun yang dikeluarkan dari serangga bertubuh kecil tersebut terbilang kecil.

"Racun tomcat tidak lebih berbahaya dibanding racun ular kobra, karena racun dalam tomcat hanya bersifat lokal, bukan seperti racun kobra yang menyebabkan kerusakan syaraf," ujar perwakilan pihak LIPI, Hari Sutrisno.

Lebih detail, dijelaskan jika racun tersebut hanya akan keluar saat tubuhnya tergencet, semisal saat menempel di kulit dan secara spontan ditepuk. Racun tomcat sendiri disebut dengan nama paederin, dan kandungan itu lah yang menyebabkan kulit mengalami luka dan memunculkan rasa terbakar.

Potret Kumbang Tanduk, Ikon Museum Serangga

Mengapa tomcat menyerbu pemukiman manusia?

Tomcat | Christian HUGUES/flickr
info gambar

Masih menurut sumber yang sama, dijelaskan jika salah satu alasan kuat mengapa tomcat bisa melakukan invasi ke kawasan pemukiman adalah karena selama ini tomcat diketahui berhabitat di sawah. Namun, sawah-sawah tersebut sebagian dibangun menjadi kawasan pemukiman.

Saat sisa lahan sawah yang berada di dekatnya sampai di musim panen, hal tersebut membuat bahan makanan untuk tomcat tersedia cukup banyak sehingga populasi serangga kecil tersebut ikut meningkat.

Apalagi dibangunnya pemukiman juga bisa mengurangi populasi pemangsa alamiah tomcat seperti kodok dan kadal, sehingga rantai makanan terputus dan semakin meningkatkan populasi tomcat.

Mengenai sampainya kawanan tomcat ke wilayah pemukiman, hal tersebut diyakini karena mereka tertarik dengan cahaya lampu. LIPI mengungkap jika tomcat tertarik mendekati lampu berbahan merkuri seperti lampu neon.

Jumlah tomcat yang menyebar juga diyakini dapat disebabkan oleh faktor perubahan iklim dan lingkungan yang disertai angin kencang, sehingga memengaruhi persebarannya.

Di samping itu, ada fakta menarik dari keberadaan tomcat, yaitu mengenai perannya sebagai predator dalam menjaga sawah dari serangan hama wereng batang coklat dan hama lainnya. Karena hal tersebut, sebenarnya selama ini tomcat sudah lama menjadi sahabat petani.

Light Trap Insect, Solusi Pengendali Hama Selain Pestisida

Tindakan tepat bila terkena racun tomcat

Tidak menimbulkan kematian namun di saat bersamaan juga memberikan efek yang cukup menyiksa, karena itu tindakan yang tepat apabila terkena racun tomcat harus dipahami dengan baik. Apalagi karena tomcat sendiri masih terus ada hingga saat ini di beberapa wilayah terutama yang dekat dengan area persawahan.

Jika terkena gigitan serangga tomcat, usahakan jangan digaruk karena dapat membuat racunnya menyebar di permukaan kulit. Hal pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci titik gigitan dengan sabun, lalu berikan salep gatal untuk kulit yang disarankan oleh dokter.

Apabila memang ditindak secara tepat, dipastikan jika luka dari bekas gigitan tomcat umumnya akan membaik dalam kurun waktu minimal 10 hari atau paling lama tiga minggu.

Dinomyrmex gigas, Semut Jumbo Penghuni Hutan Jawa, Sumatra, dan Kalimantan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini