Pentingnya Menghindari Self Sabotage untuk Pengembangan Diri

Pentingnya Menghindari Self Sabotage untuk Pengembangan Diri
info gambar utama

Pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang menghalangi setiap kali ingin beranjak ke level hidup yang lebih tinggi? Siapa sangka, ternyata “sesuatu” tersebut bisa jadi berasal dari dalam dirimu. Hal ini dikenal dengan istilah self sabotage atau menyabotase diri sendiri.

Self sabotage bagaikan kungkungan yang menjebak seseorang dalam hidupnya. Berlarut-larut dengan self sabotage tidaklah baik karena bisa merugikan diri. Lebih parah, self sabotage membuat kehidupan sosial seseorang terganggu, seperti terganggunya performa pendidikan, kerja, dan hubungan asmara.

Oleh karena dampak negatifnya yang cukup signifikan, ahli psikologi di berbagai belahan dunia gencar mengampanyekan terkait hal ini. Agar tidak terjebak self sabotage, berikut ulasan yang perlu diperhatikan.

Hal yang Harus Dilakukan Pemimpin Saat Terkena Imposter Syndrome

Mengenal Definisi Self Sabotage

Self sabotage merupakan perilaku atau pola pemikiran yang menghambat seseorang untuk mencapai tujuannya. Shirani Pathak, psikolog berlisensi dari California mengatakan, self sabotage seringkali tidak disadari. Seseorang mungkin saja tidak menyadari bahwa ia sedang menyabotase dirinya dan ini bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan sengaja.

“Sabotase diri bukanlah sabotase sama sekali. Ini sebenarnya adalah mekanisme perlindungan yang diciptakan oleh jiwa Anda untuk membuat Anda tetap aman dari bahaya atau potensi bahaya. Apa yang akrab bagi kita adalah apa yang dianggap aman oleh jiwa kita,” ujarnya dikutip dari Psychcentral.

Dari penjelasan Shirani, self sabotage terjadi secara alamiah. Ketika kita mengalami sesuatu yang mengancam atau sedang berada di kondisi yang asing, itu memicu sistem internal tubuh mengirimkan sinyal bahaya. Dari sana, otak memberi perintah untuk melakukan tindakan atau perilaku yang bisa membuat diri merasa aman.

Sayangnya, hal yang terjadi secara alamiah tersebut bisa menyabotase diri apabila tidak dikontrol dengan baik. Sebuah tindakan atau perilaku dikatakan menyabotase ketika itu menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan mengganggu tujuan jangka panjang. Untuk berjaga-jaga, perhatikan beberapa contoh self sabotage yang dinukil dari Healthline di bawah ini.

Lakukan Hal Ini untuk Atasi Burnout Syndrome

Contoh Self Sabotage

Menunda-nunda Sesuatu

Ketika ingin melakukan sesuatu, kamu tiba-tiba merasa kehilangan motivasi. Sejurus kemudian, kamu memutuskan untuk menunda melakukan hal yang seharusnya kamu segerakan. Kegiatan menunda-nunda ini disebut sebagai procrastination.

Penundaan bisa terjadi tanpa alasan yang jelas, tetapi biasanya ada penyebab yang mendasarinya, seperti merasa kewalahan dengan apa yang perlu dilakukan; kesulitan mengatur waktu; dan merasa tidak mampu untuk melakukan sesuatu tersebut.

Kabur dari Masalah

Keluar dari hal yang membuat diri merasa berat terkadang bisa menjadi solusi. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa keputusan untuk mundur tersebut harusnya dipilih setelah kamu telah benar-benar berjuang.

Sayangnya, seseorang seringkali kabur dari masalahnya secara tidak bertanggung jawab. Kebiasaan kabur dari masalah ini cenderung tidak baik karena berhubungan dengan proyeksi diri yang salah, seperti takut akan konflik dan antikritik.

Menyalahkan Orang Lain

Pada kondisi tertentu, menyalahkan orang lain terasa mudah dilakukan. Padahal, tidak semua masalah semata-mata berasal dari kesalahan orang lain. Karenanya, kebiasaan menyalahkan orang lain ini tidak dikategorikan sebagai perilaku baik.

Jika kamu cenderung menyalahkan orang lain setiap kali menghadapi kesulitan, ada baiknya kamu introspeksi diri terlebih dahulu. Eksplorasi dirimu karena mungkin saja kamu juga berkontribusi atas kesulitan yang terjadi. Dengan begitu, kamu bisa belajar dan tumbuh dari pengalaman tersebut.

Berkencan dengan Orang yang Tidak Tepat

Berkencan dengan orang yang tidak tepat ternyata juga bisa menunjukkan kamu sedang menyabotase diri sendiri. Hal itu ditandai ketika seseorang tetap bertahan dalam hubungan meskipun ia tahu hubungan tersebut tidak baik dan tidak berkembang.

Dengan tetap bertahan dalam hubungan tersebut, kamu berharap pasanganmu bisa berubah suatu saat nanti. Nyatanya, perilaku ini ternyata hanya akan mencegahmu bertemu dengan orang yang lebih cocok. Dalam kata lain, kamu sedang menyabotase diri.

Merendahkan Diri

Ketika gagal dalam suatu hal, kamu mungkin akan mengatakan "Aku enggak bisa melakukan apa pun dengan benar" atau "Aku pasti enggak akan berhasil, jadi ngapain harus repot-repot?".

Dua kalimat di atas merupakan contoh dari perilaku merendahkan diri. Mengkritik diri dengan cara negatif bisa membahayakan diri. Kamu bisa saja mempercayai kata-kata negatif yang kamu ucapkan, sehingga kamu tidak berkembang dan mudah menyerah bahkan sebelum mencobanya.

Menulis sebagai Terapi Jiwa dan Penyembuh Diri

Menghindari Self Sabotage

Contoh-contoh self sabotage di atas cenderung terjadi begitu saja tanpa disengaja dan tidak disadari. Meskipun begitu, bukan berarti perilaku ini tidak bisa diatasi. Lantas, bagaimana cara menghindari self sabotage tersebut?

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengenali ciri-ciri self sabotage. Misalnya dengan memperhatikan kebiasaan diri ketika sesuatu hal yang memberatkan terjadi. Perhatikan bagaimana dirimu merespon kondisi tersebut.

Apabila kamu meresponnya dengan beberapa contoh yang dijelaskan sebelumnya, kemungkinan besar kamu benar-benar sedang terjebak dalam self sabotage. Kemudian, tanyakan kepada dirimu mengapa kamu melakukan hal tersebut.

Pada akhirnya, menghindari self sabotage berawal dari kesadaran diri sendiri. Setelah menyadari bahwa ada yang salah, jadikan hal tersebut sebagai pembelajaran. Kemudian, jika suatu saat kamu merasa seperti akan melakukan hal-hal yang berujung self sabotage, coba cari aksi alternatif.

Beberapa aksi alternatif yang dapat dilakukan, antara lain, membicarakan kondisi beratmu kepada orang lain, meminta saran atau pertolongan, atau berdiskusi dengan orang yang kamu percayai.

Apabila kamu masih merasa kewalahan bahkan setelah mengetahui cara menghindari self sabotage di atas, ada baiknya kamu berkonsultasi dengan psikolog. Bagaimanapun, self sabotage memang sulit untuk diidentifikasi dan terapi mungkin bisa menjadi solusi yang tepat.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini