Lupa Sandi?

Mandi Safar, Tradisi Penolak Bala dari Kota Sampit

Asrari Puadi
Asrari Puadi
0 Komentar
Mandi Safar, Tradisi Penolak Bala dari Kota Sampit
Ada suatu yang unik di tiap hari Rabu terakhir di bulan Safar, tradisi ini dikenal dengan nama “Mandi Safar” yaitu tradisi mandi dengan bercebur ke Sungai Mentaya, sungai terbesar yang ada di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Mandi dengan bercebur ke sungai ini mengandung filosofi membersihkan diri dari hal-hal negatif sehingga diharapkan bisa terhindar dari bala bencana dan kesialan seiring bersihnya badan usai mandi bercebur di Sungai Mentaya. Biasanya Mandi Safar ini dipusatkan di sekitar dermaga Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM). Tradisi ini diikuti dari berbagai penjuru Kota Sampit dan kawasan luar kota dengan berbekal pelampung atau ban dalam yang kemudian mereka gunakan untuk mandi di Sungai Mentaya. Sebelum seremonial mandi Safar, acara diawali dengan pembacaan doa dengan harapan Kotim dan masyarakatnya terhindar dari berbagai bencana yang mungkin saja muncul. Daun Sawang, Daun Penolak Bala Mandi Safar di Sungai Mentaya ini jadi tradisi turun menurun entah sejak kapan, namun hingga kini Mandi Safar dimasukkan kedalam agenda wisata andalan pemerintah kota sampit. Selain sebagai andalan wisata, Mandi Safar juga dipercaya dapat menolak bala dengan cara membersihkan diri. Asal usulnya dikaitkan dengan selamatnya kapal Nabi Nuh dari banjir, terbelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa dan Harun, dan Nabi Ibrahim yang terhindari dari api. Semua itu terjadi di Bulan Safar. Untuk “tolak bala” peserta mandi safar biasanya dibekali dengan Daun sawang yang merupakan elemen sakral dalam tradisi ini. Selain digunakan sebagai bagian dari mandi safar Daun Sawang juga digunakan dalam berbagai upacara Agama Kaharingan, seperti “Mamapas Lewu” di Sampit. Disadur dari tulisan : Ummu Rahayu (kotasampit.com)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASRARI PUADI

Mamut Menteng Ureh Utusku. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie