Lupa Sandi?

LAPAN menjadi 'mata elang' pengawas Kebakaran di Indonesia

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
LAPAN menjadi 'mata elang' pengawas Kebakaran di Indonesia
Musim kemarau panjang dan sangat kering seperti ini sangat rawan terjadinya kebakaran terutama di daerah-daerah hutan yang jauh dari jangkauan masyarakat. Titik-titik api yang jauh di dalam hutan jelas mustahil untuk dilihat dari tepi wilayah. Terlebih pemadam kebakaran di perkotaan juga tidak mampu untuk membantu para pemadam kebakaran garis depan wilayah hutan secara cepat. Oleh karena itu LAPAN hadir untuk membantu para pemadam kebakaran hutan dalam memetakan titik-titik api dari angkasa. Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) secara terus menerus memberikan hasil pantauan teknologi penerbangan dan antariksa pada kebakaran hutan, misalanya pada kedua wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Pengamatan LAPAN ini kemudian digunakan sebagai panduan aksi darurat dalam penanganan kebakaran.
Lapan satelit Citra Satelit LAPAN (Foto: Lapan.go.id)

"Citra satelit dan peta tersebut kemudian digunakan untuk menyusun informasi pemantauan titik panas dan asap di wilayah Sumatera," tulis LAPAN pada situs resminya Data pantauan diperoleh dari citra satelit MODIS AQUA pada 28 Agustus 2015 yang diakuisisi oleh Pusat Teknologi dan data penginderaan jauh LAPAN, serta peta batas adminiatrsai Indonesia. Dalam citra satelit yang dirilis LAPAN tersebut, akan menunjukkan titik-titik panas dan asap di wilayah yang diamati. Titik panas yang itu dicitrakan dengan titik berwarna merah. Sementara itu, keberadaan asap kebakaran terlihat sebagai sapuan putih transparan dalam citra satelit. Seperti saat ini, berdasarkan data citra satelit, wilayah yang terdapat kebakaran hutan, yaitu Kabupaten Tanjungjabung Timur, Muarojambi, Munyibanyuasin, Muaraenim, dan Ogan Komering Ilir. "Bila melihat dari data satelit tersebut, terlihat bahwa kebakaran hutan atau lahan di wilayah Sumatera atau di Jambi dan Sumetera Selatan, kemungkinan besar terjadi pada lokasi titik panas yang bergerombol disertai dengan asap kebakaran," jelas LAPAN. LAPAN menjelaskan bahwa tingkat keakuratannya sudah presisi dan banyak membantu para petugas pemadam di lapangan. "Akurasi lokasi kebakaran hutan tersebut berada pada radius kurang lebih satu kilometer dari titik koordinat titik panas yang itampilkan dalam citra tersebut," kata LAPAN viva.co.id
Label:
LAPAN
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

7 Puncak Dunia

Yufi Eko Firmansyah9 bulan yang lalu

Tahukah Anda, Seberapa Luas Indonesia ?

Yufi Eko Firmansyah10 bulan yang lalu

Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Menjadi Penguasa Telekomunikasi Asia Tenggara

Asrari Puadisatu tahun yang lalu

Internet Gahar, 1 GB Per Detik

Asrari Puadisatu tahun yang lalu
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara