Gule Gending, Rambut Nenek ala Lombok

Gule Gending, Rambut Nenek ala Lombok
info gambar utama

Berbicara mengenai Nusa Tenggara Barat, terutama Pulau Lombok tentu tak lepas dari pesona alam yang luar biasa. Namun, di samping itu makanan yang tak akan Kawan temukan selain disini tentu jangan sampai terlewatkan.

Mendengar jajanan manis, rambut nenek, pasti tak asing, bukan? Bagaimana kalau gule gending? Gule berasal dari kata gula, sedangkan gending artinya menabuh. Sama layaknya rambut nenek, gule gending merupakan jajan manis berupa serabut atau rambut yang berwarna.

Perbedaan mencolok antara keduanya terletak pada kata gending. Gending berasal dari bahasa Sasak. Penjual gule gending akan memainkan lima bidang kotak tanpa penutup yang menghasilkan bunyi, sedangkan satu kotak lainnya berfungsi untuk menyimpan uang.

Ketika Kawan membeli gule gending, penjual akan menabuh kotak tersebut yang biasanya dimainkan lagu Semarang, Bua Oda, Tempong Gunung, Bao Daya, dan masih banyak lagi. Dimainkannya lagu ini turut jadi sarana promosi karena memikat masyarakat untuk menghampiri penjual dan membeli gule gending.

Lagu-lagu tersebut berupa lagu bebas yang diciptakan sendiri oleh penjual atau dengan kata lain improvisasi masing-masing. Penjual gule gending akan menabuh kotak-kotak yang dibawa untung memanggil pembeli. Konsep yang begitu menarik, bukan?

Penjual Gule Gending | Foto: kaekaha
info gambar

Menilik sekilah pada sejarahnya, gule gending pernah dijadikan sarana untuk memeriahkan acara pernikahan pada saat arak-arakan pengantin laki-laki yang menuju rumah pengantin perempuan. Namun, saat ini sudah tidak ditemukan lagi.

Mata pencahariaan masyarakat Lombok mulanya di dominasi sektor pertanian meningat banyaknya budaya agraris, sedangkan yang tak tertarik atau memiliki lahan sawah akan beralih pada profesi penjual gule gending.

Dengan menggendong tangka’ (tempat untuk menjual gule gending yang berbentuk setengah lingkaran dengan enam kotak yang akan menghasilkan bunyi) berkeliling ke tempat ramai dengan membunyikannya, penjual gule gending saat ini cenderung jarang ditemukan.

Tak hanya gule gending saja, eksistensi makanan tradisional lainnya sudah tergeserkan oleh makanan kekinian yang meskipun belum seutuhnya makanan tradisional menghilang. Namun, Kawan yang berada di Lombok utamanya harus terus ikut melestarikan makanan tradisional disana.

Ketika pada bidang pariwisata Lombok kembali digencarkan, gule gending jadi salah satu makanan yang kembali diungkapkan. Sebab tak hanya sekadar makanan, tetapi adanya tabuhan musik turut jadi budaya yang menghibur dan ikut diperkenalkan pada khalayak luas.

Meskipun beredar stereotip yang meluas akan kebersihan dari jajanannya, hal ini kembali lagi pada tradisi tradisional terhadap pembuatannya. Memang lama kelamaan gule gending akan tersingkirkan, tetapi ini merupakan warisan budaya tak benda yang menarik.

Masyarakat Pulau Lombok tak akan tega menghilangkannya, mengingat penjual gule gending jadi penjual jajanan dahulu yang begitu digemari anak-anak dan gule gending sebagai suatu pertunjukan musik guna mempromosikan dagangannya yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

Referensi: Journal of Urban Society’s Arts

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini