Pemakaman Dengan Posisi Berjongkok Ini Hanya ada di Minahasa

Pemakaman Dengan Posisi Berjongkok Ini Hanya ada di Minahasa

Pemakaman Dengan Posisi Berjongkok Ini Hanya ada di Minahasa

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pada zaman dahulu, nenek moyang orang Minahasa di Sulawesi Utara memiliki tradisi pemakaman yang agak berbeda dari pada umumnya. Suku Minahasa memakamkan orang yang telah meninggal dengan diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Kemudian mayat dikubur dalam dalam sebuah bangunan batu yang diberi nama sebagai Waruga. Waruga dipercaya berasal dari dua kata, yaitu waru dan ruga. Dalam bahasa Minahasa, waru artinya rumah dan ruga artinya badan. Sederhanyanya waruga berarti rumah tempat badan yang akan kembali ke surga.
Waruga Posesi Pemakaman (Foto: Endi Hamid/detik.com)

Bentuk Waruga umumnya berupa kotak batu dengan memiliki genting atap yang berbentuk segitiga. Mirip bangunan rumah sederhana namun mungil. Juga terdapat waruga bentuk lain namun jumlahnya hanya sedikit. Bentuk Waruga itu adalah bulat atau segi delapan. Bangunan makam ini dibuat dari batu utuh yang besar. Batu-batu gunung yang berat dan kokoh akan bisa menghasilkan sebuah Waruga yang memiliki berat mencapai 100 kg hingga 400 kg. Beberapa Waruga, terutama yang berasal dari daerah Tonsea, diberi ukiran relief pada dindingnya. Relief tersebut akan menunjukkan bagaimana orang tersebut meninggal. Misalnya, yang meninggal saat melahirkan, reliefnya mengambarkan posisi mengangkang. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan itu merupakan gambaran profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, apabila di waruga tersebut ada gambar binatang, maka orang yang dikubur di dalamnya, dahulunya adalah seorang pemburu. Atau hiasan orang yang sedang bermusyawarah, maka dahulu orang yang dikuburkan di waruga itu adalah seorang Dotu Tangkudu (hakim). Waruga dahulu digunakan sebagai tempat pemakaman keluarga yang ditempatkan di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya. Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, dan Tondano 40 buah.
Waruga Waruga (Foto: Endi Hamid/detik.com)

Beberapa dari jejak mahakarya tradisi zaman Megalitikum tersebut bisa ditemui di Taman Purbakala Waruga Sawangan. Taman yang berlokasi di Kabupaten Minahasa Utara ini, sekarang menjadi destinasi wisata sejarah favorit para pendatang baik lokal maupun luar negeri. Di taman ini, sedikitnya terdapat 142 Waruga yang bisa ditemui. Menurut catatan sejarah, Waruga mulai digunakan oleh orang Minahasa pada abad ke IX. Namun sekitar tahun 1860, kebiasaan mengubur dalam Waruga mulai dilarang oleh Belanda. Sebab saat itu mulai berkembang wabah pes, tipus dan kolera. Maka muncul kekhawatiran apabila orang yang dikubur membawa penyakit, maka penyakit akan menyebar melalui rembesan dari celah kotak Waruga.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga19%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli13%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi19%
Pilih TerpukauTerpukau29%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ekspedisi Kapsul Waktu, RI Menuju Tujuh Dekade Ke Depan Sebelummnya

Ekspedisi Kapsul Waktu, RI Menuju Tujuh Dekade Ke Depan

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat Selanjutnya

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.