Pada zaman dahulu, nenek moyang orang Minahasa di Sulawesi Utara memiliki tradisi pemakaman yang agak berbeda dari pada umumnya. Suku Minahasa memakamkan orang yang telah meninggal dengan diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Kemudian mayat dikubur dalam dalam sebuah bangunan batu yang diberi nama sebagai Waruga. Waruga dipercaya berasal dari dua kata, yaitu waru dan ruga. Dalam bahasa Minahasa, waru artinya rumah dan ruga artinya badan. Sederhanyanya waruga berarti rumah tempat badan yang akan kembali ke surga.
Waruga Posesi Pemakaman (Foto: Endi Hamid/detik.com)

Bentuk Waruga umumnya berupa kotak batu dengan memiliki genting atap yang berbentuk segitiga. Mirip bangunan rumah sederhana namun mungil. Juga terdapat waruga bentuk lain namun jumlahnya hanya sedikit. Bentuk Waruga itu adalah bulat atau segi delapan. Bangunan makam ini dibuat dari batu utuh yang besar. Batu-batu gunung yang berat dan kokoh akan bisa menghasilkan sebuah Waruga yang memiliki berat mencapai 100 kg hingga 400 kg. Beberapa Waruga, terutama yang berasal dari daerah Tonsea, diberi ukiran relief pada dindingnya. Relief tersebut akan menunjukkan bagaimana orang tersebut meninggal. Misalnya, yang meninggal saat melahirkan, reliefnya mengambarkan posisi mengangkang. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan itu merupakan gambaran profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, apabila di waruga tersebut ada gambar binatang, maka orang yang dikubur di dalamnya, dahulunya adalah seorang pemburu. Atau hiasan orang yang sedang bermusyawarah, maka dahulu orang yang dikuburkan di waruga itu adalah seorang Dotu Tangkudu (hakim). Waruga dahulu digunakan sebagai tempat pemakaman keluarga yang ditempatkan di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya. Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, dan Tondano 40 buah.
Waruga Waruga (Foto: Endi Hamid/detik.com)

Beberapa dari jejak mahakarya tradisi zaman Megalitikum tersebut bisa ditemui di Taman Purbakala Waruga Sawangan. Taman yang berlokasi di Kabupaten Minahasa Utara ini, sekarang menjadi destinasi wisata sejarah favorit para pendatang baik lokal maupun luar negeri. Di taman ini, sedikitnya terdapat 142 Waruga yang bisa ditemui. Menurut catatan sejarah, Waruga mulai digunakan oleh orang Minahasa pada abad ke IX. Namun sekitar tahun 1860, kebiasaan mengubur dalam Waruga mulai dilarang oleh Belanda. Sebab saat itu mulai berkembang wabah pes, tipus dan kolera. Maka muncul kekhawatiran apabila orang yang dikubur membawa penyakit, maka penyakit akan menyebar melalui rembesan dari celah kotak Waruga.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu