Warisan Budaya Lokal Batik Omah Laweyan Solo sebagai Wadah Pengembangan Wisata

Warisan Budaya Lokal Batik Omah Laweyan Solo sebagai Wadah Pengembangan Wisata
info gambar utama

Indonesia merupakan sebuah negara yang berkepulauan yang memiliki suku budaya yang beraneka ragam. Salah satu warisan budaya yang memiliki banyak peminat oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara ialah kerajinan tangan yang berupa batik Indonesia. Batik sendiri berasal dari kata bahasa jawa “ambhatik “ dari kata “amba” yang berartikan lebar atau luas.

Kemudian, kata “titik” yang kemudian berkembang menjadi kata batik yang memiliki sebuah makna menyambung titik-titik menjadi gambar, sehingga dapat disimpulkan kesenian batik adalah kesenian gambar diatas kain lebar untuk pakaian yang menjadi salah satu bagian dari kesenian budaya yang dilahirkan kerajaan di Indonesia sejak zaman dahulu.

Pada setiap motif yang terdapat pada kerajinan batik tulis mengandung makna historis dan filosofi tersendiri disetiap goresan seninya. Salah satu lokasi warisan budaya batik tertua di indonesia yakni terdapat di Kampoeng Batik Lawean merupakan kota kuno yang terdapat diwilayah surakarta yang berbatasan dengan kabupaten sukoharjo.

Ilustrasi Batik | Foto: Travel Kompas
info gambar

Sejarah Laweyan memproduksi batik tulis sejak abad ke-14 dimulai saat sosok kiyai Ageng Hanis bermukim di Desa Laweyan pada tahun 1546 yang merupakan putra dari kiai Ageng Sela merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Kampung kuno ini berdiri sejak tahun 1500-an pada zaman kerajaan. Laweyan berasal dari kata lawe, yang bermakna semacam benang sebagai bahan dasar pembuatan kain. Dengan berjalannya arus perubahan zaman yang semakin canggih dengan teknologinya dan kurangnya regenerasi terhadap batik tulis yeng kemudian munculah produk batik “printing” pada sekitar tahun 80-an yang menyebabkan industri pengrajin batik tulis semakin merosot dan banyaknya masyarakat sekitar yang gulung tikar hingga sekarang tersisa 15% dari jumlah industri yang ada.

Namun, demi mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya batik tulis muncullah kesadaran dengan beberapa ide dari masyarakat lokal dengan ditetapkannya kawasan ini sebagai kampung wisata batik pada tahun 2004 demi mempertahankan potensi yang ada didalamnya. Hingga sekarang terdapat sekitar beberapa pengrajin batik tulis dengan prasarana yang mendukung salah satunya respon masyarakat dengan dikembangkannya Showroom Batik seperti ruang membatik, ruang pameran, ruang edukasi dan sebagiannya.

Pengembangan desa wisata yang berbasis eduwisata dapat meningkatkan pembangunan desa dalam sebuah upaya pelestarian budaya lokal. Pemanfaatan perkembangan hasil budaya yang diolah menjadi edukasi yang berbasis wisata akan meningkatkan daya tarik dan manfaat tersendiri bagi generasi muda dengan seiring berjalannya teknologi dan era globalisasi yang berkembang secara pesat.

Maka, pengembangan desa wisata batik akan membawa dampak positif terhadap pengembangan masyarakat baik secara ekonomi, yang diantaranya menguragi tingkat pengangguran yang tinggi, membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat daerah, menciptakan rasa kepemilikan yang besar dan control pada masyarakat juga generasi muda di Indonesia.

Seperti halnya desa wisata ini diaharapkan untuk menjadi salah satu faktor daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung dan mengenal batik secara langsung karena wisata kreatif bukan hanya menjadi sebuah pupuk dalam pengambangan produk tersendiri melainkan sebuah kegiatan pengenalan budaya secara aktif kepada generasi muda Indonesia. Dengan berkembangnya pelestarian batik tulis ini memiliki harapan khusus dari para pengrajin batik tulis terkhususkan pada generasi muda Indonesia untuk lebih memahami apa itu batik yang sesunggunya, membedakan mana batik yang asli atau tidaknya, kemudian proses pembuatannnya, mewujudkan rasa cinta terhadap produk-produk kerajian indonesia dan seterusnya.

Referensi:

Ceicillia.Jeanne,dkk, "Perancangan Branding "Ceripta" Kerajinan Perca Batik Dengan Nilai Jual Tinggi Bagi Milenial", Vol.21, No.1, Januari 2021.

Sari.Saraswati,dkk, "Pusat Batik Surakarta Hadiningrat di Laweyan Surakarta", Vol.15, No.1, Juni 2016.

Rr.Erna.Sadiarti, "Showroom Batik di Kampoeng Batik Laweyan Respon Masyarakat Terhadap Pengambangan Pariwisata di Kawasan Cagar Budaya", Vol.05.No.3, Desember 2013.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ER
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini