Keraton Sumenep, Satu-satunya Keraton di Jawa Timur yang Masih Berdiri

Keraton Sumenep, Satu-satunya Keraton di Jawa Timur yang Masih Berdiri
info gambar utama

Bicara soal keraton atau istana kerajaan, mungkin kita akan langsung terpikir dengan Keraton Yogyakarta atau Keraton Surakarta. Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki banyak sekali keraton atau istana kerajaan peninggalan masa lalu yang kini masih berdiri hingga sekarang.

Mengingat dulunya Indonesia terdiri atas berbagai kerajaan sebelum tergabung sebagai negara kesatuan, tentunya bukan tanpa alasan kalau Indonesia punya banyak sisa peninggalan kerajaan. Kini, berbagai istana tersebut ada yang masih ditempati oleh para keturunannya dan ada pula yang beralih menjadi tujuan wisata.

Mengenai istana ini, tahukah bila di Madura, tepatnya di Sumenep, terdapat sebuah istana kerajaan yang kini menjadi tujuan wisata sekaligus saksi bisu mengenai jejak sejarah Sumenep pada masa silam?

Mengenal 5 Istana Kerajaan yang Ada di Kalimantan

Mengenal Keraton Sumenep

Sesuai dengan nama daerahnya, istana ini dinamakan sebagai Keraton Sumenep. Pada masa silam, keraton ini kerap disebut sebagai Karaton Pajagalan. Keraton yang satu ini merupakan satu-satunya peninggalan istana kerajaan yang masih ada di Jawa Timur.

Istana yang satu ini merupakan miliki dari Kerajaan Sumenep, sebuah kerajaan kecil setingkat kadipaten yang pernah berkuasa di daerah ini. Meskipun jabatannya dari pemimpinnya adalah adipati, namun warga Sumenep kerap menyebutnya sebagai raja.

Pendiriannya dilakukan pada masa Panembahan Somala Penguasa Sumenep XXXI di atas sebidang tanah yang merupakan miliknya sendiri di tahun 1781. Arsiteknya adalah seseorang dari etnis Tionghoa yang menetap di Sumenep bernama Lauw Piango.

Di era ketika Kerajaan Sumenep berkuasa, sebenarnya ada berbagai keraton-keraton yang tersebar di berbagai daerah ini, namun hanya Keraton Sumenep inilah yang masih bertahan. Sementara bangunan-bangunan keraton lain kini hanya tersisa jejaknya saja, tanpa ada bangunan utuh.

Karena ini adalah keraton yang dimiliki oleh kerajaan yang setingkat dengan adipati, maka Keraton Sumenep tidaklah memiliki area yang kompleks layaknya Keraton di Yogyakarta atau Surakarta yang menjadi pusat pemerintahan dari kerajaan besar.

Mengutip dari situs Indonesiana Kemdikbud, bangunan ini terdiri atas bangunan induk keraton, Taman Sare, dan Ladang Museum dengan arsitektur yang merupakan perpaduan antara gaya Jawa, Islam, Cina, dan Eropa.

Keraton ini didominasi oleh cat yang berwarna kuning muda. Pemilihan warna ini punya alasan tersendiri, yaitu sebagai penghormatan kepada Ratu Ayu Tirtonegoro, sang permaisuri kerajaan yang berasal dari China yang memiliki kulit kuning terang.

Karena ini pula, keraton ini juga punya nama lain, yaitu Potre Koneng atau Putri Kuning.

Nikmatnya Tidur Beralaskan Pasir, Kebiasaan Warga Sumenep Madura

Bagian-bagian bangunan keraton

Pada bagian depan keraton, terdapat sebuah gerbang atau gapura yang bernama Labang Mesem yang berarti ‘pintu senyum’ dengan arsitektur bergaya tumpang.

Hal ini merupakan sebuah perlambangan akan sifat ramah dari pihak kerajaan bagi setiap orang yang datang ke keraton ini. Dulu gapura ini juga dijaga oleh dua orang prajurit berbadan mungil yang akan membuat pengunjung tersenyum ketika melihatnya.

Pertemuan-pertemuan kerajaan dilakukan pada ruangan Pendopo Agung yang memang fungsinya adalah sebagai aula atau ruang serbaguna. Bangunan ini memiliki 10 pilar dengan lantai berbahan marmer. Atapnya sekilas terlhat seperti bangunan China, tetapi juga kental dengan gaya Jawa.

Kini, Pendopo Agung juga masih kerap digunakan oleh pemerintah Sumenep ketika menggelar acara-acara tertentu.

Pada sayap kanan wilayah bangunan, ada sebuah ruangan yang kini berfungsi sebagai museum yang menyimpan berbagai koleksi barang kerajaan. Dulunya, ruangan inilah yang menjadi tempat bekerja Raja Sumenep.

Lalu, ada Taman Sare yang dulu kerap difungsikan sebagai tempat untuk putri kerajaan bersantai. Di sini juga terdapat bekas kolam yang digunakan sebagai pemandian para putri keraton.

Di bangunan induk keraton, ada ruang tidur adipati yang berbahan dari kayu jati. Sementara di sebelahnya terdapat kamar tidur istri adipati. Ada pula dua kamar lain berpintu kaca yang dulu menjadi tempat tidur bagi anak-anak adipati yang hanya boleh dimasuki oleh keturunannya.

Kemudian, lantai 2 adalah tempat pingitan untuk para anak perempuan adipati. Beralih ke lantai 3, ada sebuah ruangan yang disakralkan karena menjadi tempat sang adipati beribadah dan bertafakur. Tidak sembarang orang boleh masuk ke ruangan ini.

Dilansir dari merdeka.com, ada beberapa orang yang pernah beribadah di ruangan ini. Di antaranya adalah almarhum Gus Dur, Imam Utomo (mantan Gubernur Jatim), dan beberapa pejabat lain

Benteng Kuto Besak, Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang Dulu Berdiri di Atas Pulau



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini