Lupa Sandi?

Cita Rasa Nusantara di Inggris

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Cita Rasa Nusantara di Inggris
Wanita yang pada akhir Maret berusia 52 tahun ini telah menghabiskan hampir separuh hidupnya, selama 27 tahun, bergulat mengenalkan masakan Indonesia di tempat tinggalnya di Dorset, Inggris Selatan. Buku ini sempat ditawari oleh pihak Malaysia untuk diterbitkan dan dipublikasi besar-besaran di sana, namun dengan syarat kata Indonesia diganti dengan Malaysia, saya langsung tolak. Asam garam telah Yayu Slocock rasakan dalam menjadi salah satu chef lokal dengan bakat dan kemampuan tak hanya menghadapi bahan makanan, tetapi ia juga sanggup melukis botani dengan cat air. Ditemui CNN Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta Selatan (24/3), wanita kelahiran Blitar ini menceritakan jatuh bangun usahanya dalam mengenalkan cita rasa Nusantara di negeri sang Ratu Eizabeth. Tak Sanggup Berbahasa Inggris Yayu lahir di Blitar, 29 Maret, namun besar di Jakarta. Sejak kecil, ia mewarisi bakat alam bekerja di dapur dan membantu ibu serta neneknya. Bahkan di kelas 5 SD ia telah sanggup memadu padankan buah menjadi susunan parsel buah. Tumbuh selayaknya gadis belia yang gemar memasak, Yayu kemudian pindah ke Melbourne pada kelas 3 SMA untuk ikut keluarga barunya di sana. Di kota metropolitan Australia tersebut, ia terancam gagal melanjutkan studinya lantaran tak lulus uji bahasa Inggris yang ditentukan oleh sekolah barunya di Melbourne. "Saya mulai mahir berbahasa Inggris lantaran sering mengadakan kegiatan bersama orang-orang di sana dan saya yang menyediakan makanannya," cerita Yayu. Masakan Yayu pun menjadi buah bibir di teman-temannya, kemahirannya meracik resep warisan nenek moyang menjadikan dirinya dipercaya untuk mengatur konsumsi acara-acara setempat yang pada akhirnya mempertemukan ia dengan suaminya yang berasal dari Inggris, Christopher Slocock. Sempat menjadi pelayan restoran Jepang selepas kuliah, Yayu belajar berbisnis makanan dan yang kemudian ia bawa ke Inggris selepas menikah. Ibu Rumah Tangga dan Berbisnis Yayu sempat berpikiran untuk menjadi pegawai kantoran mengingat ia adalah sarjana jurusan biochemistry Melbourne University, namun setelah mempertimbangkan banyak hal bersama suaminya, ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga. "Dengan menjadi ibu rumah tangga, saya bisa belajar banyak hal, mulai dari memasak, hingga menjadi guru tambahan," katanya. Yayu pun memulai bisnisnya dengan menjadi katering bagi lingkungan rumahnya. Selain untuk berbisnis, usaha katering ini juga menjadi usahanya untuk lebih dekat dengan tetangga barunya yang ia akui sulit untuk menerima orang baru. Namun kedekatannya dengan seorang nenek tua berusia 90 tahun menambah pengetahuannya dalam bidang kuliner, terutama Inggris. Meskipun begitu, ia tetap mengutamakan masakan Nusantara dalam berbisnis, termasuk mengajarkan orang Inggris memasak. Rupanya orang Inggris sangat menyukai masakan Indonesia yang ia bawa. Bahkan makanan yang ia masak selalu laris dipesan oleh warga di sana, terutama nasi goreng, mie goreng, lumpia, dan rendang. Pun masakannya disukai oleh adik dari mendiang Putri Diana. Menulis Resep demi Indonesia Kecintaannya kepada Indonesia terus menggelora dalam benak Yayu meskipun sudah puluhan tahun ia tinggal dan hidup di Inggris. Berbekal pengetahuan yang ia miliki, ia mencoba merangkum semua itu dalam sebuah buku resep bertajuk Yayu's Simply Indonesian. Buku ini bukan tanpa perjuangan ia buat. Buku yang berisikan resep berbahasa Inggris dan telah ia sesuaikan dengan lidah internasional tanpa meninggalkan ciri khas asli tersebut ia buat dengan penuh derai air mata. Dirinya berniat mempublikasikan buku tersebut untuk memperkenalkan masakan Nusantara kepada masyarakat dunia agar semakin terkenal dan tak kalah saing dengan masakan negeri lain. "Namun buku saya ditolak waktu itu oleh Dino Patti Djalal, ia bilang buku saya kurang kuliner," kenang Yayu yang mengaku menemui Dino dalam sebuah acara komunitas Indonesia di Inggris dengan harapan bukunya dapat menjadi lebih populer jika dipromosikan oleh Pemerintah Indonesia. Ucapan mantan Menlu Indonesia tersebut bagai mengiris hati Yayu. Ia pulang lalu menangis dan mempertanyakan karyanya sendiri yang telah ia susun dengan sepenuh hati. Dirinya pun meminta koreksi dari berbagai pihak atas maksud 'kuliner' dari Dino. Setelah cukup yakin dengan maksud kuliner, ia pun berusaha agar buku resep ini dapat dipublikasikan secara luas. Beruntungnya Yayu memiliki suami yang memiliki jaringan yang kuat. Bahkan, wanita yang kini sudah berstatus warga negara Australia tersebut sempat mendapatkan dukungan dari Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron. "Buku ini sempat ditawari oleh pihak Malaysia untuk diterbitkan dan dipublikasi besar-besaran di sana, namun dengan syarat kata Indonesia diganti dengan Malaysia, saya langsung tolak," tegas Yayu. Selain itu, suaminya pun menegaskan Yayu adalah seorang Indonesia, bukan Malaysia. Hingga akhirnya ia dapat bertemu dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia saat itu, Mari Elka Pangestu. "Mari dengan suka rela ingin memberikan dukungannya dalam buku saya." ujarnya berbinar-binar. Kini, dalam buku yang dijual sebesar 10 poundsterling di laman jual beli Amazon tersebut telah tercatut surat resmi bertandatangan Mari Elka Pangestu. Meskipun ia mengaku bahwa semua usaha yang ia lakukan mulai dari penyusunan resep, penerbitan, hingga berjuang mendapatkan dukungan buku adalah usahanya sendiri tanpa dukungan dari Pemerintah Indonesia, namun ia tak ambil pusing. Baginya, ia hanya ingin masakan Indonesia menjadi berjaya di kancah internasional. disadur dari CNN Indonesia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata