Penyengat Indrasakti, Pulau Kecil Kaya Sejarah

Penyengat Indrasakti, Pulau Kecil Kaya Sejarah
info gambar utama

#WritingChallengeKawanGNFI #CeritadariKawan #NegeriKolaborasi #MakinTahuIndonesia

Ada satu istilah yang menyatakan belum bisa disebut pernah ke Tanjungpinang bila belum menginjakkan kaki di Pulau Penyengat. Terletak tak jauh dari Tanjungpinang, pulau kecil ini bisa terlihat jelas dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Untuk menuju ke pulau tersebut bisa menggunakan sampan motor yang biasa disebut pompong oleh masyarakat. Tak butuh waktu lama hanya sekitar 15 menit, Kawan sudah bisa menginjakkan kaki di pulau ini

Awalnya pulau ini merupakan mas kawin yang diberikan oleh Raja Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah. Sehingga pulau ini menjadi kediaman dari Engku Putri dan merupakan pusat Kesultanan Riau Lingga di masa itu. Selain itu, dari pulau inilah asal mula Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan berasal.

Saat memasuki pulau ini dari arah dermaga, didominasi warna kuning yang identik dengan warna kerajaan melayu, akan terlihat Masjid Raya Sultan Riau Penyengat yang berdiri dengan kokohnya. Arsitektur masjid ini sangat unik dan sarat dengan nilai-nilai islam. Di dalam masjid, tepat setelah pintu masuk akan terlihat lemari kaca yang berisi Al-Quran bertuliskan tangan.

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat | Foto: Wikimedia
info gambar

Menurut cerita di masa lampau, Raja Abdurahman bergotong royong bersama seluruh lapisan masyarakat membangun masjid ini. Untuk campuran perekatnya konon, mereka menggunakan putih telur. Sehingga bangunan masjid tersebut tetap kokoh hingga saat ini.

Berjalan sedikit dari masjid, kita akan menemukan Istana Kantor. Istana ini merupakan kediaman dari Raja Haji beserta keluarganya. Sesuai namanya, istana ini juga merupakan kantor bagi Raja Haji. Walaupun sudah berusia ratusan tahun bangunan ini masih berdiri kokoh. Kurangnya perawatan membuat bangunan bersejarah ini tampak kusam dan ada beberapa bagian yang sudah rusak.

Sedikit agak terpencil tak jauh dari Istana Kantor, layaknya kediaman Raja di masa perang tentu ada tempat untuk penyimpanan senjata atau di Penyengat disebut dengan Gudang Mesiu. Awalnya gedung ini ada tiga buah yang berjarak cukup dekat. Sayang dua Gedung lainnya sudah hancur. Kontras dengan Istana Kantor, Gudang Mesiu masih terlihat bagus karena sempat dilakukam pemugaran beberapa tahun lalu.

Istana di Pulau Penyengat tidak hanya Istana Kantor saja, ada satu istana lagi yang dikenal dengan Istana Engku Bilik. Nama dari istana ini dirujuk dari nama penghuni terakhirnya yaitu Engku Bilik, adik perempuan dari Sultan Riau Lingga yang terakhir. Senasib dengan Istana Kantor bangunan di Istana Tengku Bilik ini pun tampak kurang terawat.

Selain istana, kita juga akan menemukan Balai Adat. Rumah panggung yang merupakan replika rumah adat melayu ini memiliki struktur yang kental dengan adat melayunya. Tak hanya struktur bangunan, interior didalamnya juga didominasi dengan warna kuning. Rumah ini biasanya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting atau acara adat lainnya.

Tak jauh dari Balai adat, akan tampak sisa-sisa rumah Raja Haji Abdullah atau yang dikenal juga sebagai Gedung Hakim Mahkaman Syariah Raja Abdullah. Sayangnya, bangunan ini tak lagi utuh, yang tersisa hanya bentuk bangunan tanpa atap.

Di masa Kesultanan Riau Lingga, Pulau Penyengat berfungsi sebagai pusat pertahanan. Benteng-benteng pertahanan didirikan di bukit yang ada di pulau ini. Salah satu Benteng yang tersisa dari masa itu adalah Benteng Bukit Kursi, dengan letak yang strategis benteng ini menjadi sentra pertahanan di masa itu. Terletak diatas bukit, menjadikan Benteng ini sebagai tempat yang strategis untuk melihat pergerakan musuh.

Benteng yang berbentuk segiempat ini cukup besar di masa itu. Di sekeliling Benteng masih bisa ditemui parit yang cukup dalam. Sebagai basis pertahanan, benteng ini memiliki Meriam yang menghadap laut dan pintu utama. Meriam-meriam tersebut masih ada hingga saat ini. Sementara, bangunan benteng meski tak lagi utuh namun masih bisa dilihat dinding-dindingnya.

Selain bangunan-bangunan bersejarah diatas, terdapat pula makam-makam Raja dan permaisuri yang sempat memerintah Kesultanan Riau Lingga. Termasuk makam dua Pahlawan Nasional yaitu Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji.

Referensi: Disbudpar Tanjung Pinang | Cagar Budaya Kemdikbud | Travel Kompas

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YN
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini