Lupa Sandi?
/ Front

"Jangan hanya bisa mengkritik.."

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

Pergilah ke Singapura dan cobalah naik cable car yang menjadi salah satu icon klasik kawasan wisata Sentosa di Singapura. Di situ anda akan akan disuguhi tour guide digital berbagai bahasa, salah satunya adalah bahasa Jepang. Tujuannya tentu untuk 'melayani' turis dari Jepang yang kurang lancar berbahasa Inggris. Di Bali, kini terdapat banyak tour guide (kali ini bukan digital) yang makin mahir berbahasa Russia, bahkan beberapa tempat wisata dan brosurnya sudah menambahkan  bahasa Russia. Tentunya agar wisatawan negeri dingin tersebut merasa betah berada di Bali, dan juga sebagai upaya untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan Russia untuk pergi ke Bali. Di Bandara Brisbane, Australia, petugas informasi juga berbahasa China dan Jepang, termasuk pengumuman informasi penerbangan melalui pengeras suara di bandara tersebut. Pelayanan-pelayanan tersebut tentu membanggakan bagi orang-orang Jepang, China, dan Russia, karena di lain pihak, negara lain begitu mengakui status (bahasa) negara mereka.

Saya pernah berpikir bahwa, "Hmm...itu mungkin orang China, Jepang, dan Russia tidak mahir berbahasa Inggris, jadi mereka perlu 'bantuan'". Lah, tapi orang Indonesia gak mahir bahasa Inggris juga, tapi di Jepang, gak ada orang  yang susah payah belajar bahasa kita. Kemudian saya meyakini, bahwa Jepang, Russia, China, (lalu Arab, Korea, dll) bisa 'memaksakan' orang dari negara lain untuk belajar bahasa mereka karena beberapa hal, tentu saja karena kekuatan ekonomi dan pengaruh, dan juga (ini tak kalah penting) ada usaha dari pemerintah mereka, atau institusi pendidikan kita, atau pihak swasta, atau orang-orang yang begitu mencintai bahasa negerinya, agar orang (dari negeri) lain mau, rela, dan bersemangat belajar bahasa Indonesia.

GNFI bertemu dengan Lenny Lim, seorang muda yang luar biasa, yang dengan sepenuh hati membangun dari nol sebuah majalah bernama "Nusantara Magazine", majalah dwi bahasa yang memungkinkan orang asing (yang mengerti bahasa Inggris) bisa dengan sederhana dan fun belajar bahasa Indonesia, dan orang Indonesia bisa belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan. Berikut ini adalah wawancara jarak jauh GNFI dengan Lenny Lim 

 1. Sejak kapan Lenny mulai berpikir untuk membangun Nusantara Magazine (Nusmag)? Apa yang melatarbelakangi sehingga Nusmag benar-benar terbangun?

Awal mula ingin mendirikan NM pada akhir tahun 2011 karena terinspirasi dari acara Young Leader Summit 2011 dimana para pemuda berbagi ceritanya dalam berkontribui untuk Indonesia. Di sisi lain saat itu saya juga menemani seorang teman yang akan berangkat ke australia untuk mengajar bahasa indonesia dan menemaninya membeli alat bantu mengajar. Dari sana terbersitlah ide untuk membuat sebuah majalah yang dapat mengakomodasi kebutuhan ini. majalah ini pun merupakan wadah bagi saya untuk berkreasi sesuai dengan passion saya. NM sendiri pertama kali diterbitkan pada 15 januari 2012 hingga saat ini.

2. Saat ini, berapa orang 'pelanggan' Nusmag, dan bagaimana orang bisa berlangganan ?

Rata rata pembaca NM mencapai 150-300. orang bisa mendownload / membaca langsung NM melalui link yang disebarkan di social media NM serta beberapa website seperti colleger radio dan GNFI. Jika mengalami kesulitan dapat menghubungi admin agar dikirim via email

3. Apakah terpikir untuk mengkomersialisakan majalah ini menjadi majalah cetak?

Sejauh ini belum karena target pasarnya pun orang di luar negeri yang notabane memiliki akses internet yang sangat memadai sehingga tentunya dapat dengan mudah mengakses NM.

4. Bagaimana pendapat Lenny mengenai anak Muda Indonesia pada generasi sekarang ini?

Anak muda generasi sekarang sudah mulai peduli terhadap Indonesia dan dibuktikan dengan munculnya gerakan gerakan sosial yang berkontribusi untuk indonesia seperti Indonesia Mengajar. contoh lainnya juga banyak saya jumpai volunteer yang rela menyediakan waktu dan tenaga untuk membantu keberlangsungan majalah Nusmag ini.

 5. Apakah mereka akan mampu bersaing secara global menghadapi anak2 muda dari negara2 lain yang kemampuan bahasa inggrisnya  lebih?

Pasti bisa. Lagipula kemampuan bahasa inggris anak indonesia cukup memadai. Saya percaya dengan semakin terhubungnya dunia, maka semakin anak indonesia mempunyai kesempatan untuk berkompetisi di dunia internasional

6. Sebagai anak muda yang tinggal di Jakarta, apa yang Lenny lihat tentang Indonesia 20-25 tahun lagi? 

Saya berharap melihat indonesia 20-25 tahun kedepan sebagi negara yang lebih baik lagi dari segi hukum, ekonomi dan sosial. Saya juga ingin melihat lebih banyak lagi generasi muda yang memimpin indonesia.

7. Saat ini, banyak anak muda Indonesia yang mulai masuk ke golongan menengah yang mempunyai kemampuan finansial lebih. Sayangnya, banyak dari mereka yang gandrung ke hal-hal berbau luar negeri, musik luar negeri, wisata ke luar negeri, dll. Menurut mbak Lenny, apa yang perlu kita lakukan agar kecintaan pada bangsa Indonesia, dibarengi dengan kecintaan pada produk-produknya?

Menurut saya kecintaan ini dipengaruhi oleh tren serta promosi yang gencar dari luar negeri. Salah satu cara agar anak muda kita beralih hati ke produk lokal adalah dengan mengedukasinya kembali bahwa produk indonesia itu juga tidak kalah keren, bagus, berkualitas dibanding produk luar negeri. perlu juga ditekankan bahwa orang luar negeri saja banyak yang menggunakan produk indonesia. masa kita sebagai orang indonesia tidak menggunakannya? Contoh yang paling simpel adalah batik batik indonesia itu sangat digandrungi di luar negeri seperti di australia. Bahkan ketika saya berada di bangkok,  saya ingin mencoba thai massage di hotel, namun yang ditawarkan malah bali spa. Itu contoh bahwa sebenarnya produk kita sangat diminati dan mungkin banyak dari anak muda lainnya yang belum menyadarinya.

8. Hal apa tentang Indonesia yang membuat mbak lenny mencintai negeri ini?

Kekayaan budayanya yang beraneka ragam, potensi wisata yang luar biasa serta orang indonesia yang ramah

 9. Ada pesan untuk anak muda kita?

Jangan hanya mengkritik, jika bisa berikan solusi.  tetapi yang lebih baik lagi jika dapat berkontribusi untuk negeri ini. Sekecil apapun.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Welcome, Vietnam Airlines

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

The Blue of the Birds

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Internationally-connected Medan

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Konser Keajaiban : Sound From the East

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu

Liverpool to Manado

Akhyari Hananto5 tahun yang lalu
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata