Saat Ekonomi China Melambat, Vietnam Justru Tumbuh Paling Kuat. Mengapa?

Saat Ekonomi China Melambat, Vietnam Justru Tumbuh Paling Kuat. Mengapa?
info gambar utama

Vietnam diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia tahun ini, di tengah penurunan regional yang sebagian besar disebabkan oleh perlambatan ekonomi China yang tajam.

Dalam laporan prospek ekonomi untuk Asia Timur dan Pasifik yang dirilis baru-baru ini, Bank Dunia memperkirakan kawasan ini akan tumbuh sebesar 3,2 persen pada 2022, turun dari 7,2 persen pada 2021, sebelum meningkat menjadi 4,6 persen pada 2023.

Tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan untuk tahun ini menandai penurunan yang signifikan sebesar 5 persen yang diperkirakan Bank Dunia untuk tahun ini dalam laporan pandangan terakhirnya pada bulan April 2022 lalu.

Sebagian besar dari ini disebabkan oleh perlambatan ekonomi di China, yang sebelumnya memimpin pemulihan kawasan Asia Pasifik pasca pandemi COVID-19, sebelum akhirnya negara tersebut menganut kebijakan ketat "nol COVID" yang kemudian memperlambat ekonominya. Dalam pandangannya, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi China akan tumbuh sebesar 2,8 persen tahun ini dan 4,5 persen pada 2023, sebuah “perlambatan tajam” dari 8,1 persen yang tercatat pada tahun 2021. Padahal April 2022 lalu, Bank Dunia memperkirakan China akan tumbuh sebesar 5 persen pada tahun 2022.

Ketika China tidak dihitung, sebenarnya perkiraan pertumbuhan untuk Asia Timur dan Pasifik meningkat menjadi 5,3 persen, naik dari 4,8 persen dalam prediksi April 2022 lalu, atau lebih dari dua kali lipat dari tingkat pertumbuhan kawasan sebesar 2,6 persen tahun 2021. Ini adalah sebuah tanda bahwa meski pandemi COVID-19 belum sepenuhnya berakhir, dampak negatif ekonominya sebagian besar telah diperbaiki.

Salah satu cerita terbesar adalah munculnya Vietnam sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia . Mengingat kombinasi tindakan pencegahan COVID-19 yang relatif efektif, keuntungan demografis, dan posisi istimewa dalam struktur ekonomi regional dan global, Bank Dunia memperkirakan bahwa ekonomi Vietnam akan tumbuh sebesar 7,2 persen pada tahun 2022, naik dari proyeksinya sebesar 5,3 persen pada proyeksi di April lalu. Negara tersebut juga diproyeksikan akan tumbuh 6,7 persen lebih lanjut pada tahun 2023. Dari negara-negara Asia Tenggara, hanya Filipina (6,5 persen), Malaysia (6,4 persen), dan Indonesia (5,1 persen) yang diperkirakan akan melebihi 5 persen tahun ini.

Proyeksi pertumbuhan 2022, dibandingkan 2019 (sebelum pandemi)
info gambar

Bank Dunia menaikkan perkiraan ekonominya untuk Malaysia dari 5,5 menjadi 6,4 persen, dan membuat revisi kenaikan serupa untuk Filipina (5,7 menjadi 6,5 persen), Thailand (2,9 menjadi 3,1 persen), dan Kamboja (4,5 hingga 4,8 persen).

Dalam siaran pers yang dikeluarkan sebelum laporan lengkap, Bank Dunia menempatkan pertumbuhan yang relatif kuat ini ke dalam tiga faktor: pemulihan konsumsi swasta pada paruh pertama tahun 2022, diakibatkan karena adanya pelonggaran pembatasan terkait COVID 19; permintaan global yang berkelanjutan untuk ekspor barang-barang manufaktur dan komoditas dari Asia Timur dan Pasifik; dan pengetatan terbatas dari kebijakan fiskal dan moneter.

Tetapi Bank Dunia juga mencatat sejumlah hambatan yang dihadapi kawasan, yang akan memicu perlambatan ekonomi karena meningkatnya inflasi dan perang yang sedang berlangsung di Ukraina. “Perlambatan ekonomi global mulai mengurangi permintaan ekspor komoditas dan barang-barang manufaktur di kawasan itu,” kata laporan itu.

Ia juga mencatat dampak inflasi, dan kenaikan suku bunga yang diprakarsai oleh bank sentral di negara-negara maju khususnya Federal Reserve AS. Kebijakan moneter yang diperketat ini pada gilirannya menyebabkan arus keluar modal dan depresiasi mata uang di beberapa negara Asia Timur dan Pasifik. Perkembangan ini telah meningkatkan beban pembayaran utang dan ruang fiskal yang menyusut, merugikan negara-negara yang memasuki pandemi dengan beban utang yang tinggi.

Contoh terkait hal ini adalah Laos, yang saat ini berada di tengah-tengah krisis utang yang serius setelah bertahun-tahun meminjam dari China, dan melihat proyeksi pertumbuhannya untuk tahun 2022 dipangkas dari 3,8 persen menjadi 2,5 persen.

Selain Laos, Myanmar yang sedang dilanda konflik, juga akan menghadapi perlambatan, yang diproyeksikan Bank Dunia "hanya" akan tumbuh 3 persen pada 2022, naik dari 1 persen yang diperkirakan pada April 2022 lalu.

Sumber:

https://thediplomat.com/2022/09/vietnam-becomes-asias-economic-leader-as-chinas-growth-decelerates/

https://www.worldbank.org/en/publication/east-asia-and-pacific-economic-update#1

https://openknowledge.worldbank.org/bitstream/handle/10986/38053/FullReport.pdf#page=29

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini