Tujuh Hantu dari Riau

Tujuh Hantu dari Riau

Tujuh Hantu dari Riau

Sebuah fenomena alam di Kelurahan Teluk Meranti, Semananjung Kuala Kampar, Kabupaten, Riau kini telah menjadi objek wisata turis mancanegara. Keberadaannya diburu oleh para pecinta olahraga menantang macam berselancar atau surfing. Adalah gelombang "Bono", fenomena alam yang terjadi karena pertemuan dua arus dari sungai dan arus laut dari muara. Fenomena ini menjadi surga tersendiri bagi para peselancar untuk menjajal gulungan ombak yang tak terputus tersebut. Lokasi objek wisata ini berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Fenomena Bono, Gelombang 7 Hantu dari Riau Dunia mengenalnya dengan sebutan "The Seven Ghost" atau "Gelombang 7 Hantu", lantaran rupanya yang berwujud ombak panjang yang datang secara bersamaan dan bisa mematikan. Gelombang yang dihasilkan dari peristiwa alam itu, bisa mencapai tujuh gelombang berurutan dan menciptakan kubah layaknya ombak laut yang begitu mengesankaan. Keunikan lainnya, adalah saat air laut bertemu dengan aliran sungai, maka secara alami akan terjadi gelombang tinggi disertai dentuman keras seperti suara petir disaat badai dengan diiringi hembusan angin kencang. The Seven Ghost ini mulai populer dikalangan para surfer sejak tahun 2010 silam, kala itu sebuah produsen olahraga selancar internasional mendokumentasikan "Bono" untuk keperluan pariwara. Puncak kunjungan wisatawan asing akan terjadi pada bulan November karena gelombang ombak berada pada posisi paling tinggi yakni mencapai empat hingga enam meter. Tercatat, surfer-surfer asal Perancis, Brazil, Inggris, Kanda, Belgia, Amerika Serikat, Australia, Singapura pernah menjajal kesaktian The Seven Ghost ini. Pada Februari lalu, seorang surfer beken asal Inggris, Steve King turut mencoba kedahsyatan Gelombang 7 Hantu ini> Ia berhasil memecahkan rekor dunia Guinnes World Records dengan jarak dan waktu surfing terlama. Steve King ditemani oleh dua temannya yang juga berasal dari Inggris, yakni Steve Holmes dan Nathan Maurice berhasil berselancar di atas gelombang 'Bono' dalam waktu 1 jam 4 menit menempuh jarak sekitar 20,65 km (12,8 mil). Catatan rekor ini mengalahkan rekor Guinness World of Records sebelumnya (atas namanya sendiri) tahun 2006 dimana ia berselancar di atas gelombang Sungai Severn Bore, Inggris. Saat itu Steve menorehkan catatan berjarak 12,23 km (7,6 mil) ditambah 2,66 (1,65 mil) dengan waktu tempuh 1 jam 6 menit. Untuk mengakses fenomena ini memang terbilang tidak mudah. Dari Pekanbaru, Anda harus menuju ke Pangkalan Kerinci sejauh 70 Km, kemudian naik speed boat ke desa di Pulau Muda dengan lama perjalanan sekitar 5 jam hingga ke Sungai Kampar.

(Siperubahan.com)

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bukit Cinta di Bumi Flores Sebelummnya

Bukit Cinta di Bumi Flores

Akan Ada yang Baru di Jembatan Suramadu! Selanjutnya

Akan Ada yang Baru di Jembatan Suramadu!

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.