Bekas Pabrik Gula Era Kolonial Beroperasi Sesaat di Desa Ini, Di Manakah?

Bekas Pabrik Gula Era Kolonial Beroperasi Sesaat di Desa Ini, Di Manakah?
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Gula merupakan salah satu bahan pokok dalam minuman maupun masakan sebagai pemanis alami. Bahan baku pembuatan gula berasal dari tebu yang dipotong dan digiling oleh mesin, lalu diendapkan untuk diambil nira tebu yang selanjutnya memasuki proses kristalisasi. Produksi gula di Indonesia tidak terlepas dari masa kolonial Belanda yang pernah menjajah Nusantara selama 3,5 abad. Dilansir dari Databoks, Jawa Timur berada pada peringkat satu sebagai provinsi yang menghasilkan tebu paling banyak. Lebih spesifik lagi, salah satu desa di Provinsi Jawa Timur masih menyisakan peninggalan produksi gula sejak masa kolonial Belanda, yakni Desa Juwono. Desa ini juga sebagai saksi bisu terjadinya produksi gula secara masif agar memenuhi ekspor gula pada masa kolonial. Lalu, seperti apa kondisi setum gula tersebut sekarang di Desa Juwono? Selamat menyimak!

Sejarah Pabrik Gula Djoewono

Pabrik Gula Djoewono (Juwono dalam ejaan lama) atau dalam bahasa Belanda “Suiker Fabriek Djoewono” dengan singkatan SF. Djoewono merupakan salah satu pabrik gula yang pernah beroperasi pada masa penjajahan Belanda. Setelah berakhirnya masa kejayaan kolonial Belanda, pabrik gula hanya menyisakan sebuah setum gula berbentuk pencakar langit yang berlokasi di Desa Juwono, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Secara geografis, desa Juwono berlokasi di seberang barat Kec. Purwoasri, Kab. Kediri yang dibatasi oleh anak sungai Brantas. Salah satu akses menuju setum gula melalui gapura SF. Djoewono seperti pada gambar berikut.

Gapura SF. Djoewono | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Pembangunan pabrik gula di desa ini tidak lepas dari kesaksian hidup warga, salah satunya Bapak Suwadi berusia 106 tahun. Beliau merupakan satu-satunya saksi hidup dari pembangunan hingga pemberhentian produksi pabrik gula. Beliau mengatakan bahwa pemilik pabrik gula tersebut merupakan pengusaha berkebangsaan Tiongkok, Cina yang dibangun selama 4 tahun sejak tahun 1913 hingga 1917 pada lahan selebar 3 hektar 400 meter di wilayah Juwono. Saat pembangunan pondasi setum berlangsung, intensitas air pada tanah galian sangat tinggi, sehingga warga tidak bisa menguras air dengan mesin diesel yang pada akhirnya harus diberi intan oleh saudagar Cina agar air surut dan bisa dibangun pondasi tanah.

“Setum yang bangun orang Cina, 4 tahun dibangunnya, dari 1913 sampai 1917. Pas mbangun setum, tanahnya dikuras sama diesel ga berkurang. Akhirnya, sama orang Cina ngasih intan di dalam tanah supaya airnya surut karena dalam sekali. 5 hari selesai terus bisa dibikin pondasi setum,” tegas Bapak Suwadi (dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan).

Pembangunan pabrik gula yang telah rampung akhirnya mulai dioperasikan pada tahun 1918. Pabrik gula memperoleh distribusi bahan dasar, yakni tebu dari wilayah Kecamatan Ngronggot dengan bantuan kereta api khusus barang pada masa itu untuk mengangkut tebu dari Ngronggot ke Djoewono. Produksi gula yang berlangsung masif mendorong pemilik pabrik untuk menawarkan pekerjaan kepada warga sekitar sebagai karyawan pabrik gula.

“Tahun 1918 mulai beroperasi. Ada jalan kereta api khusus barang dari Ngronggot sampai ke sini buat ngangkut tebu. Mertua saya pernah jadi pekerja di pabrik gula sebagai ahli tetes,” ujar Bapak Suwadi (dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan).

Bapak Suwadi | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Pabrik gula ini tidak hanya ada di desa Juwono, melainkan telah menyebar ke daerah lain, seperti di Kudus, Jawa Tengah. Namun, pabrik gula hanya beroperasi hingga tahun 1929. Penyebab pemberhentian pabrik gula adalah pembangunan yang dilakukan berada di tanah warga dan pemilik pabrik menolak pemerintah Belanda yang ingin memberikan hutang modal.

“Suatu ketika didatangi pemerintah Belanda dan mereka bilang, ‘Kalo kamu tidak mau dihutangi modal, kamu tidak boleh menyewa tanahnya orang sekitar’ tapi pengusaha Cina itu tetap keukeuh ga mau, dikasih ringgit perak juga ga mau. Akhirnya pabrik gula mati,” jelas Bapak Suwadi (dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan).

Papan Setum Djoewono | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Kondisi Setum Gula Djoewono

Setelah peniadaan operasi pabrik gula, pemerintah Belanda memerintahkan warga Juwono untuk menghancurkan pabrik gula dengan imbalan. Ketika warga ingin merobohkan setum, warga tidak berani menghancurkan sebab setum yang dibangun terlanjur kokoh dan kandungan intan di dalam tanah yang tinggi. Hal ini menyebabkan tanaman di sekitar setum tidak dapat ditanami pada masanya.

“Setum mati tidak berfungsi setelah bangkrut. Mau dirobohinga berani, akhirnya tanah di sekitar setum ga bisa ditanami,” ujar Bapak Suwadi (dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan).

Sejak saat itu hingga sekarang, setum dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Warga yang ingin mencari rumput di sekitar setum diperbolehkan tanpa mengganggu atau tanpa berniat menghancurkan. Seperti halnya bangunan lama lainnya tidak serta merta terlepas dari cerita di luar nalar manusia, baik yang terjadi di sekitar setum maupun yang dialami oleh warga.

“Ada orang sakit gatal ke setum cari kesembuhan yang dipercaya ada arwah sakti, jadi orangnya disuruh bermalam di setum,” kata Bapak Suwardi (dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan).

Setum Pabrik Gula Djoewono | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Banyak anak sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, serta beberapa wartawan lokal yang mempertanyakan sejarah setum pabrik gula di desa Juwono kepada Bapak Suwadi. Namun, pemerintah daerah setempat tidak pernah meliput setum pabrik gula dikarenakan keterbatasan pengumpulan data dari segi jumlah saksi mata, kurangnya elemen dari segi esensi cagar budaya, serta lokasi yang berada di tengah perumahan warga. Setum yang menjulang tinggi tak ayal menjadi pusat perhatian, sehingga dapat dijadikan penanda lokasi desa Juwono bagi warga maupun pendatang.

Penelusuran setum pabrik gula di desa Juwono terungkap melalui bantuan saksi mata yang dapat menambah wawasan di balik sejarah umum masa kolonial Pemerintahan Belanda. Terselip hikmah bagi pemuda-pemudi Indonesia saat ini untuk menghargai bangunan bersejarah dan mengetahui kisah di masa lampau, terutama masa penjajahan, dengan harapan meningkatkan serta membangkitkan rasa nasionalisme, patriotisme, dan cinta kasih kepada Nusantara. Kabar baik dari desa, makin tahu Indonesia.

"Biarlah pengalaman masa lalu kita menjadi tonggak petunjuk, dan bukan tonggak yang membelenggu kita." - Bung Hatta

Referensi:Kertosono Nganjuk | Katadata | Databoks Katadata

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NU
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini