5 Komunitas Film di Indonesia: Menonton, Berdiskusi, dan Berkarya

5 Komunitas Film di Indonesia: Menonton, Berdiskusi, dan Berkarya
info gambar utama

Euforia komunitas film di Indonesia semakin terasa dewasa ini. Berbagai komunitas film dengan beragam latar belakang dan tujuan tersebar di banyak daerah. Selain menonton dan berdiskusi perihal film, beberapa di antara komunitas tersebut bahkan juga mewadahi anggotanya untuk berkarya.

Melansir perfilman.perpusnas.go.id, kehadiran komunitas film di Indonesia saat ini dapat dikategorikan sebagai gelombang yang ketiga. Hal tersebut karena geliat komunitas film di tanah air sudah muncul sejak berpuluh tahun yang lalu. Adapun gelombang pertama berlangsung pada tahun 1930–1960-an, gelombang kedua pada tahun 1970–1990-an, dan gelombang ketiga dimulai menjelang tahun 2000-an. 

Uniknya, pada gelombang yang ketiga ini, semakin beragam komunitas film yang muncul. Itu dapat dilihat dari bertemunya gerakan masyarakat film (film society) dan gerakan film independen (independent film).

Baca Juga: Komunitas Orang Indonesia di Luar Negeri, Berkoneksi Sambil Menjaga Silaturahmi

Meskipun komunitas film di dalam negeri mayoritasnya berdomisili di pulau Jawa, masih ada berbagai komunitas yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia. GoodMates, berikut daftarnya.

1. Komunitas Tunanetra Cinta Film Indonesia (KTCFI)

Sesuai namanya, Komunitas Tunanetra Cinta Film Indonesia (KTCFI) merupakan komunitas yang membantu tunanetra untuk menikmati film. Komunitas ini digagas oleh pegiat film Indonesia dari Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI). KTCFI kerap mengadakan acara menonton “sinema berbisik” bersama tunanetra dan pembisik atau pendeskripsi suara.

Melalui kegiatan itu, tunanetra bisa memahami film tersebut secara keseluruhan melalui imajinasinya, tidak hanya melalui dialog film. Adapun film yang biasanya diputar ialah film Indonesia yang memiliki gambaran adegan per adegan dengan jelas. Selain kegiatan menonton bersama, komunitas ini juga aktif menyuarakan pendapat anggotanya terkait film yang telah ditonton. 

2. Komunitas Film Kupang

Komunitas Film Kupang berlokasi di Kec. Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tidak hanya menonton dan berdiskusi soal film, komunitas film yang didirikan sejak tahun 2013 ini juga mewadahi anggotanya untuk memproduksi karya sinema. Komunitas Film Kupang mewadahi pecinta film dan orang-orang yang tertarik memahami dunia perfilman lebih jauh. 

Dalam komunitas ini, anggotanya diajak berdiskusi seputar film dan diajarkan bagaimana memproduksi sebuah film. Selain itu, komunitas ini juga aktif melibatkan masyarakat untuk menikmati film bersama. Sejauh ini, Komunitas Film Kupang sudah memproduksi beberapa judul film pendek, seperti film fiksi pendek Siko yang menceritakankehidupan sebuah keluarga pasca referendum 1999 di Timor Leste.

Baca Juga: Tingkatkan Kemampuan Literasi bersama Komunitas Peduli Literasi di Indonesia

3. Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI)

Aktif dalam kegiatan produksi film dokumenter, menjadikan Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) sebagai salah satu komunitas yang eksis dari sekian banyak komunitas film dokumenter di Indonesia. Komunitas ini telah berdiri sejak 22 Maret 2001. KoPI diinisiasi oleh pendirinya yang rata-rata merupakan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Gelanggang Seni Sastra Teater Film (GSSTF) Universitas Padjadjaran.

KoPi mengangkat jargon “Film Dokumenter untuk Perubahan Sosial”. Selaras dengan jargonnya itu, komunitas ini menitikberatkan perhatian pada isu-isu sosial, politik, budaya, dan hak asasi manusia dalam setiap karya film dokumenter mereka. Dalam tahun pertama berdirinya, KoPI berhasil memproduksi karya film dokumenter berjudul Buruh Anak Cibaduyut yang berkisah tentang buruh anak di daerah industri Cibaduyut, Bandung.

4. Komunitas Film Pendek Jakarta (KFPJ)

Sejak tahun 2015, Komunitas Film Pendek Jakarta (KFPJ) telah menjadi rumah bagi warga Jakarta yang menggemari film pendek. Kegiatan dalam komunitas film ini pun cukup lengkap, mulai dari menonton, berdiskusi, hingga memproduksi film. Kary film yang sudah diproduksi oleh KFPJ kini dapat ditonton melalui saluran YouTube “Film Pendek Jakarta”.

KFPJ memiliki anggota dari berbagai latar belakang, mulai dari pemula hingga orang yang sudah berpengalaman dalam dunia perfilman. Melalui divisi-divisi yang ada, KFPJ mewadahi anggotanya untuk mengembangkan diri dalam ranah industri film. Sebab itu, antaranggota komunitas tidak hanya saling menambah pemahaman soal film pendek, tetapi juga menambah relasi sesama penggiat sinema.

5. Layar Taman

Beralih ke pulau Sumatra, ada komunitas Layar Taman yang berlokasi di Talang Semut, Kota Palembang, Sumatra Selatan. Layar Taman merupakan komunitas mewadahi pengembangan kemampuan dan keahlian pembuat film (filmmaker) sejak tahun 2014 lalu. Layar Taman menaungi orang-orang dari latar belakang, tidak harus memiliki dasar ilmu perfilman untuk menjadi anggota komunitas ini.

Meskipun berlokasi di Palembang, anggota komunitas Layar Taman juga ada yang berasal dari luar Sumatra Selatan. Hal tersebut karena Layar Taman ingin memperluas jangkauan komunitasnya. Setiap bulannya, Layar Taman rutin mengadakan acara eksibisi dan edukasi film yang membahas satu judul film, baik film nasional maupun film lokal. 

Baca Juga: Menilik Geliat Feminisme Lewat 3 Komunitas Feminis di Indonesia

Komunitas film bisa dijadikan sebagai tempat belajar bagi GoodMates yang gemar menonton film dan tertarik dengan industri perfilman. Dengan bergabung ke dalam komunitas tersebut, GoodMates bisa menggali ilmu dan mendapat koneksi baru sesama pencinta film.

Referensi: perfilman.perpusnas.go.id | Tempo.co | filmmaker.id [1], [2] | Kumparan.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini