Lupa Sandi?

Jajanan Maluku di Tengah Kota Ambon

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Jajanan Maluku di Tengah Kota Ambon
Jajanan tradisional khas Maluku berbahan sagu menjadi sajian utama di Kafe Sibu-Sibu di tengah kota di Ambon. Bagi warga Maluku, termasuk yang di perantauan, makanan dari bahan sagu menjadi obat rindu pada masa lalu. Sepiring jajanan tradisional khas Maluku tersaji di atas meja. Bentuknya sangat beragam meski dibuat dengan bahan baku yang sama, yaitu sagu. Bahan baku yang menjadi makanan utama masyarakat di sekitar Maluku. Ada yang berbentuk segitiga berwarna kecoklatan, atau yang berbentuk bintang berwarna kuning kecoklatan. Ada lagi yang berbentuk kotak berwarna coklat dan jajanan yang berbentuk tidak beraturan di atas talam daun pisang. kue amb Orang Ambon mengenal jajanan tersebut dengan berbagai nama. Kue sagu kenari atau kue talam sagu, kue bintang kenari atau cake sagu, lalu juga kasbitone dan koyabu. Kue talam sagu dan cake sagu berbahan dasar sagu, sementara koyabu dan kasbitone berbahan dasar singkong. Saat dicicip, rata-rata terasa manis. Cita rasa yang diperoleh dari penggunaan gula aren pada banyak makanan tradisional Nusantara. Sagu yang merupakan bahan baku utama menjadikan jajanan tradisional itu terasa berat saat dikunyah. Makan beberapa potong saja rasanya kenyang seketika. Dalam piring yang lain, dua potong kue gulung berwarna putih kecoklatan dengan saus yang meleleh di sekitarnya terlihat sangat menggoda. Di Maluku, makanan itu dikenal dengan nama sinoli. Sinoli menjadi sajian yang istimewa karena saat ini sinoli sudah sulit ditemukan, bahkan di pasar-pasar tradisional sekalipun. Jajanan ini terbuat dari sagu yang dicampur dengan parutan kelapa, pala bubuk, kenari, dan gula aren. ”Membuatnya dengan cara ditekan-tekan di wajan sampai tipis seperti dadar. Kalau sekarang, kan, mudah karena ada wajan antilengket. Lalu digulung dan disajikan dengan saus gula aren,” kata pemilik Kedai Sibu-Sibu, June (48). Tidak ada bahan tambahan lain, kecuali garam. Saat disuap ke dalam mulut, bau harum pala samar terasa. Potongan sinoli terasa nikmat dengan tambahan saus gula aren. Sagu yang gurih pun berpadu dengan rasa manis, membuat tangan tak henti menyuap lagi dan lagi. Tersaji pula pancake sagu yang disajikan dengan selai buah pala yang legit. Duh…. Tampilan menarik jajanan maluku Kue talam sagu terbuat dari sagu, santan, lalu gula aren dan sedikit kayu manis yang dimasak hingga kental. ”Setelah adonan kental, kemudian baru diletakkan di dalam wadah, lalu di atasnya diberi cacahan kenari,” kata June. Sementara cake atau kue sagu terbuat dari sagu, kenari, dan gula aren. Sesuai dengan namanya, cara membuatnya seperti kue-kue lainnya dengan cara dioven. Yang membedakan adalah bahan bakunya yang didominasi sagu. Cake sagu disajikan dengan wadah kertas yang biasa digunakan menyajikan muffin. ”Sengaja dibikin dengan kemasan seperti ini supaya terlihat cantik dan menarik. Karena yang datang ke sini mulai dari anak-anak hingga anak- anak muda. Kalau makan dengan tampilan yang biasa saja, mereka tidak tertarik,” ujar June. Jajanan dari olahan sagu semakin sedap dinikmati bersama secangkir kopi rempah rarobang yang menjadi kekhasan di Kafe Sibu-Sibu. Kopi rarobang diracik dari kopi Arabica pilihan dengan rempah-rempah berupa cengkeh, daun pandan, jahe, dan serai. Pengunjung umumnya menyukai kopi rarobang karena efek hangat yang ditimbulkan saat masuk ke dalam tubuh. Angin Sepoi-sepoi Menurut June, Sibu-Sibu yang memiliki arti angin sepoi-sepoi sudah berdiri delapan tahun lalu. Ide untuk menyajikan jajanan khas Ambon datang dari sang suami, Victor (50), yang merupakan penggemar musik. ”Dari awal berdiri, Sibu-Sibu memang menyediakan snack tradisional atau jajanan khas Ambon. Suami saya yang punya ide untuk bikin tempat yang bisa menampung banyak orang, yang di dalamnya menyediakan jajanan tradisional Ambon,” ujar June. Terdapat lebih dari 10 jenis jajanan khas Ambon yang semuanya dibuat oleh tangan-tangan terampil mama-mama Ambon. ”Kami sengaja berdayakan ibu-ibu agar ada kesibukan. Mereka membuatnya di rumah, lalu membawanya ke sini,” kata June. Dengan menyediakan jajanan tradisional khas Ambon, June dan Victor berharap masyarakat Ambon tidak lupa dengan makanan khas yang pernah menjadi bagian hidup mereka sejak kecil. ”Saat saya kecil, makan jajanan seperti ini juga. Ibu saya bikin koyabu atau kasbitone, tapi dibikinnya masih ala rumahan. Jadi, memang ada kerinduan yang muncul untuk kembali menikmati jajanan tradisional seperti ini,” kenang June. Jajanan-jajanan tersebut umumnya dinikmati pada pagi dan sore hari, khususnya di kawasan pedesaan. ”Biasanya dimakan sambil minum kopi atau teh sambil ngobrol-ngobrol. Kadang juga sebagai pengganti nasi. Kalau orang Ambon perkotaan, sarapan paginya roti,” tutur June. disadur dari KOMPAS
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie