Sudah Tahu? Sutradara Remake Film “Train to Busan” Ternyata Orang Indonesia

Sudah Tahu? Sutradara Remake Film “Train to Busan” Ternyata Orang Indonesia
info gambar utama

Siapa yang suka film Train to Busan? Suka juga dengan Rumah Dara? Bagi pecinta film horor ataupun thriller, kedua film ini punya kesan tersendiri. Tapi tahukah Kawan GNFI kalau dua film favorit ini punya “hubungan”?

Sutradara Rumah Dara, Timo Tjahjanto resmi didapuk untuk jadi sutradara pembuatan ulang Train to Busan versi Hollywood. Kabarnya, film zombie asal Korea itu akan diproduksi New Line Cinema dengan judul Last Train to New York untuk versi Amerika.

Mengutip Deadline, Timo Tjahjanto akan berkolaborasi dengan sutradara James Wan (penggarap The Conjuring dan Saw) dan Michael Clear dari Atomic Monster, serta Nicolas Atlan dan Terry Kalagian dari Gaumont yang akan menjadi produser.

Timo Tjahjanto didapuk jadi sutradara remake film Train to Busan. Sumber Gambar: Instagram Timo Tjahjanto @timobros
info gambar

Gary Dauberman dari Coin Operated juga termasuk dalam tim penggarapan yang berfokus pada adaptasi skenario. Gary terkenal berhasil menggarap It, The Nun, dan trilogi Annabelle.

Nama tersohor lainnya seperti Judson Scott, Sidonie Dumas, Christophe Riandee, dan Johanna Byer juga didapuk sebagai produser eksekutif nantinya.

Untuk mengenang kesohoran Train to Busan, film thriller kiamat zombie yang disutradarai oleh Sang-Ho Yeon ini ditayangkan perdana di Festival Film Cannes pada tahun 2016. Sejak saat itu, dengan cepat Gong Yoo cs menjadi hit box office internasional. Animo masyarakat pun terus berlanjut setelah film ini merilis sekuelnya dengan judul Train to Busan: Peninsula pada tahun 2020.

Nampaknya dengan ditunjuknya Timo sebagai sutradara, pecinta film gore berekspektasi akan penantian buah tangan sang sutradara yang terkenal berhasil melahirkan karya yang meliput kekerasan ekstrim serta rangkaian aksinya yang menghibur. Sebut saja Headshoot dan Macabre, judul bahasa Inggris untuk Rumah Dara, lalu ada Sebelum Iblis Menjemput, serta film thriller Netflix berjudul The Night Comes for Us.

Timo Menjawab Kritik dan Komentar Netizen Soal Remake Train to Busan

Sejak ramainya pengumuman Timo Tjahjanto yang akan menggarap film asal Korea ini, Timo dibanjiri mention di Twitter. Pecinta film thriller Indonesia tentu saja mengungkapkan rasa bangganya, tapi tak sedikit yang mempertanyakan visinya dalam pembuatan ulang film tersebut.

Melansir Collider, dari tweet yang ia terima, ia membagikan bagaimana produser James Wan menghubungi Timo dan menyampaikan hal tegas.

“Timo, kita harus melampaui ekspektasi semua orang, sama seperti remake hebat lainnya yang telah dilakukan, The Ring atau Dawn of the Dead.”

Tangan dingin Timo Tjahjanto dalam remake film Train to Busan. Sumber Gambar: Instagram Timo Tjahjanto @timobros
info gambar

Masih melansir Cillider, soal remake film Timo sadar kalau pembuatan ulang film internasional berbahasa Inggris mulai jadi lebih kontroversial karena industri film menjadi lebih mengglobal. Padahal sudah ada penggunaan subtitle adalah hal biasa di setiap bagian dunia selain negara-negara berbahasa Inggris.

Terlebih pembuatan ulang film ini sering terjadi ketika film tersebut sukses di layanan streaming sehingga mendorong para pegiat untuk segera membuat ulang dengan versi yang lebih mengglobal atau lebih sering dibilang sebagai versi Hollywood-nya.

Meski begitu Timo mengaku tak mau mengecewakan James Wan nyang disebutkan sebagai pahlawan bagi pegiat film dari Asia Tenggara. Timo ingin menangkap spirit tersebut, melihat beberapa remake film Asia sebelumnya yang terbukti tetap memiliki tempat di hati para pecinta film.

Pembuatan ulang Train to Busan tergolong cepat. Hanya berjarak delapan tahun. Sebelumnya juga pernah terjadi pada film horor Jepang berjudul Ringu yang keluar pada tahun 1998. Remake film berbahasa Inggrisnya keluar empat tahun kemudian pada 2002. Kedua versi tersebut sukses dengan tetap memberikan sisi menghibur untuk penonton.

Pembuatan Film Ditunda Warner Bros

Melansir CNN Indonesia pada Juli 2022 lalu, dikabarkan kalau film remake Train to Busan berjudul Last Train to New York ini akan ditunda penggarapannya. Timo buka suara kalau keputusan ini murni dari pihak Warner Bros selaku studio.

“Saya sebenarnya lebih menyerahkan kepada mereka karena mereka yang tahu ingin rilisnya apa dan segala macam. Dan kali ini kayaknya mereka sudah siap untuk rilis film SWAT, saya sih cuma menunggu calling-an doang sih,” ungkap Timo kepada CNN Indonesia (13/07).

Tadinya, Timo mengungkap, perilisan Last Train to New York dijadwalkan April 2023. Namun kala itu studio merasa bahwa situasi belum stabil akibat pandemi. Sehingga jadwal pun masih bisa berubah.

Timo Tjahjanto salah satu sutradara film thriller Netflix berjudul The Night Comes for Us. Sumber Gambar: Instagram Timo Tjahjanto @timobros
info gambar

Selain remake film Gong Yoo cs itu, ternyata Warner Bros juga memandatkan Timo untuk memegang garapan ulang film Under Siege. Tidak seperti Last Train to New York, film ini sudah masuk fase pengembangan naskah.

“Sebenarnya belum tahu juga mana yang lebih didahulukan sih antara dua itu (Last Train to New York dan Under Siege). Saya cuma nurut aja. Cuman intinya dalam Under Siege, saya lebih terlibat dalam penulisannya bersama teman saya juga,” ujar Timo.

Kalau untuk Last Train to Newyork, Timo mengungkap dirinya hanya jadi “sutradara tok”, yang tinggal menunggu jadwa syuting. Timo membocorkan kalau skripnya sudah ada, tinggal menunggu panggilan untuk jadwal dari Warner Bros.

Siapa yang sudah tak sabar melihat hasil tangan dingin Timo?

Jangankan Kawan GNFI saja yang tak sabar, salah satu aktor utama Train to Busan, Ma Dong-seok atau Don Lee juga mengaku tak sabar juga loh. Ia menilai versi kedua sineas ini akan menyenangkan.

“Saya sangat menantikan pembuatan ulang itu. Mereka (Timo Tjahjanto dan James Wan) merupakan produsen besar. Saya rasa mereka akan membuatnya lebih menyenangkan daripada yang orisinal,” katanya.

Sumber: Collider.com, Deadline.com, CNNIndonesia.com, Detik.com, Kompas.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

DY
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini