Kuliner Jogja: Soto Djiancuk

Kuliner Jogja: Soto Djiancuk

Kuliner Jogja: Soto Djiancuk

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Siapa sih yang ngga kenal soto? Kalau bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita, maka soto adalah makanan nasional Indonesia hehehe.. Ada banyak macam soto di seluruh penjuru Nusantara dan terlalu banyak kalau mau dibahas di sini. Nah untuk kali ini kita hanya bahas SATU warung soto dari sekian banyak jenis soto yang ada.

Nama warungnya adalah Soto Djiancuk. Eitts.. jangan marah dulu, bukan maksudku mau mengumpat ya (jancuk: salah satu jenis umpatan dalam bahasa Jawa). Memang nama warung soto yang berlokasi di dekat PUKJ/kampus PGRI ini adalah Soto Djiancuk. Nama yang cukup catchy hehe.. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Dari arah kampus univ PGRI lurus saja terus ke arah barat. Nanti akan terlihat sebuah printed banner lumayan besar yang ditempelkan di sebuah papan besar berbentuk lingkaran.

Setelah pesan soto, kami duduk-duduk di teras warung yang berupa bale lesehan sambil makan tempe goreng. Pesanan kami baru datang setelah 15menit lebih. Cukup lama untuk ukuran soto yang biasanya disajikan kurang dari lima menit setelah pemesanan. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk kecil dan dialasi piring makan rumahan, sepertinya sih tujuannya biar kuah soto yang penuh banget itu tumpahnya ke piring.

Jika mendengar kata Djiancuk maka akan langsung terasosiasi dengan bahasa Jawa timuran dan tentunya akan mudah ditebak kalau Soto Djiancuk ini adalah soto Jawa Timuran. Yang khas dari soto Jawa Timur adalah kuahnya yang berwarna gelap/buthêk. Ya, hampir seperti coto makasar tapi lebih encer. Ada toping telur rebus dua iris di atasnya, selebihnya hampir sama dengan soto kebanyakan.

Bagaimana dengan rasanya? Hmm.. rasa memang relatif karena berkaitan dengan selera. Kalau menurutku pribadi sih cocok dengan tasteku. Rasa bumbu dan rempah yang kuat namun tidak asin dan tidak terasa "pahit"nya micin. Kuahnya sampe ludes saking doyannya, dan itu ga akan kulakukan kalau rasa garam atau micinnya dominan.

Sumber

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kuliner Semarang: Lunpia Mbak Lien Sebelummnya

Kuliner Semarang: Lunpia Mbak Lien

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia Selanjutnya

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia

Dian Isnawati
@deepsy4810

Dian Isnawati

http://dianisnawati.blogspot.co.id/

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.